JAKARTA - Di tengah gejolak harga minyak dunia serta ketidakpastian geopolitik, pemerintah memutuskan mempercepat langkah menuju kemandirian energi. Penerapan biodiesel B50 per 1 Juli 2026 bukan sekadar kebijakan pencampuran bahan bakar, melainkan pertaruhan besar bagi ketahanan energi, devisa, industri sawit, dan transisi energi Indonesia.
Ketika konflik global mengguncang harga minyak mentah, Indonesia memilih memperbesar porsi energi domestik. Mulai 1 Juli 2026, setiap liter solar akan mengandung 50% Fatty Acid Methyl Ester (FAME) berbasis minyak sawit.
Proyek ambisius pemerintahan Presiden Prabowo Subianto ini menargetkan penghentian impor solar, penghematan devisa hingga Rp157,28 triliun, penciptaan lebih dari 2,2 juta lapangan kerja, serta pengurangan emisi sebesar 46,72 juta ton CO2 pada 2026.
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menyatakan bahwa ketahanan energi kini memiliki empat parameter: ketersediaan, akses, keterjangkauan, dan ramah lingkungan.
"Berbicara mengenai ketahanan energi ini ada empat parameternya, yaitu availability atau ketersediaan, kemudian akses energi, keterjangkauan atau affordability, dan juga ramah lingkungan atau acceptability," ujar Dwi, Rabu (17/6/2026).
Dwi menambahkan bahwa Presiden Prabowo mengarahkan optimalisasi sumber daya domestik untuk mendukung transisi energi yang berkelanjutan.
"Presiden mengharapkan agar kami dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya domestik serta juga mendorong transisi energi yang lebih bersih dan berkelanjutan," katanya.
Selain itu, B50 menjadi instrumen perlindungan ekonomi nasional. "Jadi ada beberapa faktor utama sebenarnya kenapa akhirnya 1 Juli ini nanti diimplementasikan, lebih kepada merespons juga kondisi geopolitik. Kami tahu harga minyak sedang naik turun, teman-teman juga mungkin merasakan fluktuasi harga minyak," ujar Dwi.
Secara makroekonomi, ekonom Unesa Hendry Cahyono menilai B50 dapat menekan angka impor dan memperkuat nilai tukar rupiah.
"Kalau yang disampaikan demikian, memang itu akan menurunkan angka impor. Salah satu dampaknya nanti juga bisa terhadap apresiasi nilai tukar rupiah," ujarnya.
Hendry juga menyebut Indonesia berpeluang menjadi pionir biodiesel campuran tinggi, yang sekaligus mendorong industrialisasi sawit dalam negeri.
Meskipun terdapat tantangan pasokan bahan baku dan pembiayaan, pakar energi ITERA, Rishal Asri, menegaskan bahwa kebijakan ini benar secara ekonomi dan lingkungan untuk menurunkan emisi.