JAKARTA - Peningkatan kualitas pendidikan menjadi salah satu agenda penting dalam pembangunan sumber daya manusia di Indonesia.
Tantangan literasi dan numerasi yang masih dihadapi banyak siswa menunjukkan bahwa upaya peningkatan mutu pembelajaran perlu terus diperkuat melalui berbagai pendekatan yang inovatif dan kolaboratif.
Dalam konteks tersebut, perguruan tinggi dinilai memiliki peran strategis untuk membantu mencari solusi terhadap persoalan pendidikan dasar yang masih dihadapi masyarakat.
Kampus tidak hanya berfungsi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai lembaga yang mampu menghadirkan gagasan serta program nyata untuk meningkatkan kualitas pendidikan di berbagai daerah.
Upaya memperkuat literasi dan numerasi juga menjadi bagian dari langkah besar dalam membangun generasi yang memiliki kemampuan berpikir kritis, memahami informasi dengan baik, serta mampu menghadapi tantangan perkembangan zaman.
Karena itu, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat menjadi sangat penting untuk menciptakan gerakan pendidikan yang berdampak luas.
Dorongan Pembentukan Konsorsium Literasi Dan Numerasi
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan mendorong perguruan tinggi di Indonesia dalam membentuk konsorsium riset intervensi literasi dan numerasi Indonesia sebagai langkah penyelesaian persoalan literasi dan numerasi.
Hal tersebut didorong oleh Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang dirilis oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang menunjukkan bahwa tujuh dari sepuluh siswa Indonesia masih berada di bawah tingkat kemahiran minimum dalam literasi membaca dan matematika.
Data tersebut menunjukkan bahwa tantangan pendidikan di Indonesia masih cukup besar, khususnya dalam hal kemampuan dasar membaca dan berhitung. Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah karena literasi dan numerasi merupakan fondasi penting dalam proses pembelajaran di semua jenjang pendidikan.
Melalui pembentukan konsorsium riset, perguruan tinggi diharapkan dapat berkolaborasi dalam merancang berbagai program intervensi yang dapat membantu meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa di berbagai wilayah Indonesia.
Tantangan Pembelajaran Di Lingkungan Sekolah
"Kadang anak hadir secara fisik di sekolah, tetapi tidak benar-benar hadir secara psikologis dalam proses pembelajaran. Mereka datang membawa tas dan buku, tetapi tidak mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna. Karena itu, kami berharap perguruan tinggi dapat membentuk konsorsium untuk menghadirkan program-program yang benar-benar berdampak bagi masyarakat," kata Wamendiktisaintek melalui keterangan di Jakarta, Selasa.
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa persoalan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan akses sekolah, tetapi juga kualitas pengalaman belajar yang diterima oleh siswa. Banyak anak yang hadir di ruang kelas, namun belum sepenuhnya terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.
Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari metode pengajaran yang kurang efektif hingga keterbatasan sumber daya pendidikan di beberapa daerah. Oleh karena itu, inovasi dalam metode pembelajaran menjadi salah satu langkah penting yang perlu terus dikembangkan.
Perguruan tinggi dapat berperan besar dalam menghasilkan berbagai model pembelajaran baru yang lebih menarik, interaktif, dan relevan dengan kebutuhan siswa masa kini.
Peran Strategis Perguruan Tinggi Dalam Kolaborasi Pendidikan
Wamen Fauzan menyoroti perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan tersebut melalui kolaborasi riset dan intervensi pendidikan berbasis data.
Melalui konsorsium, jelas dia, perguruan tinggi dapat bersama-sama mengembangkan model pembelajaran dan intervensi literasi serta numerasi yang dapat direplikasi di berbagai daerah.
"Dengan adanya konsorsium perguruan tinggi, perguruan tinggi diharapkan dapat saling bekerja sama mengembangkan program yang berdampak bagi masyarakat," ujar Fauzan.
Kolaborasi antarperguruan tinggi diharapkan dapat memperkuat kualitas riset pendidikan yang dihasilkan. Dengan bekerja sama, berbagai institusi pendidikan tinggi dapat saling berbagi pengalaman, metode penelitian, serta pendekatan inovatif dalam mengatasi persoalan pendidikan dasar.
Selain itu, hasil riset yang dihasilkan dari kerja sama tersebut dapat menjadi dasar bagi pengambilan kebijakan pendidikan yang lebih tepat sasaran.
Sejalan Dengan Prioritas Pembangunan Sumber Daya Manusia
Diketahui, upaya ini juga sejalan dengan arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai prioritas nasional.
Pemerintah menargetkan pada tahun 2029 tidak ada lagi masyarakat yang tertinggal dalam akses pendidikan dasar, termasuk dalam kemampuan literasi dan numerasi sebagai fondasi utama kualitas SDM.
Dalam konteks pendidikan tinggi, kebijakan tersebut diperkuat melalui program “Diktisaintek Berdampak” yang mendorong perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan riset dan publikasi ilmiah, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi persoalan masyarakat.
Melalui pendekatan ini, hasil riset diharapkan dapat langsung diterapkan untuk memperkuat kualitas pembelajaran dan pemerataan pendidikan.
Dengan demikian, peran perguruan tinggi tidak hanya berhenti pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga berkontribusi secara langsung dalam menyelesaikan berbagai tantangan pendidikan yang dihadapi masyarakat. Gerakan penguatan literasi dan numerasi yang melibatkan kampus diharapkan mampu menciptakan perubahan nyata dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.