Kemenag Minta Penyuluh Agama Manfaatkan Media Sosial untuk Berdakwah

Kamis, 18 Juni 2026 | 18:34:01 WIB
Dirjen Bimas Islam Kemenag Dorong Penyuluh Agama Aktif di Media Sosial [FOTO : NET].

JAKARTA - Direktur Jenderal (Dirjen) Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kementerian Agama (Kemenag) Abu Rokhmad mengimbau para penyuluh agama untuk menggunakan media sosial sebagai platform dakwah serta sarana edukasi bagi masyarakat.

“Mulailah percaya diri mengaktivasi media sosial masing-masing. Apa yang dilakukan penyuluh di lapangan perlu diketahui masyarakat luas, agar manfaatnya semakin dirasakan,” ujar Abu Rokhmad dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Abu Rokhmad menyampaikan bahwa jangkauan dakwah penyuluh agama saat ini tidak lagi terbatas pada ruang kajian di kelas, masjid, maupun tatap muka di majelis taklim, melainkan telah meluas ke ranah digital.

Ia memandang penyuluh agama harus hadir sebagai pemengaruh kebaikan yang mampu menyebarkan pesan moderasi, kepedulian sosial, serta nilai keagamaan di ruang digital.

“Bersamaan itu, para penyuluh untuk terus meningkatkan kompetensi melalui pendidikan formal, uji kompetensi, pelatihan, seminar, dan berbagai program pengembangan kapasitas lainnya,” kata Abu Rokhmad.

Menurutnya, Ditjen Bimas Islam Kemenag secara rutin berupaya meningkatkan kapasitas penyuluh. Hal ini sejalan dengan arahan Menteri Agama Nasaruddin Umar yang memprioritaskan penguatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dalam Asta Protas Kementerian Agama.

Peningkatan kompetensi tersebut diharapkan mewujudkan layanan keagamaan yang lebih profesional, responsif, dan bermanfaat bagi masyarakat. 

Terlebih, penyuluh agama merupakan garda terdepan Kemenag yang berinteraksi langsung serta memahami persoalan umat.

“Para penyuluh agama adalah ujung tombak pembinaan keagamaan. Mereka tidak bekerja di balik meja, tetapi hadir langsung di tengah masyarakat dan memahami denyut persoalan umat,” ujarnya.

Abu Rokhmad juga mendorong adanya spesialisasi kompetensi bagi penyuluh agama, misalnya dalam bidang pemberdayaan ekonomi umat, pengelolaan zakat dan wakaf, penanganan konflik sosial-keagamaan, hingga penguatan keluarga. 

Spesialisasi tersebut diharapkan menjadi nilai tambah dan memperkuat peran strategis penyuluh dalam mendukung pembangunan nasional.

“Kami tidak boleh hanya menjadi generalis. Penyuluh perlu memiliki keahlian khusus yang membuat keberadaannya semakin dibutuhkan masyarakat,” kata Dirjen Bimas Islam Kemenag Abu Rokhmad.

Terkini