Perkuat Ekspor, Pelabuhan Tanjung Emas Tingkatkan Kapasitas

Selasa, 23 Juni 2026 | 19:55:01 WIB
Genjot Ekspor, Infrastruktur Pelabuhan Tanjung Emas Diperkuat [FOTO: NET].

JAKARTA — Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan senilai USD 5,64 miliar pada periode Januari–April 2026, yang menjadi indikator bahwa kegiatan produksi, distribusi, serta perdagangan tetap berjalan meski ekonomi global tengah dinamis. 

Menurut data BPS, nilai ekspor nasional tumbuh 5,48% menjadi USD 92,15 miliar dibandingkan tahun sebelumnya, dengan sektor nonmigas mencapai USD 87,74 miliar sebagai penopang utama.

Industri pengolahan menjadi tulang punggung dengan kontribusi sebesar USD 75,57 miliar. Tiongkok, Amerika Serikat, dan India menempati posisi teratas sebagai negara tujuan ekspor. Jawa Tengah turut menyumbang kinerja ekspor sebesar USD 4,5 miliar. 

Ketua DPD Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Tengah, Ade Siti Muksodah, menyatakan sejumlah komoditas menjadi andalan ekspor daerah, di antaranya produk kayu dan turunannya dari wilayah Temanggung serta Wonosobo, produk rajut, hingga gula aren atau brown sugar.

Kendati demikian, tantangan biaya logistik dan ketergantungan pada bahan baku impor masih menghambat daya saing produk. 

"Sekitar 70% bahan baku kami masih impor di negara China dan beberapa negara lainnya di Asia Timur. Beberapa bahan baku plastik itu naik yang otomatis mempengaruhi perdagangan ekspor di negara kami," ujarnya. 

Ade menekankan urgensi optimalisasi layanan di Pelabuhan Tanjung Emas. 

"Peran Pelabuhan Tanjung Emas sangat signifikan. Perputaran ekonomi dan logistik berawal dari pelabuhan. Jalur paling mudah dan mendasar untuk ekspor dan impor melalui jalur laut," ungkap Ade.

PT Pelindo Terminal Petikemas melaporkan peningkatan arus peti kemas internasional di TPK Semarang sebesar 12,2% (382.093 TEUs) hingga Mei 2026. Sebagai respon, Pelindo menambah fasilitas seperti dermaga dan alat bongkar muat. 

"Saat ini empat unit alat baru tersebut (QCC) dalam tahap commissioning and testing, untuk memastikan segala aspek baik secara operasional dan safety dapat terpenuhi. Kami menargetkan alat tersebut dapat segera beroperasi untuk melayani pelanggan," ucap Corporate Secretary, Widyaswendra.

Pengusaha garmen, Deddy Mulyadi, menyatakan perlunya akselerasi layanan pelabuhan. "Tanjung Emas memang membantu aktivitas ekspor. Tetapi ritme pergerakan barang belum secepat pelabuhan besar seperti Jakarta atau Surabaya. Kadang masih ada antrean kapal," ujarnya.

Pakar ekonomi dari UNS, Prof. Bhimo Rizky Samudro, menilai surplus ini adalah bukti daya saing produk nasional. 

"Surplus perdagangan merupakan sinyal yang baik karena menunjukkan produk Indonesia masih memiliki daya saing di pasar internasional. Ini juga mencerminkan sektor industri pengolahan kami tetap mampu menjadi penggerak ekspor nasional," katanya. 

Bhimo menambahkan bahwa efisiensi logistik adalah kunci. "Pelabuhan peti kemas merupakan infrastruktur strategis bagi perdagangan Indonesia. Ketika pelabuhan bekerja secara efisien, distribusi barang menjadi lebih cepat dan daya saing produk nasional juga meningkat," jelasnya.

Terkini