RI Ajak Asia-Pasifik Perkuat Pelatihan SDM Hadapi Disrupsi AI

Rabu, 10 Juni 2026 | 02:30:01 WIB
Menaker RI Yassierli [SUMBER : NET].

JAKARTA - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) RI Yassierli mengimbau negara-negara anggota Asia Pacific Group (ASPAG) untuk meningkatkan kolaborasi dalam pelatihan dan pengasahan kompetensi masa depan guna menghadapi disrupsi teknologi seperti kecerdasan buatan (AI).

“Indonesia percaya, kerja sama antarnegara kini semakin penting. Tantangan ketenagakerjaan tidak bisa dihadapi sendiri. Kekuatan kami ada pada kemauan untuk saling berbagi praktik baik dan saling belajar,” kata Menaker Yassierli dikutip dari keterangannya yang diterima di Badung, Bali, Rabu.

Menaker memaparkan, kawasan Asia Pasifik tengah berhadapan dengan problem ketenagakerjaan yang kian rumit, mulai dari isu pengangguran, tumbuhnya sektor pekerjaan informal, ancaman peralihan fungsi kerja imbas disrupsi teknologi dan AI, hingga urgensi regulasi ketenagakerjaan yang ramah agar tidak ada elemen masyarakat yang terpinggirkan.

Berdasarkan pemikiran Yassierli, kemitraan antarnegara amat dibutuhkan supaya masing-masing negara dapat saling bertukar pengalaman, strategi, serta formula terbaik dalam mencetak angkatan kerja yang sinkron dengan keperluan dunia usaha, sekaligus menggaransi buruh tetap mendapat proteksi yang pantas.

Lebih dalam lagi, Menaker menuturkan bahwa di bawah kendali pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia memposisikan pembenahan kompetensi sebagai program utama untuk menjembatani ketidakcocokan antara kapasitas pencari kerja dan kriteria industri yang dinamis.

Satu di antara strategi yang diterapkan Indonesia ialah lewat agenda Magang Nasional untuk para lulusan universitas.

Sistem ini memfasilitasi pengalaman kerja yang sistematis selama enam bulan di sektor industri, dilengkapi stimulus uang saku dari pihak pemerintah yang setara dengan upah minimum. Pada tahun ini, agenda tersebut diproyeksikan mampu menyerap 150.000 peserta.

Di samping itu, otoritas Indonesia juga mengoperasikan Program Pelatihan Vokasi Nasional yang difokuskan untuk lulusan sekolah menengah atas dan sederajat, dengan target menyasar 300.000 peserta.

Menaker memastikan bahwa kedua skema tersebut dikonsep secara merata. Peluang eskalasi keahlian disediakan secara adil untuk kaum perempuan, kaum disabilitas, serta warga yang berdomisili di kawasan pelosok dan lini perbatasan.

Yassierli berpendapat, para pencari kerja memerlukan pembinaan yang adaptif dengan selera pasar kerja, para lulusan baru membutuhkan portofolio kerja, kalangan pekerja memerlukan keahlian baru agar tetap kompetitif, dan golongan rentan membutuhkan kesempatan yang lebih berkeadilan untuk menembus dunia kerja.

Di dalam forum ASPAG, Indonesia pun mengulurkan kesempatan kolaborasi pada beberapa sektor utama, mencakup perancangan modul pelatihan vokasi untuk kompetensi masa depan, pendirian pusat pelatihan khusus disabilitas, penguatan kelompok masyarakat di sektor agraria, serta pembentukan klinik produktivitas dan pusat rekayasa teknologi tepat guna.

“Indonesia siap berbagi dan belajar. Kami memiliki banyak hal yang dapat saling ditawarkan untuk membangun kawasan yang lebih kuat dan tangguh bagi para pekerja,” ujar Menaker.

Terkini