Dukung Swasembada, PTPN I Uji Coba Budidaya Bawang Putih

Selasa, 16 Juni 2026 | 19:25:02 WIB
Dukung Swasembada, PTPN I Uji Coba Budidaya Bawang Putih [FOTO : NET].

Jakarta - PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I mengawali uji coba penanaman komoditas bawang putih seluas 20 hektare di wilayah Gunung Mas, Bogor, Jawa Barat, sebagai tahapan awal menyokong swasembada pangan nasional sekaligus menekan ketergantungan terhadap pasokan luar negeri.

Sekretaris Perusahaan PTPN I Aris Handoyo menyampaikan agenda tersebut merupakan wujud kontribusi perseroan terhadap program pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto demi merealisasikan kemandirian pangan nasional yang berkesinambungan.

"Sekranag kami mencoba untuk menanam trial dulu 20 hektare di daerah Gunung Mas di Jabar. Ini sebagai bentuk komitmen PTPN I untuk mendukung hilirisasi pemerintah, pemerintahan Pak Prabowo melalui Kementerian Pertanian, kami support, sangat support PTPN I," kata Aris dalam bincang bersama awak media di Jakarta, Senin malam.

Berdasarkan penjelasan Aris, komoditas bawang putih memperoleh perhatian yang spesifik lantaran keperluan pasar domestik saat ini masih dominan dipasok lewat skema impor dari luar negeri.

Ia menerangkan bahwa pengerjaan budidaya bawang putih bukanlah perkara ringan lantaran tanaman ini memerlukan spesifikasi geografis tertentu, khususnya di kawasan dataran tinggi dengan karakteristik iklim yang memadai.

Selama ini wilayah sentral produksi untuk bawang putih nasional terhitung masih minim dan jamak didapati pada area pegunungan yang mempunyai parameter ketinggian ideal guna mendukung perkembangan tanaman secara maksimal.

"Kemudian kami ada tugas swasembada bawang putih, bawang putih itu memang merupakan komoditas yang tidak lazim di Indonesia, jarang ditanam. Adanya mungkin di Temanggung (Provinsi Jawa Tengah) yang cukup banyak di situ karena datarannya tinggi," ujarnya.

Oleh sebab itu, PTPN I menetapkan langkah untuk melangsungkan penanaman percobaan terlebih dahulu sebelum menambah luasan lahan guna menjamin faktor teknis pembudidayaan serta tingkat produktivitas bisa berjalan selaras dengan ekspektasi.

Aris menuturkan perseroan belum mempunyai rekam jejak yang panjang dalam memproduksi bawang putih sehingga memerlukan proses adaptasi dan pembelajaran sebelum beranjak pada skala komersial yang lebih masif.

Di samping faktor pembudidayaan, manajemen perseroan pun tengah mendalami beragam faktor teknis lainnya seperti pengadaan benih, skema tanam, hingga tata kelola area lahan yang paling akomodatif.

Penanaman percontohan seluas 20 hektare ini diproyeksikan menjadi fundamen awal demi mengumpulkan data riil di lapangan yang bakal dijadikan acuan tahapan ekspansi berikutnya.

Menurut Aris, pencapaian positif dari program ini diharapkan mampu memangkas ketergantungan Indonesia pada pasokan impor bawang putih, khususnya yang selama ini didatangkan dari China.

"Harapannya untuk bawang putih itu kan bisa mengurangi impor dari China khususnya. Cuma lokasi-lokasi yang punya ketinggian yang cocok ini kan nggak banyak. Hampir di semua tempat itu kami dataran rendah. Kalau dataran rendah tentu nggak cocok untuk bawang putih," jelasnya.

PTPN I pun bakal melangsungkan proses pemetaan terhadap area lahan korporasi yang dinilai akomodatif guna budidaya bawang putih tanpa mengusik komoditas primer yang telah berjalan produktif.

Lahan-lahan yang sedang tidak difungsikan untuk tanaman teh, kopi, ataupun tanaman unggulan lainnya berpeluang dikonversi sebagai area pengerjaan bawang putih apabila hasil penanaman percobaan memperlihatkan indikator yang bagus.

Sekretaris Perusahaan PTPN I Aris Handoyo menjawab pertanyaan awak media di Jakarta, Senin (15/6/2026) malam.

Bukan cuma menyokong kuantitas produksi domestik, area lokasi uji coba ini pun diproyeksikan mampu bertindak selaku role model percontohan bagi publik maupun kalangan petani yang bermaksud mendalami tata cara budidaya bawang putih.

Aris melengkapi informasi bahwa indikator ekspansi bawang putih dari Kementerian Pertanian dipatok seputar 5.000 hektare, namun pihak perseroan menetapkan skema berjenjang supaya program berjalan optimal serta berkelanjutan.

Walau begitu, PTPN I memilah untuk mengeksekusi ekspansi secara berjenjang lantaran pembudidayaan bawang putih memerlukan kesiapan aspek sumber daya manusia, kompetensi teknis di lapangan, serta kecakapan manajemen pengelolaan yang matang.

"Kalau tiba-tiba kami harus membongkar, misal (PTPN I menanam pada lahan seluas) 10.000 hektare tiba-tiba ternyata kami nggak punya orang yang bisa nangani, nggak punya kemampuan, pengalaman, kan jadi sayang, mubazir," katanya.

Berdasarkan pandangannya, perluasan usaha dalam volume masif tanpa dibekali kematangan strategi berisiko memicu inefisiensi waktu serta alokasi anggaran, sekaligus dapat menghambat terealisasinya sasaran kemandirian pangan yang diprogramkan pemerintah.

Publikasi data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan volume impor bawang putih Indonesia sepanjang lima tahun ke belakang menunjukkan tren yang menyusut jika ditinjau dari bobot bersih (ton).

Pada periode 2021, kuantitas impor bawang putih tercatat pada angka 602.745 ton. Angka tersebut menyusut pada periode 2022 menjadi 566.175 ton atau berkurang kisaran 6,07 persen secara tahunan.

Penyusutan angka impor berlanjut pada periode 2023 dengan kapasitas 564.027 ton, atau merosot sebesar 0,38 persen dari periode tahun sebelumnya. Pada periode 2024, aktivitas impor kembali menyusut di angka 555.886 ton atau berkurang 1,44 persen secara tahunan.

Kecenderungan penurunan paling drastis berlangsung pada periode 2025, saat volume impor bawang putih merosot tajam menjadi 450.339 ton atau anjlok kisaran 18,99 persen jika dikomparasikan dengan periode 2024.

Ditinjau berdasarkan negara eksportir, aktivitas impor bawang putih Indonesia di sepanjang periode 2021-2025 didominasi secara mutlak oleh pihak China.

Terkini