JAKARTA - Peningkatan kemampuan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di area penopang Kalimantan Timur saat ini ditujukan guna menjawab lonjakan kebutuhan pasar di lingkungan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Tekanan pemenuhan logistik, barang, sekaligus jasa di pusat pemerintahan baru tersebut mewajibkan adanya pembenahan mendasar pada struktur usaha pelaku ekonomi lokal dari pengelolaan konvensional menuju standardisasi industri yang mampu bersaing secara global.
Guna menekan gap tolok ukur mutu produk lokal itu, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan menghelat Workshop Entrepreneurship 2026.
Skema seleksi ketat ini diikuti oleh 100 pelaku UMKM terpilih serta unit usaha produktif dari beberapa pondok pesantren binaan yang tersebar di wilayah Kota Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kabupaten Paser, hingga Kawasan Inti IKN.
Informasi internal dari pihak bank sentral menunjukkan bahwasanya mayoritas pelaku usaha di daerah penyangga IKN masih terbentur hambatan struktural yang menahun.
Kendala itu melingkupi keterbatasan visi kewirausahaan, rapuhnya tata kelola manajerial, minimnya terobosan kemasan, beserta rendahnya pemanfaatan teknologi digital pada alur produksi harian. Berbagai aspek tersebut yang acap kali memicu produk lokal kalah bersaing ketika berhadapan dengan serbuan pasokan komoditas dari luar daerah.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, menandaskan bahwa peningkatan kompetensi ini mewujud sebagai instrumen vital guna menggaransi warga lokal tidak sekadar menjadi penonton di tengah masifnya sirkulasi kapital di IKN.
"UMKM memiliki peranan yang strategis sebagai tulang punggung perekonomian, serta berkontribusi besar dalam penciptaan lapangan kerja, peningkatan kesejahteraan masyarakat, penguatan inklusi ekonomi dan keuangan, hingga pengembangan pasar ekspor," urai Robi, dikutip Kompas.com, Kamis (25/6/2026).
Demi menjaga efektivitas penyerapan ilmu, sistem pembelajaran dalam workshop hasil kolaborasi bersama tiga pemerintah daerah serta Otorita IKN ini diklasifikasikan ke dalam dua kelompok kebutuhan nyata.
Pertama, kelas fondasi usaha, yang ditujukan bagi para pelaku usaha pemula demi memperkokoh legalitas hukum dasar, profesionalisme manajemen keuangan, tata kelola operasi, sekaligus perkenalan awal sarana pembiayaan formal perbankan.
Kedua, kelas akselerasi usaha, yang dipersiapkan bagi pelaku UMKM yang telah stabil guna mengadopsi indikator kesiapan ekspor, membaca tren pasar global, optimalisasi narasi produk pada pemasaran digital, beserta taktik mendongkrak nilai transaksi makro.
Sistem penilaian di lapangan diaplikasikan secara praktis menggunakan acuan kerja Business Model Canvas (BMC).
Lewat metode ini, tiap peserta diwajibkan menyusun ulang sembilan unsur esensial bisnis mereka, dimulai dari struktur anggaran hingga segmentasi pasar, untuk langsung diuji kelayakannya di hadapan para pembimbing industri.
Proyeksi pembenahan bisnis terbaik berbasis BMC tersebut kedepannya bakal memperoleh sokongan bantuan permodalan dari BI Balikpapan.
Pemateri yang didatangkan pada lokakarya ini bukan berasal dari kalangan teoretis, melainkan para pelaku usaha mikro mitra Bank Indonesia asal Jawa Barat dan Jawa Timur yang telah sukses menembus pasar internasional secara mandiri.
Pendiri Dama Kara asal Jawa Barat, Nurdini Prihastiti, memaparkan data empiris menyangkut strategi optimalisasi pemasaran digital produk siap pakai yang berhasil memadukan nilai sosial lewat keterlibatan anak berkebutuhan khusus pada fase perancangan desain.
Di sisi lain, CEO PT Sari Bhuwana Nusajaya (Aranaspice), Sri Astutik, memaparkan rantai pasok komoditas rempah alami kepunyaannya yang saat ini sanggup memenangi standardisasi keamanan pangan di pelbagai penjuru dunia.
Program penaikan kelas UMKM ini menjadi bagian dari rentetan Road to Pekan Ekonomi Syariah Nusantara (PESAN) 2026, yang berintegrasi langsung dengan Festival Ekonomi Syariah Kawasan Timur Indonesia (FESyar KTI) serta Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026.