JAKARTA - Labu siam sering menjadi pilihan sayuran sehari-hari karena mudah diolah dan rasanya netral. Sayuran ini kerap hadir dalam berbagai menu rumahan, mulai dari tumisan sederhana hingga masakan berkuah.
Teksturnya yang renyah namun mudah empuk ketika dimasak membuat labu siam digemari banyak orang dari berbagai usia.
Di balik kesederhanaannya, labu siam menyimpan kandungan gizi yang cukup lengkap. Sayuran ini berasal dari keluarga Cucurbitaceae dan dikenal kaya akan vitamin, mineral, serta serat. Tak heran jika labu siam sering direkomendasikan sebagai bagian dari pola makan sehat.
Mengutip Shape, dalam sekitar 200 gram labu siam terkandung 9 gram karbohidrat, 1,7 gram protein, serta 3,5 gram serat. Selain itu, labu siam juga mengandung asam folat, magnesium, dan vitamin C yang bermanfaat bagi tubuh. Dengan kandungan tersebut, labu siam dinilai aman dikonsumsi oleh sebagian besar orang.
Meski demikian, bukan berarti labu siam sepenuhnya bebas risiko. Ada beberapa kondisi tertentu yang membuat seseorang perlu lebih berhati-hati saat mengonsumsinya. Bahkan, pada kelompok tertentu, labu siam sebaiknya dihindari atau dikonsumsi dengan pengawasan ekstra.
Kandungan Gizi Dan Manfaat Labu Siam
Labu siam memiliki profil gizi yang mendukung kesehatan tubuh. Kandungan seratnya membantu melancarkan pencernaan dan menjaga kesehatan usus. Vitamin C di dalamnya berperan sebagai antioksidan yang membantu menjaga daya tahan tubuh, sementara magnesium mendukung fungsi otot dan saraf.
Asam folat yang terdapat pada labu siam juga memiliki peran penting, terutama dalam mendukung pembentukan sel dan jaringan baru. Zat ini sering dikaitkan dengan kebutuhan ibu hamil karena mendukung perkembangan otak janin. Oleh sebab itu, labu siam kerap dipandang sebagai sayuran sehat yang cocok dikonsumsi sehari-hari.
Selain direbus, labu siam bisa diolah menjadi berbagai menu, seperti tumisan, sup, hingga lalapan. Proses memasaknya pun relatif singkat sehingga kandungan gizinya tidak banyak hilang. Namun, meskipun manfaatnya cukup beragam, tetap ada batasan bagi sebagian orang dalam mengonsumsi sayuran ini.
Siapa Saja Yang Perlu Membatasi Konsumsi
Secara umum, labu siam tergolong aman dikonsumsi siapa pun. Rasanya yang cenderung netral dan tidak memiliki bau tajam membuatnya fleksibel diolah dalam berbagai masakan. Bahkan, hanya dengan direbus, labu siam sudah bisa menjadi lalapan yang kaya serat.
Namun demikian, ada beberapa kelompok yang disarankan untuk lebih waspada atau bahkan tidak mengonsumsi labu siam. Hal ini bukan tanpa alasan, melainkan berkaitan dengan kondisi tubuh dan potensi reaksi yang bisa muncul setelah konsumsi.
Berikut tiga kelompok orang yang tidak boleh atau perlu sangat berhati-hati saat makan labu siam.
1. Orang dengan alergi labu siam
Melansir Very Well Health, sebagian orang dapat mengalami alergi terhadap labu siam. Reaksi alergi ini tidak hanya muncul setelah dikonsumsi, tetapi juga bisa terjadi saat menyentuh labu siam secara langsung.
Alergi makanan terjadi ketika sistem imun bereaksi berlebihan terhadap zat tertentu. Gejala yang muncul pada penderita alergi labu siam dapat berbeda-beda, mulai dari gatal-gatal, pembengkakan, gangguan pencernaan, hingga masalah pernapasan.
Oleh karena itu, orang yang memiliki riwayat alergi sebaiknya menghindari konsumsi labu siam dan memperhatikan reaksi tubuh jika terpapar.
2. Ibu hamil
Ibu hamil dianjurkan mengonsumsi makanan atau suplemen yang tinggi asam folat. Labu siam memang termasuk salah satu sumber asam folat yang baik dan bermanfaat untuk mendukung pertumbuhan serta perkembangan janin, terutama bagian otak.
Namun, hingga saat ini masih terbatas penelitian yang secara khusus mengkaji efek samping konsumsi labu siam pada ibu hamil. Karena itu, meskipun labu siam memiliki kandungan gizi yang baik, ibu hamil disarankan untuk tidak mengonsumsinya secara berlebihan dan tetap berkonsultasi dengan tenaga kesehatan terkait pola makan yang aman.
3. Bayi
Kelompok lain yang tidak boleh sembarangan mengonsumsi labu siam adalah bayi. Bayi yang berusia di atas enam bulan memang sudah dapat diperkenalkan pada makanan pendamping ASI, termasuk sayuran seperti labu siam.
Meski begitu, labu siam harus diolah hingga teksturnya benar-benar sesuai dengan tahap perkembangan bayi. Pada usia tertentu, labu siam bisa dihaluskan menjadi bubur atau disajikan sebagai finger food ketika bayi sudah lebih besar. Orang tua juga perlu memperhatikan reaksi yang muncul setelah bayi mengonsumsi labu siam.
Reaksi alergi pada bayi biasanya ditandai dengan ruam atau gatal di sekitar mulut. Jika muncul gejala tersebut, sebaiknya hentikan pemberian dan konsultasikan dengan dokter.