JAKARTA - Prospek industri asuransi nasional pada tahun mendatang dinilai masih berada di jalur pertumbuhan yang positif, meski dihadapkan pada berbagai tantangan struktural dan dinamika pasar keuangan global.
Otoritas Jasa Keuangan atau OJK melihat adanya ruang ekspansi yang cukup sehat, seiring dengan upaya industri memperkuat fundamental bisnis dan meningkatkan penetrasi ke masyarakat.
Dalam proyeksinya, OJK memperkirakan aset industri asuransi dapat tumbuh sekitar 5% hingga 7% secara year on year pada 2026. Proyeksi ini muncul di tengah kebutuhan industri untuk terus beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen, perkembangan teknologi digital, serta tuntutan regulasi yang semakin ketat.
Pengamat Asuransi Wahyudin Rahman menilai proyeksi tersebut bukanlah angka yang berlebihan. Menurutnya, kinerja historis industri asuransi menunjukkan tren pertumbuhan yang relatif konsisten dalam beberapa tahun terakhir. Dengan catatan, stabilitas ekonomi makro tetap terjaga dan pelaku industri mampu menjaga momentum pengembangan bisnisnya.
Proyeksi Pertumbuhan Aset Asuransi
Wahyudin menjelaskan bahwa optimismenya terhadap proyeksi OJK didasarkan pada data pertumbuhan aset industri asuransi selama lima tahun terakhir. Dalam periode tersebut, rata-rata pertumbuhan aset industri tercatat mampu mencapai sekitar 7,3%.
Capaian ini menunjukkan bahwa industri memiliki fondasi yang cukup kuat untuk mempertahankan laju pertumbuhan di tengah berbagai tekanan.
Ia menambahkan bahwa realisasi proyeksi tersebut sangat bergantung pada kondisi makroekonomi. Selama stabilitas ekonomi tetap terjaga, industri asuransi dinilai masih memiliki ruang untuk berkembang secara berkelanjutan. Selain faktor makro, kemampuan industri dalam berinovasi dan memperluas pangsa pasar juga menjadi penentu utama.
“Selain itu, industri mampu menjaga pertumbuhan dengan peningkatan pangsa pasar baru, booster literasi asuransi, pengunaan digitalisasi, serta ekspansi ke sektor riil,” ungkapnya.
Pendekatan ini dinilai penting mengingat tingkat penetrasi asuransi di Indonesia masih relatif rendah dibandingkan negara lain di kawasan. Oleh karena itu, upaya memperluas basis nasabah menjadi kunci dalam mendorong pertumbuhan aset secara jangka panjang.
Strategi Penguatan Bisnis Industri
Untuk mendorong pertumbuhan aset pada tahun berjalan, Wahyudin menilai industri asuransi perlu fokus pada penguatan portofolio bisnis yang berkelanjutan. Salah satu langkah yang dapat ditempuh adalah menghadirkan inovasi produk yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
Produk asuransi berbasis kebutuhan nyata dinilai dapat meningkatkan minat masyarakat, sekaligus memperkuat kepercayaan terhadap industri. Selain itu, optimalisasi kanal distribusi digital juga menjadi strategi penting, seiring dengan meningkatnya adopsi teknologi di berbagai lapisan masyarakat.
Tidak hanya itu, peningkatan kualitas underwriting dan manajemen investasi turut menjadi faktor krusial. Pengelolaan risiko yang lebih baik akan membantu industri menjaga kinerja keuangan, terutama di tengah fluktuasi pasar keuangan yang masih berlanjut.
“Ditambah, memperluas penetrasi asuransi ke sektor hijau dan dukungan kepada program pemerintah,” ujarnya.
Langkah tersebut dinilai sejalan dengan arah kebijakan pembangunan nasional, sekaligus membuka peluang baru bagi industri asuransi untuk berkontribusi dalam pembiayaan sektor-sektor strategis.
Tantangan Yang Masih Dihadapi
Meski prospek pertumbuhan aset dinilai positif, Wahyudin mengingatkan bahwa industri asuransi tetap menghadapi sejumlah tantangan yang tidak ringan. Persaingan antar pelaku usaha yang semakin ketat menjadi salah satu faktor yang dapat menekan kinerja industri.
Selain itu, dinamika pasar keuangan global turut memengaruhi hasil investasi perusahaan asuransi. Tekanan pada imbal hasil investasi berpotensi berdampak pada profitabilitas, terutama bagi lini bisnis tertentu yang sangat bergantung pada kinerja pasar.
Tingginya klaim pada beberapa segmen asuransi juga menjadi tantangan tersendiri. Kondisi ini menuntut perusahaan untuk semakin cermat dalam melakukan seleksi risiko dan pengelolaan portofolio.
Masalah lain yang masih dihadapi adalah rendahnya tingkat literasi dan kepercayaan masyarakat terhadap produk asuransi. Hal ini menjadi pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan melalui edukasi berkelanjutan dan peningkatan transparansi kepada nasabah.
“Penyesuaian terhadap regulasi dan tata kelola yang makin ketat juga menuntut kesiapan permodalan dan operasional industri,” ucap Wahyudin.
Gambaran Aset Asuransi Nasional
Berdasarkan data OJK, total aset asuransi komersil tercatat mencapai Rp981,05 triliun per akhir 2025. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 7,42% secara year on year, mencerminkan ketahanan industri di tengah berbagai tantangan.
Sementara itu, untuk asuransi non komersil yang meliputi BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, serta program asuransi bagi ASN, TNI, dan POLRI, total aset tercatat sebesar Rp220,28 triliun. Namun, pada segmen ini terjadi kontraksi sebesar 0,12% secara year on year pada periode yang sama.
Data tersebut menggambarkan adanya perbedaan dinamika antara asuransi komersil dan non komersil. Ke depan, penguatan koordinasi kebijakan serta inovasi layanan diharapkan dapat mendorong kinerja industri asuransi secara lebih merata.
Dengan kombinasi strategi yang tepat dan dukungan stabilitas ekonomi, proyeksi pertumbuhan aset industri asuransi pada 2026 dinilai memiliki peluang besar untuk tercapai.