Cinema XXI Catat Pendapatan Rp5,86 Triliun Sepanjang Tahun 2025

Jumat, 06 Maret 2026 | 13:38:28 WIB
Cinema XXI Catat Pendapatan Rp5,86 Triliun Sepanjang Tahun 2025

JAKARTA - Industri hiburan layar lebar di Indonesia masih menunjukkan daya tahan di tengah berbagai tantangan ekonomi sepanjang 2025. Minat masyarakat untuk menonton film di bioskop tetap tinggi, terlihat dari jumlah penonton yang mencapai puluhan juta orang sepanjang tahun.

 Kondisi tersebut turut memengaruhi kinerja perusahaan pengelola jaringan bioskop terbesar di Tanah Air, yaitu PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk yang dikenal sebagai operator jaringan Cinema XXI.

Perusahaan dengan kode saham CNMA itu mencatat pertumbuhan pendapatan sepanjang tahun buku 2025. Walau demikian, di saat yang sama laba bersih perusahaan justru mengalami sedikit penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Hal tersebut menunjukkan adanya dinamika biaya operasional serta investasi ekspansi yang masih memengaruhi kinerja keuangan perusahaan.

Manajemen perusahaan menilai bahwa kondisi industri hiburan tetap memiliki prospek positif, terutama dengan meningkatnya kualitas pengalaman menonton serta berkembangnya fasilitas bioskop premium di berbagai daerah. Selain itu, pengembangan bisnis makanan dan minuman juga menjadi salah satu pendorong penting dalam meningkatkan pendapatan perusahaan.

Sepanjang 2025, perusahaan juga terus memperluas jaringan bioskop di berbagai wilayah Indonesia. Ekspansi ini dilakukan untuk memperluas akses masyarakat terhadap hiburan layar lebar sekaligus memperkuat posisi perusahaan sebagai pemimpin industri bioskop nasional.

Berikut rangkuman kinerja keuangan serta strategi pengembangan bisnis yang dijalankan perusahaan selama 2025.

Kinerja Pendapatan dan Jumlah Penonton Sepanjang Tahun

Emiten pengelola jaringan bioskop Cinema XXI, yakni PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk, mencatat pendapatan sebesar Rp5,86 triliun sepanjang tahun 2025. Angka tersebut meningkat 2,60 persen dibandingkan periode sebelumnya secara tahunan atau year on year.

Direktur Utama Cinema XXI, Suryo Suherman, mengatakan bahwa perusahaan tetap mampu menjaga kinerja bisnis di tengah dinamika ekonomi maupun industri hiburan.

"Kepercayaan dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan menjadi penguat utama dalam menjaga kinerja perusahaan,” ujarnya.

Sepanjang 2025, Cinema XXI berhasil mencatatkan total 85 juta penonton di seluruh jaringan bioskopnya. Angka tersebut menunjukkan bahwa minat masyarakat untuk menonton film di bioskop masih sangat kuat.

Selain jumlah penonton yang besar, perusahaan juga mencatat pertumbuhan Average Ticket Price atau ATP sebesar 3,0 persen. Nilai ATP tersebut meningkat menjadi Rp46.057 per tiket.

Kenaikan harga rata-rata tiket ini dipengaruhi oleh meningkatnya okupansi pada studio premium, seperti The Premiere dan IMAX®, yang menawarkan pengalaman menonton lebih eksklusif bagi penonton.

Strategi Penguatan Segmen Makanan dan Minuman

Selain penjualan tiket, perusahaan juga memperkuat kontribusi pendapatan dari segmen makanan dan minuman atau food and beverage (F&B). Segmen ini menjadi salah satu strategi utama dalam meningkatkan pengalaman pelanggan saat menonton film di bioskop. Sepanjang tahun 2025, Cinema XXI berhasil mengembangkan lebih dari 30 menu baru yang tersedia di XXI Café dan The Premiere Café.

Pengembangan menu tersebut dilakukan dengan memperhatikan tren konsumsi serta preferensi pasar yang terus berubah. Inovasi produk makanan dan minuman juga diharapkan mampu meningkatkan daya tarik fasilitas bioskop secara keseluruhan.

Hasilnya, rata-rata belanja makanan dan minuman per penonton atau spend per head meningkat sebesar 5,9 persen sepanjang tahun 2025.

Nilai tersebut mencapai Rp25.814 per penonton. Angka ini mencerminkan bahwa kontribusi segmen F&B semakin penting dalam menopang pendapatan perusahaan di luar penjualan tiket.

Peningkatan tersebut juga menunjukkan bahwa pengalaman menonton di bioskop tidak hanya bergantung pada film yang ditayangkan, tetapi juga pada kenyamanan serta fasilitas yang disediakan bagi pengunjung.

Ekspansi Bioskop ke Berbagai Wilayah Indonesia

Untuk memperluas jangkauan pasar, perusahaan juga terus melakukan ekspansi jaringan bioskop ke berbagai daerah di Indonesia. Sepanjang 2025, perusahaan meresmikan 12 bioskop baru serta menambah 43 layar tambahan.

Ekspansi ini mencakup kehadiran perdana Cinema XXI di beberapa wilayah baru. Beberapa daerah yang kini memiliki bioskop Cinema XXI antara lain Indramayu, Pematangsiantar, Magelang, Tuban, serta Kota Metro di Lampung.

Hingga 31 Desember 2025, perusahaan tercatat telah mengoperasikan 1.388 layar yang tersebar di 267 bioskop. Jaringan tersebut berada di 56 kota dan 30 kabupaten di seluruh Indonesia.

Menurut Suryo Suherman, ekspansi tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk meningkatkan akses hiburan berkualitas bagi masyarakat di berbagai daerah.

“Ekspansi jaringan yang kami lakukan sepanjang tahun 2025 merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk memperluas akses hiburan berkualitas di berbagai wilayah Indonesia. Ke depan, kami akan terus mengakselerasi penambahan layar baru secara selektif, dengan tetap menjaga kualitas layanan,” katanya.

Rincian Laba dan Kondisi Keuangan Perusahaan

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, pendapatan CNMA sebesar Rp5,86 triliun sebagian besar berasal dari penjualan tiket bioskop. Pendapatan dari tiket tercatat mencapai Rp3,56 triliun, meningkat 0,59 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, pendapatan dari penjualan makanan dan minuman mencapai Rp1,99 triliun atau meningkat 3,35 persen secara tahunan.

Sisa pendapatan perusahaan berasal dari berbagai sumber lain seperti iklan, platform digital, penyelenggaraan acara, serta layanan pendukung lainnya. Di sisi lain, total beban dan biaya operasi perusahaan juga mengalami peningkatan sebesar 3,39 persen secara tahunan menjadi Rp4,83 triliun.

Setelah dikurangi berbagai beban lainnya, laba usaha perusahaan tercatat sebesar Rp1,05 triliun atau turun 0,51 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Perusahaan kemudian membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp704,75 miliar. Angka ini turun 3,32 persen secara tahunan.

Dari sisi neraca, total aset perusahaan tercatat sebesar Rp6,76 triliun pada akhir 2025, turun 3,50 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Sementara itu, liabilitas perusahaan tercatat sebesar Rp2,42 triliun atau meningkat tipis 0,65 persen. Ekuitas perusahaan berada pada posisi Rp4,33 triliun setelah mengalami penurunan sebesar 5,57 persen secara tahunan.

Meski laba mengalami sedikit penurunan, perusahaan tetap optimistis terhadap prospek industri bioskop di Indonesia. Dengan strategi ekspansi jaringan serta penguatan pengalaman pelanggan, perusahaan berharap dapat terus menjaga pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang.

Terkini