Harga Cabai Rawit Turun Usai Lebaran, Stok Melimpah Aman

Senin, 30 Maret 2026 | 11:39:39 WIB
Harga Cabai Rawit Turun Usai Lebaran, Stok Melimpah Aman

JAKARTA - Setelah sempat membuat banyak konsumen waswas sepanjang Ramadan, harga cabai kini mulai menunjukkan kabar yang lebih menenangkan.

Usai perayaan Idulfitri 1447 Hijriah, harga cabai di berbagai pasar rakyat hingga pasar induk dilaporkan turun secara serentak. Kondisi ini menjadi angin segar, terutama bagi para ibu rumah tangga dan pelaku usaha kuliner yang sebelumnya harus menghadapi lonjakan harga cukup tajam.

Pergerakan harga cabai memang selalu menjadi perhatian besar masyarakat. Komoditas ini termasuk bahan pangan yang sensitif terhadap perubahan pasokan, cuaca, dan distribusi. Saat harga naik, dampaknya langsung terasa di dapur rumah tangga maupun sektor usaha makanan. 

Karena itu, kabar bahwa harga mulai melandai usai Lebaran menjadi sinyal positif yang patut disambut baik.

Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyebut stabilitas harga cabai kini mulai bergerak mendekati acuan pemerintah. Sebelumnya, harga cabai rawit merah sempat melonjak cukup tinggi selama Ramadan. 

Namun setelah periode permintaan tinggi berlalu, pasokan di lapangan mulai membaik sehingga harga berangsur turun dan mendekati Harga Acuan Penjualan (HAP) di tingkat konsumen.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menjelaskan bahwa tren penurunan ini sudah terlihat di sejumlah pasar utama. 

Menurutnya, kondisi harga cabai pasca-Lebaran menunjukkan perkembangan yang cukup baik, sejalan dengan membaiknya produksi dan distribusi di berbagai daerah.

Harga Cabai Mulai Turun Di Pasar Rakyat Dan Induk

Penurunan harga cabai usai Lebaran terlihat cukup merata di berbagai pasar rakyat hingga pasar induk. Hal ini menjadi kabar menggembirakan bagi konsumen, mengingat sebelumnya harga cabai rawit merah sempat melonjak selama Ramadan.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyebut bahwa harga cabai kini mulai mendekati acuan pemerintah. Ia menegaskan bahwa situasi setelah Ramadan dan Idulfitri menunjukkan tren yang jauh lebih stabil dibandingkan periode sebelumnya.

"Usai Ramadan dan Idul Fitri kondisi harga cabai telah menurun dan mendekati harga acuan penjualan tingkat konsumen," kata Ketut.

Di Pasar Induk Kramat Jati, harga cabai rawit merah saat ini berada di kisaran Rp45.000 hingga Rp60.000 per kilogram. Sementara itu, harga cabai merah keriting juga mengalami penurunan dan berada di rentang Rp15.000 sampai Rp25.000 per kilogram.

Penurunan serupa juga terlihat di Pasar Ciputat. Di pasar tersebut, harga cabai rawit merah tercatat berada di angka Rp60.000 per kilogram. Sedangkan cabai merah keriting dijual sekitar Rp40.000 per kilogram.

Ketut menilai harga di lapangan saat ini sudah jauh lebih baik dibandingkan saat Ramadan. Penurunan tersebut dinilai sangat positif karena mulai mendekati harga yang lebih wajar bagi konsumen.

"Harga relatif bagus. Cabai rawit merah sudah sekitar Rp60.000 (per kg). Ini turun jadi sangat bagus. Cabai merah keriting sekitar Rp40.000 malahan. Artinya, di sini harga relatif sangat bagus," ujar Ketut.

Pernyataan ini menegaskan bahwa kondisi harga cabai saat ini tidak hanya turun, tetapi juga mulai bergerak menuju level yang lebih stabil dan terjangkau.

Stok Melimpah Didukung Cuaca Dan Produksi Meningkat

Salah satu faktor utama yang mendorong penurunan harga cabai adalah kondisi cuaca yang mendukung aktivitas panen petani. Cuaca yang lebih bersahabat membuat proses produksi berjalan lebih baik, sehingga pasokan ke pasar meningkat dan tekanan harga mulai mereda.

Bapanas mencatat bahwa produksi bulanan cabai rawit merah pada Maret diproyeksikan mencapai 164,6 ribu ton. Angka ini menunjukkan kenaikan cukup signifikan dibandingkan produksi Februari yang berada di level 141,3 ribu ton.

Secara persentase, produksi cabai rawit merah pada Maret naik 16,4 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan produksi ini menjadi salah satu penjelas mengapa harga di berbagai pasar mulai turun secara serentak usai Idulfitri.

Ketika pasokan bertambah, keseimbangan pasar pun mulai terbentuk. Permintaan yang biasanya tinggi selama Ramadan dan menjelang Lebaran mulai berangsur normal, sementara produksi justru meningkat. Kombinasi ini mendorong harga bergerak turun menuju kisaran yang lebih stabil.

Kondisi stok yang melimpah menjadi sinyal penting bahwa tekanan harga kemungkinan tidak akan sekuat sebelumnya, setidaknya dalam jangka pendek. 

Bagi masyarakat, terutama rumah tangga, situasi ini tentu memberi ruang bernapas setelah sebelumnya harus menghadapi lonjakan harga bahan pangan yang cukup memberatkan.

Intervensi Pemerintah Ikut Menahan Lonjakan Harga

Selain faktor cuaca dan panen, pemerintah juga diketahui telah melakukan intervensi untuk menekan harga cabai di pasar. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya stabilisasi pangan agar lonjakan harga tidak semakin membebani masyarakat.

Sebelumnya, pemerintah menanggung biaya kirim sebanyak 3.150 kilogram cabai dari Enrekang, Sulawesi Selatan. Pengiriman ini ditujukan untuk membantu menekan harga di pasar induk, terutama pada saat harga cabai rawit merah sempat berada di level tinggi.

Langkah distribusi tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya memantau harga dari jauh, tetapi juga melakukan tindakan langsung untuk memperbaiki pasokan di wilayah yang mengalami tekanan harga. 

Intervensi seperti ini dinilai penting agar disparitas harga antarwilayah bisa ditekan dan distribusi berjalan lebih lancar.

Dengan pasokan yang masuk ke pasar induk, tekanan harga di tingkat pedagang dan konsumen bisa lebih cepat mereda. Intervensi ini sekaligus memperkuat sinyal bahwa pemerintah berupaya menjaga stabilitas harga pangan, terutama untuk komoditas yang sangat sensitif seperti cabai.

Upaya stabilisasi ini juga menjadi pelengkap dari kenaikan produksi yang terjadi di tingkat petani. Saat pasokan lokal membaik dan distribusi diperkuat, maka penurunan harga dapat berlangsung lebih cepat dan lebih merata di berbagai daerah.

Pemerintah Tegas Lawan Spekulan Dan Middleman Nakal

Di tengah membaiknya kondisi harga cabai, pemerintah tetap menegaskan sikap keras terhadap praktik spekulan maupun middleman yang dianggap bisa merusak keseimbangan pasar. 

Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, menyatakan bahwa fluktuasi harga memang bagian dari mekanisme pasar, tetapi tidak boleh dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk meraup keuntungan berlebihan.

Amran menegaskan pemerintah tidak akan menoleransi praktik yang sengaja mendorong harga pangan di atas ketetapan pemerintah. Karena itu, Satgas Pangan diminta untuk bertindak tegas apabila menemukan adanya pelanggaran di lapangan.

"Rakyat tidak boleh kesulitan mengakses harga pangan sesuai ketetapan pemerintah," tegas Amran.

Ia juga meminta Satgas Pangan di seluruh Indonesia agar tidak ragu melakukan penyegelan jika menemukan oknum yang sengaja membuat harga pangan naik. Langkah tegas ini menjadi pesan bahwa stabilitas harga pangan bukan hanya soal pasokan, tetapi juga soal pengawasan distribusi dan tata niaga.

Dengan stok cabai rawit merah yang melimpah, produksi yang meningkat, serta pengawasan pemerintah yang diperketat, tren penurunan harga usai Lebaran menjadi sinyal positif bagi konsumen. 

Kondisi ini diharapkan terus berlanjut agar harga cabai tetap stabil dan masyarakat dapat memperoleh bahan pangan sesuai harga yang wajar.

Terkini