DPR: Transformasi BUMN oleh Danantara Tak Cukup Sebatas Merger

Kamis, 02 Juli 2026 | 21:10:32 WIB
Danantara Diminta Fokus Integrasi Pasca-Merger Perusahaan BUMN [FOTO: NET].

JAKARTA — Anggota Komisi VI DPR RI Christiany Eugenia Paruntu memberikan peringatan bahwa kesuksesan transformasi badan usaha milik negara (BUMN) yang diemban oleh SWF Danantara Indonesia tidak boleh semata-mata diukur dari susutnya jumlah entitas bisnis lewat jalur merger atau konsolidasi.

 Menurut pandangannya, rintangan paling berat sebenarnya berada pada bagaimana mengintegrasikan korporasi yang telah disatukan tersebut.

"Tahap yang jauh lebih penting adalah memastikan integrasi pasca-merger berjalan efektif, mulai dari harmonisasi budaya kerja, penyelarasan proses bisnis, penguatan tata kelola perusahaan, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia," kata Christiany dalam keterangan tertulis, Kamis (2/7/2026).

Pembenahan BUMN dinilai tidak terjadi secara instan. Sejumlah pencapaian finansial yang mulai kelihatan pada 2025 merupakan buah dari rangkaian keputusan strategis yang diterapkan jauh-jauh hari, mulai dari penataan ulang organisasi, peralihan model bisnis, sampai pemulihan kondisi fundamental perusahaan.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani, mengutarakan bahwa BUMN tidak boleh sekadar mengejar profit, namun wajib menghadirkan faedah yang dirasakan langsung oleh masyarakat luas.

"BUMN semata-mata tidak hanya mengejar dari segi laba, tetapi juga harus dirasakan kehadirannya ke masyarakat, ke rakyat dalam bentuk pemberian persamaan kesempatan dari segala lapisan, dari UMKM, komersial maupun korporasi," ujar Rosan.

Satu di antara bentuk pembenahan tersebut diterapkan oleh PT Pupuk Indonesia lewat peralihan skema subsidi dari sistem cost-plus menuju mekanisme mark-to-market. 

Peralihan ini memberikan ruang gerak yang lebih lapang bagi perusahaan dalam mengendalikan risiko fluktuasi harga komoditas bersamaan dengan mendongkrak profitabilitas.

Pada sektor energi, PT Pertamina (Persero) menempuh langkah konsolidasi dengan menyatukan Pertamina Patra Niaga, Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan Pertamina International Shipping (PIS) ke wadah Subholding Downstream. 

Kebijakan ini ditujukan demi merampingkan struktur organisasi, mengikis tumpang tindih operasional, serta mengokohkan keterpaduan rantai bisnis di sektor hilir.

Di sisi lain, PT Krakatau Steel memperlihatkan dampak positif restrukturisasi lewat pembalikan performa dari kondisi rugi Rp981 miliar pada April 2025 menjadi raihan laba Rp635 bias pada April 2026. Pemulihan ini beriringan dengan susutnya nilai utang perusahaan dari US$1,7 miliar menjadi US$1,1 miliar.

Peningkatan performa juga terpantau di sektor kawasan industri. Sepanjang 2025, ketersediaan lahan industri bertambah hingga 142 hektare. Nilai pendapatan menanjak dari Rp3,09 triliun pada 2024 menjadi Rp3,81 triliun pada 2025, sementara perolehan laba melesat dari Rp830 miliar menjadi Rp1,3 triliun.

 Pembenahan tersebut turut diimbangi kenaikan investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) sebesar US$400 juta hingga US$500 juta serta pembukaan kiranya 10.000 lapangan kerja baru.

Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, memaparkan bahwa porsi efisiensi terbesar bersumber dari pemangkasan transaksi bertingkat (layering transaction) antara korporasi induk dengan anak usaha yang selama ini memicu pemborosan.

"Efisiensi yang paling besar sebetulnya datangnya dari layering transaction, karena umumnya anak-anak perusahaan di dalam BUMN itu mengerjakan pekerjaan dari induknya. Itu kemudian menyebabkan inefisiensi," kata Dony.

Menurut kalkulasinya, proses konsolidasi ini diproyeksikan sanggup menekan inefisiensi operasional hingga sekitar Rp30 triliun per tahun. Di samping itu, ada potensi tambahan penghematan mencapai Rp20 triliun lewat penutupan sejumlah anak perusahaan yang selama ini terus merugi.

Adapun PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) sukses menjaring laba Rp1,48 triliun hingga April 2026 atau melesat 169 persen berbanding Rp550 miliar pada periode serupa di tahun sebelumnya. Hasil ini memosisikan Pelindo sebagai salah satu pemilik pertumbuhan laba tertinggi di deretan BUMN yang tengah berbenah.

Walau demikian, Christiany berpendapat bahwa kontinuitas transformasi ini akan sangat bertumpu pada kapasitas BUMN dalam merawat integrasi organisasi pasca-merger dan restrukturisasi selesai rampung.

 Langkah ini krusial agar perubahan yang ditempuh tidak sekadar melahirkan efisiensi jangka pendek, melainkan ikut mempertegas daya saing perusahaan untuk jangka panjang.

Terkini