PLN Ungkap Dua Pembangkit Besar Alami Gangguan di Sistem Kelistrikan

Jumat, 19 Juni 2026 | 21:21:01 WIB
PLN Terapkan Pemadaman Listrik Bergilir di Jawa Akibat Kendala Teknis [FOTO : NET].

JAKARTA - PT PLN (Persero) memberikan penjelasan terkait pemadaman listrik bergilir yang melanda sejumlah daerah pada Jumat (19/6/2026). 

Pemadaman tersebut mencakup wilayah Jawa Barat seperti Bogor, Tangerang, Tangerang Selatan, hingga Depok. Gangguan serupa juga terjadi di Pati dan Banjarnegara, Jawa Tengah, serta di Jawa Timur yang meliputi wilayah Surabaya, Pasuruan, dan Sidoarjo.

Pemadaman bergilir berlangsung antara 3 hingga 5 jam, tergantung pada masing-masing daerah. Kebijakan ini diambil demi menjaga keandalan sistem kelistrikan, meningkatkan kualitas layanan, serta mencegah gangguan yang memicu pemadaman tidak terencana.

Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PLN Gregorius Adi Trianto menuturkan bahwa sistem kelistrikan Jawa saat ini beroperasi dan terkendali dengan baik. 

Namun, untuk menjaga keandalan pasokan ke pelanggan, PLN melakukan manajemen beban secara terbatas dan terukur di beberapa wilayah.

"Langkah tersebut dilakukan karena terdapat kendala teknis operasional pembangkit serta ada dua unit pembangkit besar yang mengalami gangguan sehingga tidak beroperasi sementara dan menurunkan kemampuan sistem pasokan listrik," tutur Gregorius dalam keterangannya.

PLN menyatakan terus berupaya melakukan percepatan pemulihan, mengoptimalkan pasokan dari pembangkit lain, serta melakukan pengaturan operasi sistem untuk menjaga keseimbangan pasokan dan meminimalkan dampak kepada pelanggan.

"PLN memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dialami pelanggan. Manajemen beban ini bersifat sementara dan akan segera dihentikan secara bertahap seiring dengan membaiknya kondisi pasokan sistem," kata Gregorius.

Peristiwa ini menyoroti sistem kelistrikan Jawa-Madura-Bali (Jamali) yang selama ini dikenal sebagai tulang punggung pasokan listrik nasional. Berdasarkan data Kementerian ESDM, kapasitas pembangkit terpasang di wilayah Jamali mencapai 44.857,2 MW, yang mendominasi lebih dari setengah total kapasitas pembangkit nasional.

Pengamat ekonomi dari Indonesia Strategic and Economics Action Institution (ISEAI) Ronny P. Sasmita menilai pemadaman di sistem Jamali menjadi pengingat bahwa cadangan daya besar tidak otomatis menjamin keandalan listrik. 

Menurutnya, keandalan sistem ditentukan oleh faktor kompleks seperti kesiapan pembangkit, jaringan transmisi, dan fleksibilitas operasi.

“Suatu sistem bisa saja memiliki cadangan daya besar di atas kertas, tetapi tetap rentan mengalami gangguan apabila terdapat bottleneck pada jaringan transmisi, gangguan teknis pada pembangkit kunci, atau ketidakseimbangan pasokan antarwilayah dalam sistem interkoneksi,” ujar Ronny kepada Bisnis, Minggu (14/6/2026).

Ia menegaskan bahwa gangguan pada satu titik di sistem interkoneksi sebesar Jamali dapat memicu efek berantai. Oleh karena itu, ia menilai kejadian ini lebih berkaitan dengan persoalan tata kelola sistem. 

"Jadi, kejadian ini sangat terkait dengan persoalan keandalan operasional dan tata kelola sistem, bukan semata-mata soal kecukupan energi primer seperti batu bara," katanya.

Terkini