Pengembang Properti Incar Peluang Cuan MRT Lintas Timur Barat

Jumat, 06 Februari 2026 | 12:18:45 WIB
Pengembang Properti Incar Peluang Cuan MRT Lintas Timur Barat

JAKARTA - Pengembangan transportasi massal kembali menjadi motor penggerak pertumbuhan kawasan perkotaan di Jabodetabek. 

Setelah keberhasilan jalur Mass Rapid Transit (MRT) Bundaran HI–Lebak Bulus dalam memicu kenaikan nilai properti dan aktivitas ekonomi, rencana perluasan MRT Jakarta Lintas Timur–Barat kini mulai menarik perhatian pelaku industri properti nasional. 

Sejumlah emiten besar tercatat aktif menjajaki peluang kerja sama untuk mengembangkan kawasan di sepanjang koridor baru tersebut.

PT MRT Jakarta (Perseroda) menyampaikan bahwa proyek MRT Lintas Timur–Barat direncanakan memasuki tahap studi untuk Fase 2, dengan rute Kembangan–Balaraja sepanjang sekitar 30 kilometer.

 Jalur ini dinilai strategis karena melintasi sejumlah kawasan pengembangan yang selama ini menjadi kantong pertumbuhan permukiman dan pusat bisnis baru di wilayah barat Jakarta hingga Banten. 

Tidak mengherankan jika rencana ini langsung disambut oleh para pengembang yang memiliki aset di sepanjang lintasan tersebut.

Minat Pengembang Properti Sepanjang Koridor Baru

Sejumlah emiten properti besar tercatat terlibat dalam penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan MRT Jakarta. 

Berdasarkan data yang disampaikan, pihak-pihak yang terlibat antara lain PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA) melalui PT Serpong Cipta Kreasi (Summarecon Serpong) dan PT Serpong Cipta Cahaya (Summarecon Tangerang), PT Alam Sutera Realty Tbk. (ASRI), PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR), PT Intiland Development Tbk. (DILD) melalui PT Sinar Puspapersada, PT Metropolitan Land Tbk. (MTLA) melalui Metropolitan Karyadeka Development (Metland Cyber Putri), serta Paramount Enterprise International.

Ketertarikan para pengembang ini tidak terlepas dari pengalaman sebelumnya di koridor awal MRT Jakarta. Jalur Bundaran HI–Lebak Bulus telah terbukti menjadi magnet pertumbuhan ekonomi, ditandai dengan munculnya pusat perkantoran, kawasan komersial, hunian vertikal, hingga pusat gaya hidup baru di sekitar stasiun-stasiun MRT. Pola serupa diharapkan dapat terulang di jalur Kembangan–Balaraja apabila proyek ini terealisasi sesuai rencana.

Bagi emiten properti, keterlibatan sejak tahap awal memungkinkan mereka menyesuaikan rencana pengembangan kawasan dengan keberadaan transportasi massal, sehingga nilai tambah proyek dapat dioptimalkan dalam jangka panjang.

Tahap Studi Dan Pembentukan Kelompok Kerja

Setelah penjajakan awal melalui penandatanganan MoU, MRT Jakarta bersama para pengembang akan membentuk joint working group. Kelompok kerja ini direncanakan akan bekerja selama dua tahun ke depan untuk menyusun rencana pengembangan jalur Kembangan–Balaraja secara komprehensif.

Ruang lingkup kerja kelompok ini mencakup berbagai aspek, mulai dari perencanaan interkoneksi antarmoda, integrasi kawasan, hingga kajian teknis dan bisnis. 

Tahap ini menjadi krusial karena akan menentukan kelayakan proyek secara menyeluruh, baik dari sisi operasional MRT maupun dari perspektif pengembangan properti di sekitarnya.

Melalui pendekatan kolaboratif, MRT Jakarta berharap pengembangan jalur baru tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi, tetapi juga sebagai katalis pembangunan kawasan berbasis transit oriented development. 

Konsep ini menekankan integrasi antara transportasi publik dan pemanfaatan ruang, sehingga mobilitas masyarakat dapat ditingkatkan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Respons Emiten Dan Pertimbangan Investasi

Dari sisi emiten, keterlibatan dalam proyek MRT Lintas Timur–Barat masih berada pada tahap awal. Direktur PT Metropolitan Land Tbk. 

(MTLA) Olivia Surodjo menyampaikan bahwa partisipasi perseroan saat ini difokuskan pada diskusi awal, khususnya terkait penempatan stasiun MRT di kawasan yang akan dilalui jalur tersebut.

Menurut Olivia, dampak terhadap kinerja perseroan baru dapat diperhitungkan secara lebih jelas ketika proyek memasuki tahap pembangunan. 

“MoU ini merupakan langkah awal diskusi mengenai penempatan stasiun MRT dengan mempertimbangkan efisiensi dan efektivitas interkoneksi kawasan. Belum ada angka investasi yang bersifat mengikat,” ujarnya.

Pernyataan tersebut mencerminkan sikap hati-hati para pengembang dalam menyikapi proyek jangka panjang. Meski potensi keuntungan dari pengembangan kawasan di sekitar MRT cukup besar, keputusan investasi tetap akan didasarkan pada hasil kajian teknis dan bisnis yang matang.

Dampak Jangka Panjang Terhadap Kawasan Barat

Rencana pengembangan MRT Lintas Timur–Barat hingga Balaraja berpotensi mengubah lanskap kawasan barat Jakarta dan sekitarnya. Dengan tersedianya transportasi massal yang andal, konektivitas antarwilayah diharapkan meningkat secara signifikan, sehingga beban lalu lintas jalan raya dapat ditekan.

Bagi kawasan seperti Tangerang dan Balaraja, kehadiran MRT dapat menjadi pendorong percepatan urbanisasi yang lebih terarah. Integrasi antara hunian, kawasan komersial, dan akses transportasi publik membuka peluang terciptanya pusat-pusat ekonomi baru yang lebih berkelanjutan.

Di sisi lain, kolaborasi antara MRT Jakarta dan para pengembang menunjukkan pergeseran pendekatan pembangunan kota menuju sinergi antara sektor publik dan swasta. Apabila proses studi dan perencanaan berjalan lancar, proyek ini tidak hanya menghadirkan jalur transportasi baru, tetapi juga membentuk pola pertumbuhan kawasan yang lebih terintegrasi dan efisien.

Terkini