JAKARTA - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengimbau kaum muslimin untuk memakai momen Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah sebagai waktu guna melangsungkan perubahan diri serta sosial.
“Hijrah bukan hanya perpindahan fisik Rasulullah dari Makkah ke Madinah. Hijrah adalah transformasi sistem kemasyarakatan, dari masyarakat kabilah yang sempit dan primordial menuju masyarakat umat yang global, kosmopolitan, serta diikat oleh kasih sayang,” ujar Menag Nasaruddin Umar di Jakarta, Selasa (16/06/2026).
Menag menuturkan hijrah tidak hanya diartikan sebatas perpindahan tempat secara fisik oleh Rasulullah SAW dari Makkah menuju Madinah, melainkan juga pergeseran perspektif dari pola pikir kabilah ke arah pola hidup umat yang terbuka, beradab, serta berkonsentrasi pada kemaslahatan publik.
Sebelum agama Islam datang, menurut dia, publik Arab dikuasai oleh tatanan kabilah yang bersandar pada relasi darah dan aspek kesukuan.
Kedatangan Rasulullah SAW lantas mengemukakan gagasan tentang umat, yakni suatu komunitas yang melewati sekat-sekat suku, ras, maupun kelompok.
Menag menjabarkan terdapat ketidaksamaan mendasar di antara beraneka rupa perwujudan komunitas sosial.
Kabilah didirikan berlandaskan relasi darah, sya'abun bersandar pada ikatan famili besar, qawmun terwujud lewat konsensus sosial serta keorganisasian, sementara hizbun mengarah pada kelompok ataupun partai politik.
Umat, tutur Menag, merupakan himpunan masyarakat yang dipadukan oleh empat elemen sekaligus yakni welas asih, pandangan ke depan, figur pemimpin yang berwibawa, beserta warga yang sopan serta patuh, dalam sebuah tatanan kepemimpinan yang dinamai imamah.
“Kalau keempat unsur itu ada dalam satu komunitas, barulah layak disebut umat,” kata Menag Nasaruddin Umar.
Menag mengimbau umat Islam untuk melaksanakan perenungan terhadap situasi pola hidup sosial pada masa sekarang.
“Pertanyaannya sekarang, apakah masyarakat Islam Indonesia sudah bisa disebut umat? Atau kami masih terjebak dalam mentalitas kabilah, hizbun, kedaerahan, dan kelompok sendiri-sendiri?,” ucap Menag Nasaruddin Umar.
Salah satu karakteristik kelompok warga yang masih berpolapikir kabilah ialah tertutupnya jalur kepemimpinan bagi individu di luar golongan tertentu.
Kebalikannya di dalam kehidupan umat, tutur dia, peluang untuk memimpin terbuka lebar buat siapa saja yang mempunyai kompetensi serta memperoleh amanah dari publik, tanpa melihat asal-usul suku ataupun gender.
Walau begitu Menag mewanti-wanti bahwa sifat terbuka saja belumlah memadai. Rasa persatuan, kesetiakawanan sosial, serta kepedulian pada sesama, wajib terus diperkokoh supaya warga betul-betul berkembang menjadi umat yang tangguh.