Proyek Hilirisasi Bauksit MIND ID Ditarget Rampung Tahun 2028

Senin, 09 Februari 2026 | 09:07:51 WIB
Proyek Hilirisasi Bauksit MIND ID Ditarget Rampung Tahun 2028

JAKARTA - Penguatan industri hilir terus menjadi fokus pemerintah dalam mendorong kemandirian ekonomi nasional.

 Salah satu langkah strategis yang kini memasuki tahap penting adalah proyek hilirisasi bauksit menjadi alumina dan aluminium yang digarap oleh grup MIND ID. Proyek bernilai investasi besar ini diyakini akan menjadi fondasi penting bagi pengembangan industri berbasis mineral di Indonesia.

Setelah dilakukannya peresmian peletakan batu pertama proyek tersebut di Mempawah, Kalimantan Barat, BPI Danantara Indonesia atau Danantara Indonesia menyampaikan target penyelesaian proyek pada 2028. 

Proyek ini dikerjakan oleh dua anggota MIND ID, yakni PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) dan PT Aneka Tambang Tbk (Antam), sebagai bagian dari komitmen mempercepat agenda hilirisasi nasional.

Target Penyelesaian Proyek Hilirisasi Bauksit

Chief Operating Officer Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menjelaskan bahwa proyek hilirisasi bauksit tersebut diharapkan dapat diselesaikan dalam kurun waktu dua tahun. Dengan demikian, seluruh infrastruktur energi yang dibutuhkan untuk mendukung operasional dapat siap digunakan sesuai target.

“Kita harapkan ini akan selesai dalam jangka waktu dua tahun, sehingga pada 2028 seluruh infrastruktur energi sudah siap mendukung operasional,” ujar Dony Oskaria.

Proyek ini dikerjakan melalui perusahaan patungan Inalum dan Antam, yaitu PT Borneo Alumina Indonesia (PT BAI). Total nilai investasi yang dikucurkan mencapai US$6,32 miliar atau setara dengan Rp104,55 triliun. 

Nilai investasi tersebut mencerminkan skala proyek yang besar sekaligus menunjukkan keseriusan negara dalam mengoptimalkan sumber daya mineral dalam negeri.

Kolaborasi Bumn Perkuat Rantai Pasok Energi

Dalam pelaksanaannya, proyek hilirisasi bauksit ini tidak hanya melibatkan Inalum dan Antam. Keduanya juga menggandeng PT Bukit Asam Tbk (PTBA) untuk memasok batubara yang akan digunakan sebagai sumber energi listrik bagi smelter alumina dan aluminium.

Kolaborasi antarbadan usaha milik negara ini diharapkan dapat memperkuat rantai pasok energi sekaligus memastikan keberlanjutan operasional fasilitas pengolahan. Dengan dukungan pasokan energi yang terjamin, proses hilirisasi diharapkan dapat berjalan optimal dan efisien.

Agenda peresmian proyek mencakup dua fasilitas utama yang menjadi inti pengolahan bauksit. Fasilitas pertama adalah pengolahan dan pemurnian bauksit menjadi alumina atau Smelter Grade Alumina Refinery Fase 2 yang berlokasi di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan target Commercial Operation Date pada 2028. 

Fasilitas kedua adalah pengolahan dan pemurnian alumina menjadi aluminium atau smelter aluminium baru di lokasi yang sama, dengan target operasi komersial pada kuartal pertama 2029.

Hilirisasi Jadi Prioritas Strategis Nasional

CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa program hilirisasi merupakan agenda strategis yang menjadi prioritas Presiden Republik Indonesia. 

Menurutnya, proyek-proyek hilirisasi ini diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi perekonomian nasional sejak tahap awal pelaksanaan.

“Tahap awal proyek-proyek ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang nyata bagi perekonomian Indonesia, baik melalui penciptaan nilai tambah industri maupun penyerapan tenaga kerja. Ke depan, proyek-proyek hilirisasi ini diharapkan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, berkelanjutan, dan berdaya saing global,” ujar Rosan.

Ia menilai hilirisasi mineral tidak hanya soal meningkatkan nilai tambah, tetapi juga tentang memperkuat struktur industri nasional agar tidak bergantung pada ekspor bahan mentah. Dengan pengolahan di dalam negeri, Indonesia dapat meningkatkan daya saing produk mineral di pasar global.

Dampak Ekonomi Dan Nilai Tambah Jangka Panjang

Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, menekankan pentingnya aluminium sebagai material strategis abad ke-21. 

Aluminium memiliki peran krusial dalam berbagai sektor, mulai dari transportasi, energi terbarukan, konstruksi, industri pertahanan, hingga teknologi hijau.

“Tanpa adanya hilirisasi aluminium, Indonesia akan terus berada pada posisi sebagai pasar, bukan sebagai produsen. Melalui program hilirisasi ini, kita memastikan bauksit yang ditambang di dalam negeri, khususnya yang ada di provinsi Kalimantan Barat, diproses, kemudian dimurnikan, dan diubah menjadi produk bernilai tinggi,” jelas Maroef.

Ia menambahkan bahwa proyek ini berpotensi menimbulkan dampak ekonomi dengan multiplier effect jangka panjang. Dampak tersebut diperkirakan dapat meningkatkan output ekonomi domestik secara signifikan, dengan proyeksi peningkatan produk domestik bruto sekitar Rp71,8 triliun per tahun.

Selain itu, proyek hilirisasi bauksit ini juga diperkirakan mampu memperkuat penerimaan negara. Potensi tambahan penerimaan negara diproyeksikan mencapai sekitar Rp6,6 triliun per tahun. 

Dari sisi ketenagakerjaan, proyek ini berpeluang menyerap sekitar 65 ribu tenaga kerja, baik secara langsung maupun tidak langsung, mulai dari tahap konstruksi, operasional, hingga sektor pendukung lainnya.

Dengan nilai investasi yang besar, dukungan lintas BUMN, serta potensi dampak ekonomi yang luas, proyek hilirisasi bauksit MIND ID di Mempawah diharapkan menjadi salah satu pilar utama transformasi industri mineral nasional menuju ekonomi bernilai tambah dan berkelanjutan.

Terkini