Pelari Muda Belum Tentu Aman, Ini Penyebab Kematian Mendadak Maraton

Kamis, 18 Juni 2026 | 23:59:31 WIB
Dokter Ungkap Penyebab Kematian Mendadak Pelari Muda Saat Maraton [FOTO : NET].

JAKARTA - Wafatnya peserta BTN Jakarta International Marathon (JAKIM) 2026, Agus Putranadi, di usia 29 tahun menjadi peringatan bahwa pelari muda tidak selalu terbebas dari risiko gangguan jantung saat mengikuti lomba lari jarak jauh. 

Menurut Dr. Andik Wijaya, MD, MRepMed, dari Yada Institute, anggapan bahwa pelari muda pasti aman dan pelari senior pasti berisiko merupakan pemahaman yang keliru. 

"Usia muda tidak berarti pasti aman. Usia senior juga tidak berarti pasti berbahaya. Ini anggapan yang harus diluruskan," kata dr. Andik, Rabu (17/6/2026). Pernyataan ini muncul menyusul meninggalnya peserta kategori half marathon BTN JAKIM 2026, Agus Putranadi, yang kolaps saat berlomba pada Minggu (14/6/2026).

Kematian saat maraton sebenarnya jarang terjadi 

Andik menjelaskan bahwa berdasarkan studi epidemiologi internasional, kasus kematian dalam lomba maraton tergolong sangat langka, dengan angka kejadian berkisar antara 0,5 hingga 2 kasus per 100.000 peserta. 

"Kasus kematian saat lari maraton dari studi epidemiologi di seluruh dunia hanyalah 0,5 sampai 2 kejadian dalam setiap 100.000 peserta maraton," ujarnya.

Meskipun kasus di BTN JAKIM 2026 mengejutkan banyak pihak, Andik menegaskan bahwa maraton bukanlah penyebab utama kematian. Sebagian besar kasus kematian saat lomba berkaitan dengan kondisi medis bawaan yang tidak terdeteksi. 

"Maraton sejatinya bukan penyebab kematian itu sendiri. Rata-rata yang bersangkutan memang memiliki kondisi penyakit yang sudah ada dalam tubuhnya, tetapi tidak menyadarinya," kata dia.

Kematian pelari muda berbeda dengan pelari senior 

Andik memaparkan bahwa penyebab kematian saat maraton berbeda berdasarkan kelompok usia. Bagi pelari di bawah usia 35 tahun, penyebab paling umum adalah hypertrophic cardiomyopathy (HCM), yakni kelainan genetik yang menyebabkan penebalan dinding ventrikel jantung sehingga mengganggu sistem kelistrikan jantung, terutama saat aktivitas fisik berat.

 "Pada kasus seperti ini penderita mengalami kondisi yang bisa menyebabkan gangguan pelistrikan jantung. Apalagi ketika melakukan aktivitas yang ekstrem," ujar Andik. Kondisi ini sering kali tidak bergejala sehingga penderita tidak menyadarinya.

Bisa dideteksi sebelum ikut lomba 

HCM sebenarnya dapat dideteksi melalui pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) dan ekokardiografi sebelum memulai latihan lari jarak jauh. "Ini sebenarnya bisa dicegah karena sangat mudah dideteksi kalau kami melakukan screening sebelum orang memulai pelatihan untuk mengikuti aktivitas long run," kata Andik.

Sementara itu, pada pelari di atas 35 tahun, penyebab kematian tersering adalah penyakit jantung koroner atau atherosclerotic cardiovascular disease (ASCVD). Kelompok ini disarankan menjalani tes treadmill atau stress test untuk mengukur kemampuan jantung.

Jangan hanya mengandalkan perasaan 

Andik mengingatkan pelari agar tidak mengandalkan penilaian pribadi terkait kondisi kesehatan. Ia menekankan pentingnya pemeriksaan objektif. "Tes, don't guess. Diperiksa, bukan diterka. Diperiksa, bukan diduga. Diperiksa, bukan dirasa-rasa," ujarnya. 

Ia menyarankan agar popularitas olahraga lari diimbangi dengan kesadaran skrining kesehatan untuk meminimalkan risiko serius. 

"Usia muda tidak berarti pasti aman, dan usia lanjut tidak berarti pasti berbahaya. Yang penting adalah melakukan screening dengan baik dan memahami kondisi tubuh masing-masing," kata Andik.

Terkini