JAKARTA - Kebiasaan makan sering kali dianggap perkara sepele, padahal cara seseorang menikmati makanan memiliki dampak besar bagi kesehatan jangka panjang.
Di tengah gaya hidup serba cepat, tidak sedikit orang yang terbiasa menghabiskan makanan dalam hitungan menit, bahkan sambil melakukan aktivitas lain.
Tanpa disadari, kebiasaan makan terlalu cepat ini dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, mulai dari masalah pencernaan hingga risiko penyakit kronis.
Tubuh manusia sejatinya membutuhkan waktu untuk mengenali rasa kenyang dan memproses makanan dengan optimal. Saat proses ini dipercepat, sistem tubuh bekerja lebih keras dari seharusnya.
Akibatnya, sinyal alami yang seharusnya melindungi tubuh justru tidak berjalan sebagaimana mestinya. Inilah alasan mengapa makan terlalu cepat bukan hanya soal etika makan, melainkan juga menyangkut kesehatan secara menyeluruh.
Sinyal Kenyang Tubuh Bisa Terganggu
Lambung membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk mengirimkan sinyal ke otak bahwa tubuh telah menerima asupan makanan yang cukup.
Ketika seseorang makan dengan sangat cepat, proses pengiriman sinyal ini belum sempat berjalan optimal. Akibatnya, seseorang cenderung terus makan meskipun kebutuhan energi tubuh sebenarnya telah terpenuhi.
Kondisi ini membuat porsi makanan yang dikonsumsi menjadi lebih banyak daripada yang dibutuhkan tubuh. Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat memicu penumpukan energi berlebih yang disimpan dalam bentuk lemak. Tanpa disadari, makan cepat justru membuat seseorang sulit mengontrol asupan makanan hariannya.
Dampak pada Sistem Pencernaan
Makan terlalu cepat juga berdampak langsung pada sistem pencernaan. Ketika makanan masuk ke dalam tubuh tanpa proses mengunyah yang cukup, kerja lambung menjadi lebih berat. Makanan yang tidak dikunyah dengan baik akan sulit dicerna dan berpotensi menimbulkan berbagai keluhan.
Beberapa masalah yang kerap muncul akibat kebiasaan ini antara lain perut kembung, gas berlebih, mulas, hingga kram perut. Selain itu, rasa terlalu kenyang yang muncul setelah makan cepat sering kali menimbulkan ketidaknyamanan dan mengganggu aktivitas. Pencernaan yang tidak optimal juga dapat memengaruhi penyerapan zat gizi yang dibutuhkan tubuh.
Kaitan dengan Berat Badan dan Metabolisme
Orang yang terbiasa makan dengan cepat cenderung mengonsumsi porsi lebih besar dan lebih sering ngemil. Hal ini berkaitan erat dengan terganggunya sinyal kenyang yang seharusnya membantu mengontrol nafsu makan. Akibatnya, risiko kenaikan berat badan menjadi lebih tinggi.
Selain itu, kebiasaan makan cepat juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko sindrom metabolik. Sindrom ini merupakan kumpulan kondisi kesehatan seperti tekanan darah tinggi, lemak perut berlebih, kolesterol tinggi, serta gangguan gula darah. Jika tidak dikendalikan, sindrom metabolik dapat meningkatkan risiko penyakit serius seperti penyakit jantung, stroke, dan diabetes.
Dalam konteks diabetes tipe 2, makan cepat dalam waktu kurang dari 20 menit disebut meningkatkan kemungkinan terkena penyakit tersebut dibandingkan dengan orang yang meluangkan waktu makan lebih lama, sekitar 30 menit atau lebih. Hal ini menunjukkan bahwa kecepatan makan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan metabolisme tubuh.
Penyerapan Nutrisi dan Risiko Tersedak
Kebiasaan makan terlalu cepat juga berdampak pada proses penyerapan nutrisi. Saat seseorang tidak mengunyah makanan dengan cukup, tubuh kesulitan menyerap vitamin, mineral, dan zat gizi lainnya secara maksimal. Padahal, proses mengunyah merupakan tahap awal yang sangat penting dalam pencernaan.
Selain itu, makan terburu-buru meningkatkan risiko tersedak. Mengunyah perlahan dan mengambil gigitan yang lebih kecil dapat membantu mencegah makanan masuk ke saluran napas. Risiko tersedak ini sering kali dianggap sepele, padahal dapat berbahaya, terutama bagi anak-anak dan lansia.
Mengunyah secara perlahan juga membantu tubuh menikmati rasa makanan dengan lebih baik. Dengan begitu, kepuasan makan meningkat tanpa harus menambah porsi. Cara sederhana ini dapat menjadi langkah awal untuk memperbaiki kebiasaan makan sehari-hari.
Makan bukan sekadar aktivitas untuk mengisi perut, melainkan bagian dari proses menjaga keseimbangan tubuh. Meluangkan waktu untuk makan dengan tenang, mengunyah secara perlahan, dan fokus pada makanan yang dikonsumsi dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan. Di tengah kesibukan, memperlambat ritme makan justru menjadi investasi kecil untuk kesehatan jangka panjang.