JAKARTA — Kegiatan pengapalan luar negeri untuk komoditas lobster laut asal wilayah Sumatra Barat mengalami penyusutan yang tergolong signifikan. Kondisi ini dipicu oleh anjloknya volume hasil tangkapan para pelaut serta merosotnya kuantitas pencari lobster di provinsi tersebut.
Seorang pelaku usaha eksportir asal kota Padang, Misho, memaparkan bahwa tren penurunan pasokan sudah bergulir sepanjang satu tahun belakangan.
Alokasi komoditas yang bersumber dari wilayah Mentawai serta Pesisir Selatan untuk saat ini jauh berkurang imbas paparan cuaca panas ekstrem yang berkepanjangan. Situasi alam tersebut membuat satwa lobster cenderung bersembunyi di balik karang dan sulit untuk ditangkap.
Menurut sudut pandangnya, dinamika tersebut memicu jamak nelayan membatasi intensitas pelayaran berburu. Alhasil, pasokan hasil tangkapan yang disetor menuju pihak pengepul kini hanya berkisar dalam kuantitas minim, walaupun komoditas bersangkutan konsisten dibeli dengan kriteria wajib hidup, bugar, serta mengikuti fluktuasi harga pasar.
Imbas dari tergerusnya ketersediaan pasokan, Misho memilih menyetop agenda ekspor secara mandiri dan mengalihkan jalur penjualan menuju Jakarta terlebih dahulu sebelum didistribusikan ke China serta Taiwan.
Langkah tersebut diambil lantaran akumulasi volume komoditas tidak lagi mencukupi batas minimum pengapalan mandiri.
Ia menambahkan, potret serupa dialami pula oleh wilayah-wilayah lain sehingga memicu jamak pelaku eksportir mengubah haluan bisnis menjadi pengumpul komoditas sebelum menyatukan pasokan demi kebutuhan pasar internasional.
“Keluhannya sama, hasil tangkapan nelayan di daerah lain juga turun akibat cuaca panas,” tegasnya.
Peluang Besar dari Budidaya Lobster
Misho menganalisis bahwa peluang pasar internasional untuk komoditas lobster asal Indonesia sejatinya masih terbuka lebar.
Hal ini tecermin dari tingginya angka permintaan dari pasar China yang sejauh ini belum sanggup diakomodasi secara optimal.
Lantaran hal itu, ia mendorong jajaran otoritas wilayah untuk mengintensifkan sektor pembesaran lobster laut di wilayah Sumbar yang dikaruniai karakteristik perairan cukup mumpuni.
Kendati demikian, menurut argumennya, pematangan sektor budidaya wajib diiringi dengan penguatan wawasan sekaligus kecakapan teknis pembudidayaan supaya mampu menetaskan mutu lobster berstandar pasar global.
“Sekarang sebenarnya ada nelayan lokal yang melakukan budidaya lobster laut, yakni lobster jenis pasir dan mutiara. Saya sudah melihat hasil panennya, ternyata cangkangnya sangat lunak dan warnanya sedikit pucat. Kondisi tersebut tidak memenuhi syarat untuk ekspor. Namun, untuk memenuhi kebutuhan restoran atau rumah makan, hasil seperti itu sudah cukup bagus,” katanya.
Demi mendongkrak kualitas hasil pembesaran, Misho menaruh harapan agar pemerintah daerah memfasilitasi agenda kunjungan belajar menuju negara Vietnam yang sudah diakui sebagai basis produsen lobster hasil budidaya yang bermutu tinggi.
Berdasarkan pandangannya, andaikata program ini ditekuni secara serius dan konsisten, Sumbar berpeluang berevolusi menjadi sentra produksi lobster nasional lewat sokongan wilayah pesisir seperti Mentawai, Pesisir Selatan, Padang Pariaman, Pariaman, Agam, hingga Pasaman Barat.
Misho bahkan menawarkan kesediaan untuk menyokong proses transfer ilmu budidaya lobster ke Vietnam tersebut menggunakan alokasi dana pribadi. Ia semata-mata mengharapkan kontribusi berupa penerbitan dokumen surat resmi dari instansi pemerintah daerah guna menyederhanakan komunikasi dengan para pelaku usaha pembudidayaan di negara bersangkutan.
“Pemerintah daerah tidak perlu memikirkan biaya saya. Asalkan ada surat resmi dari Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar, itu sudah menjadi modal kuat bagi saya untuk pergi ke Vietnam,” ungkapnya.
Uji Coba Budidaya Lobster di Pesisir Selatan
Pada kurun sebelumnya, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumbar terpantau sudah menginisiasi program percontohan budidaya lobster laut di kawasan perairan Sungai Bungin, Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan. Sebanyak 700 ekor benih lobster dirawat oleh pelaut lokal bernama Afrizal yang dipandang selaku kreator pembuka jalan bagi aktivitas budidaya lobster di zona bersangkutan.
Proyek ini bergulir pada tahun 2024 silam ketika instansi DKP Sumbar memfasilitasi program pelatihan budidaya lobster. Afrizal didelegasikan sebagai peserta bimbingan teknis di wilayah Sibolga, Sumatra Utara, yang bertindak sebagai salah satu sentra perikanan besar di tanah air.
Di lokasi tersebut, ia menyerap rupa-rupa pengetahuan teknis mulai dari indikator seleksi benih, regulasi pemberian pakan, mekanisme sirkulasi air, hingga manajemen pengelolaan mutu ekosistem laut agar komoditas lobster dapat tumbuh secara maksimal.
“Belajar di Sibolga membuka wawasan saya. Lobster memang butuh perhatian lebih dibanding ikan kerapu. Tapi kalau dirawat dengan benar, hasilnya jauh lebih menjanjikan,” tutur Afrizal.
Pascamerampungkan pelatihan, Afrizal bergegas mengaplikasikan wawasan barunya. Pada Oktober 2024, ia melakukan penebaran 700 ekor benih lobster jenis pasir di sarana keramba miliknya di kawasan Sungai Bungin dengan sokongan dari DKP Sumbar.
Benih-benih tersebut dipelihara secara disiplin, dipasok nutrisi berupa potongan kerang serta keong, ikan rucah, hingga rajungan kecil setiap harinya, berbarengan dengan pemeliharaan sanitasi air agar konsisten jernih.
Hasil pembesaran tergolong cukup memuaskan. Sesudah bergulir selama satu tahun, akselerasi ukuran lobster dinilai berjalan ideal.
Namun, khusus untuk memenuhi kriteria pasar internasional, struktur cangkang dinilai masih agak lembek sehingga mempertinggi potensi risiko kematian kala proses distribusi logistik pengiriman.
“Ekspor lobster ini harus dalam keadaan hidup hingga sampai ke negara tujuan. Nah, hasil dari diskusi pengepul di Padang, ternyata tidak layak, risiko mati tinggi. Ke depan, tentu saya berharap ada solusi dari hal ini,” pintanya.
Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Sakti Wahyu Trenggono mengutarakan optimisme tinggi atas prospek cerah sektor perikanan budidaya nasional.
"Sudah 2 tahun ini kami bekerja dengan riset dan uji coba. Kami memiliki bibit yang sangat melimpah. Pasar seafood dunia itu tidak kurang dari US$414 miIiar, sementara ekspor Indonesia baru US$5 miIiar. Potensi ini sangat besar, dan dengan dukungan berbagai pihak, kami optimis mampu mengejar ketertinggalan di sektor budidaya ikan,” ujarnya, seperti dikutip dari situs KKP.
Agenda proyek percontohan budidaya lobster dilaporkan sudah diawali semenjak penghujung 2024 dengan capaian angka kelangsungan hidup (survival rate) menembus di atas 80% sebelum memasuki fase pemindahan ke fasilitas keramba jaring apung untuk tahap pembesaran.
Hasilnya memperlihatkan mayoritas lobster sukses tumbuh hingga menyentuh takaran ukuran konsumsi yang ideal.
“KKP mendukung penuh budidaya lobster dalam negeri agar kesejahteraan nelayan dan pembudidaya meningkat serta menjaga keberlangsungan biota laut,” tegasnya.
Bukan sekadar mendongkrak capaian nilai ekonomi, aktivitas budidaya lobster dinilai sanggup mereduksi praktik penyelundupan benih bening lobster (benur) yang terdeteksi masih kerap berlangsung.
“Pesan saya jelas bahwa budidaya akan dikembangkan terus dan menjadi tanggung jawab Ditjen Perikanan Budidaya, khususnya untuk lobster saya akan all-out bahwa ini harus dikembangkan di dalam negeri,” tutupnya.