Nilai Kepemilikan Saham di Bali Tembus Rp7,95 Triliun pada Triwulan I 2026

Kamis, 18 Juni 2026 | 21:39:32 WIB
OJK: Kepemilikan Saham di Bali Tumbuh Signifikan di Triwulan I 2026 [FOTO : NET].

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bahwa nilai kepemilikan saham di Provinsi Bali menyentuh angka Rp7,95 triliun pada triwulan I 2026.

"Realisasi itu tumbuh signifikan yakni 48,40 persen dibandingkan periode sama 2025 sebesar Rp5,35 triliun," kata Kepala OJK Bali, Parjiman, di Denpasar, Bali, Kamis.

Menurutnya, pencapaian tersebut menunjukkan bahwa investor saham di Bali masih memiliki kepercayaan yang positif, terlepas dari dampak krisis geopolitik global terhadap perekonomian dunia. 

Per Maret 2026, jumlah investor saham berdasarkan Single Investor Identification (SID) tercatat mencapai 392.841 SID. Angka tersebut meningkat hampir 30 persen dibandingkan Maret 2025 yang berada di level 302 ribu SID.

Regulator sektor jasa keuangan tersebut mencatat kenaikan di seluruh jenis investasi, meliputi saham, reksa dana, hingga surat berharga negara (SBN).

 Investor reksa dana mendominasi dengan jumlah 369.562 investor, diikuti oleh investor saham sebanyak 199.394 investor dan SBN sebanyak 34.085 investor.

"Investor saham tumbuh paling tinggi 31,97 persen," imbuhnya.

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, tingkat literasi dan inklusi di sektor pasar modal masih memerlukan peningkatan, dengan realisasi masing-masing sebesar 17,78 persen dan 1,34 persen.

 Secara nasional, indeks literasi keuangan mencapai 66,46 persen dengan indeks inklusi keuangan sebesar 80,51 persen, meningkat dari capaian tahun 2024 yang masing-masing berada di angka 65,43 persen dan 75,02 persen.

Demi memacu pasar modal di Bali, OJK terus memprioritaskan edukasi keuangan sesuai Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia. 

Regulator juga menerapkan bauran strategi untuk memperkecil celah literasi dan inklusi melalui berbagai kanal, baik tatap muka, daring, aliansi strategis, maupun edukasi tematik.

Terkini