JAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengambil langkah strategis untuk meningkatkan cakupan imunisasi campak di Indonesia dengan fokus utama pada edukasi publik.
Salah satu kendala utama dalam upaya ini adalah maraknya misinformasi yang beredar, terutama di media sosial, yang menyebabkan penolakan terhadap imunisasi.
Seiring dengan itu, Kemenkes juga melaksanakan program Outbreak Response Immunization (ORI) dan Imunisasi Kejar Serentak untuk menanggulangi wabah campak yang semakin meningkat.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, mengungkapkan bahwa penurunan cakupan imunisasi secara signifikan berdampak pada peningkatan jumlah kasus campak di Indonesia.
"Pada tahun 2025, Kejadian Luar Biasa (KLB) campak dilaporkan terjadi di 87 kabupaten/kota. Sementara pada tahun 2026, KLB terjadi di 24 kabupaten/kota," katanya.
Data terbaru juga mencatatkan peningkatan jumlah suspek campak, dengan 63.769 kasus pada 2025 dan 8.810 pada 2026. Meskipun jumlah kematian menurun, dengan 67 orang meninggal pada 2025 dan 5 orang pada 2026, namun Aji mengingatkan bahwa campak tetap merupakan penyakit yang sangat menular dan berisiko menimbulkan komplikasi hingga kematian.
Misinformasi Imunisasi dan Dampaknya
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Kemenkes adalah maraknya misinformasi mengenai imunisasi, khususnya campak, yang beredar di media sosial. Berita-berita tidak jelas kebenarannya ini sering kali menimbulkan kebingungan dan ketakutan di kalangan masyarakat.
Akibatnya, banyak orang tua yang menunda atau bahkan menolak untuk memberikan imunisasi pada anak mereka, yang pada gilirannya meningkatkan risiko penyebaran penyakit campak.
Kemenkes berupaya untuk melawan hoaks ini dengan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya imunisasi. Mereka juga menggencarkan edukasi melalui berbagai platform informasi, termasuk media sosial, serta berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait, seperti organisasi keagamaan dan lembaga pemerintah lainnya.
"Imunisasi adalah langkah paling efektif untuk mencegah penyakit campak. Kami mengimbau agar masyarakat tidak mudah percaya atau menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya, terutama terkait dengan isu-isu yang menentang imunisasi," kata Aji Muhawarman.
Ia juga menekankan pentingnya memperoleh informasi yang valid dari sumber resmi seperti Dinas Kesehatan setempat dan Kemenkes.
Langkah Kemenkes dengan Outbreak Response Immunization
Sebagai bagian dari upaya penanggulangan wabah campak, Kemenkes melaksanakan program Outbreak Response Immunization (ORI) di seluruh kabupaten/kota yang mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB).
Program ini bertujuan untuk mempercepat cakupan imunisasi di daerah-daerah yang terdampak campak. ORI dilaksanakan di wilayah yang mengalami lonjakan kasus campak pada tahun 2026, untuk memastikan bahwa anak-anak di daerah tersebut terlindungi dari penyakit menular ini.
Salah satu daerah yang mengalami KLB campak adalah Kota Medan, yang tercatat sebagai wilayah dengan kasus campak yang sangat tinggi selama dua tahun berturut-turut. Selain itu, kabupaten/kota lain seperti Deli Serdang, Padang, Garut, dan Sleman juga menjadi lokasi fokus program ORI.
Imunisasi campak melalui ORI dilakukan dengan cara melakukan vaksinasi masal kepada anak-anak, terutama yang belum mendapatkan vaksin sebelumnya. Aji Muhawarman menjelaskan bahwa program ORI ini merupakan bentuk respons cepat terhadap penyebaran penyakit dan untuk menghindari lebih banyaknya korban akibat campak.
Peran Kesadaran Orang Tua dan Imunisasi Kejar Serentak
Kesadaran orang tua sangat penting dalam mencegah penyebaran campak. Ketika anak mulai menunjukkan gejala seperti demam dan ruam, orang tua harus segera membawa anak ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pertolongan medis. Semakin cepat penanganan dilakukan, semakin kecil risiko terjadinya komplikasi yang berbahaya.
Untuk menanggulangi peningkatan kasus campak yang terus berlanjut, Kemenkes juga melaksanakan Imunisasi Kejar Serentak (Catch Up Campaign).
Program ini bertujuan untuk mengejar ketertinggalan cakupan imunisasi di daerah-daerah yang sebelumnya mengalami penurunan angka imunisasi.
Imunisasi Kejar Serentak dilaksanakan pada bulan Maret 2026, khususnya di kabupaten/kota yang pernah mengalami KLB pada tahun 2025 atau yang mengalami peningkatan suspek campak.
"Imunisasi Kejar Serentak ini diharapkan dapat mempercepat pencapaian cakupan imunisasi yang optimal di seluruh wilayah Indonesia, dengan tujuan utama mencegah penyebaran campak lebih lanjut," ujar Aji.
Kemenkes terus berupaya untuk mengedukasi masyarakat tentang manfaat imunisasi, baik melalui media sosial, website, maupun kegiatan sosialisasi langsung dengan melibatkan organisasi-organisasi masyarakat dan lembaga keagamaan.
Selain itu, Kemenkes juga menggencarkan koordinasi dengan berbagai kementerian dan lembaga pemerintah untuk mendukung pelaksanaan program imunisasi.
Imunisasi Campak dan Kesehatan Masyarakat
Pentingnya imunisasi campak bagi kesehatan masyarakat tidak bisa dipandang sebelah mata. Campak adalah penyakit yang sangat menular, dan tanpa imunisasi, angka kejadian dan komplikasi dapat meningkat secara drastis.
Oleh karena itu, Kemenkes terus mendorong agar masyarakat tetap menjaga kepatuhan terhadap program imunisasi, meskipun ada berbagai informasi yang salah atau menyesatkan yang beredar.
Masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam menerima informasi dan tidak mudah terpengaruh oleh hoaks yang tidak memiliki dasar ilmiah. Kemenkes juga mengajak semua pihak untuk bersatu dalam memerangi penyebaran penyakit menular seperti campak, melalui edukasi dan vaksinasi yang tepat waktu.