JAKARTA - Perkembangan adopsi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di tanah air terus memperlihatkan kurva yang positif. Kendati demikian, ketergantungan mutlak ekosistem baru ini terhadap stabilitas pasokan daya listrik melahirkan catatan tersendiri, utamanya di tengah problematika pemadaman listrik yang sempat mendera beberapa kawasan akhir-akhir ini.
Manakala pasokan energi menyusut dan monitor indikator tidak berfungsi, bukan melulu sektor rumah tangga saja yang merasakan imbasnya, melainkan juga sarana infrastruktur krusial layaknya Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).
Bagi para pengguna unit mobil berbasis baterai, insiden pemadaman listrik secara massal (blackout) ataupun disfungsi jaringan sekecil apa pun dapat menjelma sebagai kendala menakutkan yang sanggup melumpuhkan pergerakan mobilitas mereka saat itu juga.
Merespons kecemasan publik dimaksud, pihak PT PLN (Persero) menyajikan klarifikasi menyangkut hubungan timbal balik antara keandalan sistem listrik nasional dengan operasionalisasi pos pengisian daya kendaraan listrik tersebut.
Gregorius Adi Trianto, selaku Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PT PLN (Persero), memaparkan bahwa sarana SPKLU pada umumnya terintegrasi secara langsung dengan jaringan listrik milik PLN.
"Karena itu, jika terjadi gangguan pada pasokan listrik, layanan pengisian daya akan berhenti sementara dan dapat digunakan kembali setelah pasokan listrik normal," ujar Gregorius, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini.
Efek Domino Gangguan Grid
Ketergantungan operasional SPKLU terhadap pasokan jaringan induk (grid) PLN sejatinya menjadi hal yang tidak dapat dielakkan.
Berbeda halnya dengan fasilitas SPBU konvensional yang karib membekali diri dengan generator cadangan (genset) berskala besar demi menggerakkan mesin pompa bensin tatkala arus listrik padam, SPKLU mengonsumsi pasokan daya yang teramat besar, utamanya untuk tipe Fast Charging ataupun Ultra Fast Charging, yang sukar diakomodasi oleh generator biasa.
Maka dari itu, manakala isu pemadaman listrik mengemuka dipicu oleh kendala sistem transmisi ataupun agenda perawatan infrastruktur, ekosistem kendaraan listrik pun ikut terdampak dalam sekejap.
Alur pengisian daya yang terputus di tengah proses berpotensi merusak manajemen waktu para pemilik EV yang tengah berkejaran dengan waktu rute perjalanan.
Strategi Antitesis: Pantau Lewat Aplikasi
Walaupun aktivitas operasional SPKLU sangat bersandar pada situasi grid, pihak PLN melayangkan imbauan kepada para pemilik kendaraan listrik agar tidak panik.
Sebagai bentuk langkah mitigasi sekaligus transparansi pasokan informasi, publik diharapkan memaksimalkan penggunaan kanal digital yang telah disediakan.
"Pengguna kendaraan listrik dapat memanfaatkan aplikasi PLN Mobile? untuk mengetahui status operasional SPKLU, ketersediaan charger, serta antrean pengisian daya secara real time," kata Gregorius.
Lewat ketersediaan fitur tersebut, para pengemudi dapat memantau dari jarak jauh perihal apakah SPKLU yang berada pada rute perjalanan mereka tengah berfungsi dengan normal atau justru sedang mengalami kendala pasokan listrik.
Kebijakan digitalisasi ini diproyeksikan mampu meminimalkan risiko pengendara terjebak di zona pengisian daya yang sedang tidak berfungsi akibat pemadaman listrik.