PLN Pastikan Pasokan Batu Bara Cukup hingga Akhir Agustus

Rabu, 04 Maret 2026 | 12:12:45 WIB
PLN Pastikan Pasokan Batu Bara Cukup hingga Akhir Agustus

JAKARTA - PT PLN (Persero) menegaskan bahwa pasokan batu bara untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di seluruh Indonesia dipastikan dalam kondisi aman hingga akhir Agustus 2026. 

Hal ini menyusul kepastian yang diperoleh dari delapan pemasok utama batu bara yang telah menyepakati kontrak pasokan total 84 juta metrik ton. Pasokan ini diperkirakan cukup untuk kebutuhan PLN maupun Independent Power Producer (IPP).

Direktur Manajemen Pembangkitan PLN, Rizal Calvary Marimbo, mengungkapkan bahwa tambahan kontrak sebesar 40 juta metrik ton juga sedang dalam proses, yang semakin memperkuat kestabilan pasokan batu bara untuk pembangkit listrik. 

“Ketersediaan batu bara sangat memadai karena kami telah mendapatkan kepastian penugasan dari 8 pemasok utama untuk PLN dan IPP,” ujar Calvary.

Kepastian Pasokan Batu Bara Melalui Pemasok Terpercaya

8 perusahaan batu bara yang telah berkontrak dengan PLN, yakni PT Adaro Indonesia, PT Arutmin Indonesia, PT Berau Coal, PT Kaltim Prima Coal, PT Kideco Jaya Agung, PT Multi Harapan Utama, Indominco Harapan Mandiri, dan PT Bukit Asam Tbk, dipastikan tidak terdampak penyesuaian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pada tahun ini. 

Dengan pasokan batu bara yang mencapai 84 juta metrik ton, PLN optimis bahwa kebutuhan batu bara untuk pembangkit listrik dapat terpenuhi tanpa ada gangguan hingga pertengahan tahun 2026.

Rizal menambahkan bahwa pasokan batu bara ini juga akan terus diperbaharui untuk menjaga kelangsungan operasi pembangkit listrik, termasuk memastikan distribusi batu bara ke seluruh pembangkit tepat waktu, terutama menjelang libur Lebaran yang diprediksi akan meningkatkan konsumsi energi. 

“Kami berharap batu bara sudah sampai ke seluruh pembangkit sebelum Lebaran,” jelasnya.

Mengatasi Isu Hari Operasi Produksi Batu Bara

Sebelumnya, sempat beredar isu mengenai penurunan hari operasi produksi (HOP) batu bara yang hanya tersisa 10 hari dari ideal 25 hari. Menanggapi hal tersebut, Rizal menegaskan bahwa kondisi ini tidak perlu dipandang sebagai keadaan darurat. HOP bersifat dinamis dan tidak selalu tetap, yang penting adalah kestabilan pasokan batu bara yang mengalir secara teratur.

 "Kalau rata-rata HOP 10 hari tapi stabil, itu tidak bermasalah, yang terpenting adalah pasokan terus mengalir dengan lancar," jelasnya.

Menurutnya, penurunan stok batu bara di awal tahun bukanlah hal yang aneh. Beberapa faktor yang mempengaruhi hal ini antara lain aturan baru yang diterapkan pemerintah, kondisi cuaca yang bisa memengaruhi distribusi batu bara, serta siklus administratif yang harus dilalui oleh para pemasok sebelum batu bara sampai ke pembangkit listrik.

Penyediaan Batu Bara untuk Kebutuhan Nasional

Rizal juga menyoroti pentingnya alokasi Domestic Market Obligation (DMO) yang sudah ditetapkan pemerintah, yang tahun ini mencapai sekitar 124 juta metrik ton dari total produksi batu bara nasional sebesar 600 juta ton per tahun. 

Dari jumlah tersebut, 84 juta metrik ton ditujukan untuk PLN, dengan tambahan 40 juta metrik ton yang sedang diproses untuk kontrak lanjutan, menjamin pasokan batu bara PLN sepanjang tahun 2026.

Berdasarkan data tersebut, PLN memastikan bahwa pasokan batu bara untuk PLTU sudah cukup terjamin dan tidak ada potensi gangguan yang dapat menyebabkan pemadaman besar. 

“DMO untuk PLN mencapai 84 juta metrik ton, ditambah dengan tambahan 40 juta ton, akan mencukupi kebutuhan pasokan batu bara untuk tahun ini,” imbuhnya. Dengan begitu, PLN dapat memastikan kestabilan pasokan listrik bagi masyarakat Indonesia.

Terkini