Harga Telur Ayam Drop, Peternak di Batu Mengeluh Rugi Besar

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:04:01 WIB
Harga Telur Anjlok, Peternak di Kota Batu Terpaksa Kuras Tabungan [FOTO: NET].

JAKARTA - Kemerosotan harga telur ayam ras sepanjang satu bulan ke belakang memaksa para pelaku usaha ternak di Kota Batu, Jawa Timur, untuk memutar otak demi tetap bertahan. 

Bukan saja mesti memikul kerugian lantaran nilai jual yang merosot di bawah ongkos operasional, mereka pun terpaksa memakai dana simpanan yang selama ini dikumpulkan sewaktu harga telur tengah melonjak.

Pemilik dari ASegg Farm yang berlokasi di Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Sotya Hanief, memaparkan bahwa nilai jual telur di kalangan peternak saat ini hanya bertengger di kisaran Rp18.000 sampai Rp19.000 per kilogram. 

Sementara itu, jika dikalkulasikan secara umum, Harga Pokok Produksi (HPP) sebenarnya menyentuh Rp23.000 hingga Rp24.000 per kilogram.

"Sempat juga harga Rp 17.000 per kilogram, sekarang Rp 19.0000. Kalau jauh dari HPP, kita masih rugi sekitar Rp 3.000 sampai Rp 4.000 per kilogram," kata Sotya saat ditemui, Rabu (1/7/2026).

Situasi sulit tersebut memaksa para peternak mengandalkan sisa tabungan yang mereka kumpulkan tatkala harga telur sedang berada di level keemasan.

"Kalau harga jual di bawah HPP, ya kami kerja bakti. Mau enggak mau harus menguras tabungan yang ada," ujarnya.

Sotya mengutarakan bahwa dirinya memang telah terbiasa menghadapi dinamika naik-turunnya harga telur. 

Meski begitu, fase kali ini dipandang jauh lebih menguras energi karena tren penurunan berlangsung relatif lama dan terjadi berbarengan dengan melambungnya biaya pakan ternak.

"Harga telur turun itu sebenarnya wajar. Tapi yang sekarang ini lama sekali, hampir satu bulan," terangnya.

Dia menguraikan bahwa lesunya nilai jual telur ini dipicu oleh merosotnya daya beli masyarakat, menyusutnya angka permintaan selama momen bulan Suro dalam kalender Jawa, serta membengkaknya populasi ayam petelur yang memicu terjadinya surplus produksi.

"Kalau MBG tidak terlalu berpengaruh. Yang paling terasa itu daya beli masyarakat menurun, ditambah overpopulasi sehingga terjadi overproduksi," ujarnya.

Pada sisi yang berbeda, pengeluaran untuk pakan ternak justru merangkak naik. Kisaran 70 persen komponen ongkos produksi bersumber dari pakan, sedangkan nilai jual jagung serta konsentrat terus menanjak.

"Jagung sekarang naik dari sekitar Rp 5.500 menjadi Rp 7.000 per kilogram. Konsentrat juga ikut naik karena bahan bakunya dipengaruhi harga impor," katanya.

Di tengah situasi penuh ketidakpastian ini, para pelaku usaha ternak menaruh harapan agar kondisi perekonomian lekas membaik sehingga daya beli masyarakat bisa kembali pulih. 

Di samping itu, mereka pun berharap pihak pemerintah segera mengambil tindakan nyata guna menekan harga pakan, khususnya komoditas jagung yang menjadi kebutuhan primer bagi peternak.

“Kalau harga telur kita mengikuti saja, tidak minta harga naik. Yang terpenting cukup untuk HPP, kalau telur turun tapi harga pakan naik kita terus rugi” pungkasnya.

Terkini