Pendapatan Bukaka (BUKK) Melonjak 27,9 Persen pada Kuartal I-2026

Kamis, 18 Juni 2026 | 01:38:01 WIB
PT Bukaka Teknik Utama Tbk (BUKK).

JAKARTA - PT Bukaka Teknik Utama Tbk (BUKK), emiten manufaktur dan infrastruktur yang terafiliasi dengan Jusuf Kalla, mencatatkan kinerja pendapatan yang solid pada kuartal pertama tahun 2026. 

Perusahaan membukukan pendapatan sebesar Rp 867,9 miliar, atau melonjak 27,9 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan capaian pada kuartal I-2025 yang sebesar Rp 678,8 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, pertumbuhan pendapatan tersebut ditopang oleh kontribusi dari berbagai segmen bisnis, antara lain:

Oil and Gas Equipment: Rp 78 miliar

Offshore Maintenance Services: Rp 61 miliar

Steel Bridge: Rp 54 miliar

Steel Tower: Rp 37 miliar

Passenger Boarding Bridge (PBB): Rp 28 miliar

Galvanize: Rp 21 miliar

Construction PLTA: Rp 13 miliar

Road Construction Equipment: Rp 9 miliar

Special Purpose Vehicle: Rp 1 miliar

Meskipun pendapatan meningkat, laba bersih perusahaan tercatat turun 43 persen secara tahunan dari Rp 167 miliar menjadi Rp 95 miliar pada tiga bulan pertama tahun 2026.

Menanggapi tantangan pasar domestik, manajemen BUKK tetap optimistis mampu mencapai target penjualan sebesar Rp 4,1 triliun dan laba bersih Rp 333 miliar hingga akhir tahun. 

Direktur BUKK, Ade Nurkholis, menyebutkan bahwa optimisme tersebut didorong oleh kontribusi signifikan dari proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Kerinci dan Poso.

"Jadi (target ini) kontribusinya dari berbagai sektor, tapi untuk yang lumayan signifikan besarnya itu dari PLTA," ujar Ade dalam paparan publik di kantor Bukaka Teknik Utama, Kamis (18/6/2026).

Selain proyek PLTA, BUKK juga membidik peluang dari proyek jalur transmisi listrik PLN yang sempat tertunda pada 2024–2025 dan kini difokuskan kembali. 

Menurut Ade, proyek transmisi listrik yang tersebar dari Sumatra, Jawa, hingga Indonesia Timur ini memiliki nilai belasan triliun rupiah. "Kalau kita lihat belasan triliun rupiah, Bukaka dapat 10% saja sudah sekitar Rp 1 triliun, artinya itu luar biasa," ungkap Ade.

Terkini