WGC Proyeksi Harga Emas Dunia Semester II 2026 Bergerak Terbatas

Senin, 06 Juli 2026 | 23:30:31 WIB
Harga Emas Dunia di Titik Sensitif, Naik Lagi atau Justru Turun? [FOTO: NET].

JAKARTA - Usai melewati goncangan yang masif di sepanjang paruh pertama 2026, nilai jual emas global diprediksi bakal menginjak fase anyar pada paruh kedua tahun berjalan ini. 

Kendati celah kenaikan masih terbuka lebar, komoditas logam mulia ini juga dibayangi risiko penyesuaian turun seandainya rentetan indikator makroekonomi serta tensi geopolitik berbalik arah.

Riset bertajuk Gold Mid-Year Outlook 2026 yang dirilis oleh World Gold Council (WGC) mendeskripsikan kurva harga emas dunia saat ini tengah bertumpu pada level yang amat sensitif atas pergeseran iklim ekonomi makro dunia, arah haluan kebijakan perbankan sentral, sampai dinamika geopolitik global.

Sepanjang variabel-variabel penentu tersebut tidak bergeser secara signifikan, grafik harga emas diproyeksikan bakal bergulir dalam rentang yang terbatas. Namun, bila menyembul pemantik baru, ritme pergerakan harga berpeluang melesat jauh lebih ekspansif.

Harga emas dunia melewati perjalanan yang ekstrem

Semester I 2026 mencatatkan diri selaku salah satu kurun waktu paling berfluktuasi dalam rekam jejak niaga komoditas emas. Mengawali kalender dengan tren penguatan yang kokoh, nilai jual emas menorehkan rekor tertinggi baru hingga 12 kali. 

Pada penutupan Januari 2026, harga emas sempat menyentuh level melampaui 5.500 dollar AS per troy ounce secara intraday di tengah memanasnya eskalasi geopolitik serta tingginya volume perdagangan opsi.

Akan tetapi, lonjakan tersebut tidak bertahan lama. Menjelang akhir Juni 2026, nilai jual emas merosot tajam hingga sempat terdepak ke bawah level 4.000 dollar AS per troy ounce sebelum perlahan kembali stabil.

Secara kumulatif, nilai emas dunia terdokumentasi menyusut kisaran 7 persen semenjak pembukaan tahun (year-to-date) sampai dengan tanggal 26 Juni 2026.

Meski begitu, emas tetap memosisikan diri sebagai salah satu instrumen dengan capaian performa terbaik dalam jangka waktu 12 bulan terakhir jika disandingkan terhadap rentetan kelas aset alternatif lainnya. World Gold Council mengalkulasi jika fluktuasi tajam ini membuktikan emas senantiasa sangat reaktif terhadap eskalasi risiko geopolitik serta pergeseran sentimen investor yang bergulir secara mendadak.

Riset tersebut juga merekam, volatilitas nilai emas sempat meroket hingga menembus angka 50 persen, berbarengan dengan memuncaknya instabilitas di pelbagai sektor pasar finansial ketika meletus konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Walau tingkat volatilitas kemudian melandai ke bawah angka 30 persen, posisi tersebut masih bertengger jauh di atas rata-rata historis selama 20 tahun yang biasanya mengunci di kisaran 17 persen. Bersandar pada telaah historis World Gold Council, lonjakan volatilitas layaknya momen ini pada garis akhirnya berpotensi kembali melaju menuju angka rata-rata dalam rentang waktu tertentu.

Di luar itu, kajian tersebut memperlihatkan kian dominannya peran bursa pasar Asia dalam perumusan harga emas dunia. Telaah perdagangan intraday mendeteksi bahwa porsi terbesar dari lonjakan harga justru terjadi di sepanjang jam perdagangan regional Asia, kontras dengan tekanan koreksi turun yang dominan menyembul pada sesi perdagangan AS.

Situasi tersebut dipandang merefleksikan kian krusialnya posisi para investor serta konsumen Asia dalam merumuskan arah mata angin harga emas global.

Harga emas dunia masih berpotensi bergerak terbatas

Memasuki fase semester II 2026, World Gold Council mengalkulasi bahwa harga emas saat ini secara fundamental telah mengadopsi ekspektasi pasar atas iklim ekonomi global. Bersandar pada konsensus makroekonomi, roda ekonomi dunia diproyeksikan tumbuh di level 2,9 persen pada 2026, sementara pertumbuhan ekonomi AS diprediksi bertengger pada angka 2,1 persen.

Indeks inflasi AS diestimasikan menyentuh titik kulminasi di kisaran 3,9 persen pada triwulan II 2026 sebelum berangsur melandai, sedangkan inflasi global diperkirakan menyentuh angka rata-rata 4,3 persen sepanjang tahun berjalan.

Di pihak lain, pelaku pasar juga memprediksi Federal Reserve (The Fed), Bank of England, Bank of Japan, serta European Central Bank (ECB) masih menyimpan peluang untuk kembali mengerek tingkat suku bunga acuan sebelum penutupan tahun, dengan proyeksi kenaikan dari The Fed diestimasikan bergulir pada Oktober 2026.

Dengan menimbang akumulasi faktor tersebut, World Gold Council mengukur nilai emas saat ini tergolong relatif selaras dengan peta makroekonomi global. Berarti, apabila tidak berembus gejolak masif pada proyeksi ekonomi ataupun sektor geopolitik, harga emas diestimasikan bergerak dalam batas deviasi plus minus 5 persen dari level kisaran 4.100 dollar AS per troy ounce di sepanjang semester II 2026.

Akan tetapi, kondisi tersebut bukan berarti pergerakan emas bakal seutuhnya pasif. Menurut World Gold Council, panggung justru telah dipersiapkan bagi potensi lahirnya pergerakan nilai yang jauh lebih masif sekiranya menyembul pemicu baru.

Apa yang bisa mendorong harga emas naik?

World Gold Council memetakan minimal ada tiga kelompok indikator yang berpeluang menyalakan kembali tren penguatan harga emas.

Faktor pertama yakni memburuknya iklim ekonomi maupun tensi geopolitik. Kajian tersebut memaparkan, seandainya perlambatan roda ekonomi kian menukik dalam atau kembali meletus guncangan geopolitik, maka volume permintaan atas aset lindung nilai (safe haven) layaknya emas berpotensi terkerek naik.

 Dalam skema tersebut, harga emas diestimasikan sanggup merangkak naik menuju koridor 4.500 dollar AS per troy ounce. Bahkan, bilamana sinyal yang mengemuka terhitung sangat kuat, harga emas mengantongi momentum untuk terdorong secara konsisten hingga mendekati level 5.000 dollar AS per troy ounce.

World Gold Council mencatat, secara historis eskalasi risiko geopolitik mengantongi korelasi yang cukup kuat terhadap pergerakan emas. Sebagai gambaran, kenaikan sebesar 100 poin pada Geopolitical Risk Index (GPR) dalam kurun waktu satu bulan secara historis beriringan dengan penguatan harga emas berkisar 2,5 persen.

Di samping itu, agenda pemilu sela (midterm election) AS pada November 2026 juga dipandang sanggup menjadi hulu ketidakpastian anyar. Walau korelasi antara hasil pemilu AS dan fluktuasi emas tidak selamanya sejalan, pergeseran peta politik berpotensi mendongkrak ketidakpastian regulasi sehingga sanggup mengokohkan ketertarikan pasar terhadap emas selaku aset pelindung nilai.

Faktor kedua ialah pergeseran ekspektasi tingkat suku bunga. Saat ini koridor pasar masih berasumsi bahwa The Fed bakal menaikkan suku bunga minimal satu kali lagi sebelum tutup tahun. Namun, World Gold Council memberikan catatan jika cara pandang barisan pejabat bank sentral sejatinya masih terbelah.

 Seandainya ekspektasi pasar bergeser menjadi lebih longgar (dovish) atau para penanam modal mulai mengalkulasi potensi penurunan suku bunga di masa depan, situasi tersebut berpeluang menyuguhkan energi baru bagi laju harga emas.

Riset itu turut mengulas perihal isu independensi The Fed yang sempat memicu riak di pasar pada pembukaan Januari 2026 dan menjelma sebagai salah satu pendorong lonjakan harga emas. Isu tersebut dinilai tidak cuma berdampak pada imbal hasil obligasi negara AS, melainkan juga berpotensi mengguncang posisi dollar AS di dalam sistem moneter global.

Faktor ketiga bersumber dari keikutsertaan institusi investor jangka panjang. Di luar institusi bank sentral, dalam beberapa tahun belakangan entitas dana pensiun, sovereign wealth fund, endowment fund, hingga korporasi asuransi mulai menambah porsi alokasi investasi mereka pada instrumen emas.

Tahun lalu, China bahkan telah menggulirkan program percontohan yang memayungi sejumlah korporasi asuransi skala raksasa untuk menempatkan investasi pada emas. Berdasarkan kalkulasi World Gold Council, merangkak naiknya andil investor dengan karakter membeli dan menahan aset dalam jangka panjang ini sanggup memosisikan diri sebagai bumper penopang ekstra bagi emas selama semester II 2026.

Apa yang bisa menekan harga emas?

Pada sudut pandang kontras, World Gold Council mengukur harga emas di paruh kedua 2026 juga berhadapan dengan sekian risiko koreksi ke bawah. Usai membukukan lompatan luar biasa sepanjang 2025, sebagian pelaku pasar mulai merealisasikan aksi ambil untung (profit taking) maupun penataan ulang portofolio (rebalancing). Eskalasi volatilitas selama paruh pertama 2026 pun memicu banyak manajer investasi mengevaluasi kembali porsi eksposur mereka pada komoditas emas.

Merujuk pada riset tersebut, ada tiga indikator utama yang berpotensi menjadi beban penekan bagi harga emas.

Faktor pertama yaitu keperkasaan dollar AS beserta lonjakan suku bunga yang melompati kalkulasi pasar. Selama ini emas lumrah bergerak kontradiktif terhadap dollar AS maupun imbal hasil obligasi pemerintah AS. 

Manakala tingkat bunga mendaki lebih tinggi dari perkiraan, biaya peluang (opportunity cost) untuk menggenggam emas ikut terkerek naik lantaran logam mulia tidak membagikan imbal hasil layaknya instrumen obligasi. Seandainya jajaran bank sentral global mengeksekusi kenaikan suku bunga secara lebih agresif ketimbang kalkulasi saat ini, tekanan atas harga emas berpotensi kian berat.

Namun, World Gold Council menandaskan, bukan semata-mata nominal kenaikan suku bunga yang mendikte arah haluan emas. Elemen yang jauh lebih krusial ialah bagaimana respons pasar dalam menginterpretasikan kebijakan kenaikan tersebut terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi, tingkat kredibilitas pengendalian inflasi, ketahanan sistem keuangan, serta arah haluan dollar AS.

Seandainya pengetatan suku bunga justru menebalkan keyakinan pasar atas kapabilitas The Fed dalam menjaga stabilitas makroekonomi, maka harga emas berpeluang menghadapi beban tambahan. Di samping itu, seandainya suku bunga global melaju menuju level yang lebih tinggi secara simultan, biaya peluang menggenggam emas juga ikut membubung di pelbagai negara sehingga menjadi batu sandungan bagi logam mulia.

Faktor kedua ialah pulihnya ketertarikan pasar atas aset berisiko (risk-on sentiment). World Gold Council mengalkulasi jika laju pertumbuhan ekonomi AS maupun global tetap impresif, terkhusus seandainya dibarengi dengan meredanya tensi risiko geopolitik, hal tersebut dapat memicu penanam modal kembali mengalirkan dana ke instrumen berisiko tinggi layaknya saham.

Di sepanjang beberapa tahun terakhir, porsi terbesar dari penguatan harga emas disokong oleh menebalnya risiko geopolitik. Apabila premi risiko tersebut menyusut secara konsisten, maka salah satu pilar penyangga utama emas otomatis ikut melemah. Pertumbuhan ekonomi yang kian kokoh juga berpotensi menyuntik kekuatan bagi dollar AS dan memacu kenaikan suku bunga lebih lanjut, sehingga menghadirkan tekanan tambahan bagi emas.

Faktor ketiga bersumber dari indikator teknikal pasar. Rekam data World Gold Council memperlihatkan, nilai emas saat ini posisinya masih bertengger jauh di atas angka rata-rata dua tahun terakhir yang berada pada koridor 3.520 dollar AS per troy ounce. Usai sukses menjebol level 3.500 dollar AS per troy ounce, harga emas merayap naik dengan ritme yang terhitung amat cepat.

Dalam situasi demikian, sebagian aktor pasar memanfaatkan indikator teknikal selaku kompas untuk merumuskan posisi investasi jangka pendek. World Gold Council memaparkan, seandainya harga emas merosot menembus level psikologis di kisaran 3.860 dollar AS per troy ounce, gelombang tekanan jual tambahan bisa menyembul sehingga memperpanjang linimasa fase pelemahan harga.

Meskipun begitu, kajian tersebut juga membuktikan bahwa koreksi harga emas secara historis tetap mengantongi batas defensif tertentu. Semenjak sistem standar emas (gold standard) berakhir di tahun 1971, terdokumentasi ada delapan fase ketika harga emas merosot melampaui 20 persen pasca mencetak rekor tertinggi. Dalam rentetan fase tersebut, rata-rata koreksi turun menyentuh 36 persen, sementara angka median penurunan berada di kisaran 29 persen.

World Gold Council menilai volume permintaan organik dari konsumen, investor jangka panjang, maupun bank sentral secara historis mempunyai kecenderungan untuk kembali menyembul tatkala harga melewati koreksi yang relatif dalam. Oleh sebab itu, seandainya harga emas menyusut berkisar 10 hingga 15 persen dari level berjalan saat ini, potensi pelemahan lanjutan diproyeksikan bakal kian terbatas lantaran mulai diimbangi aksi beli dari pelbagai kelompok pelaku pasar.

Bank sentral masih menjadi penopang penting

Di luar koridor makroekonomi, World Gold Council mengukur bahwa aktivitas serapan emas oleh institusi bank sentral tetap menjadi salah satu parameter krusial yang sanggup mengintervensi arah haluan emas dunia. Semenjak tahun 2022, jajaran bank sentral secara rata-rata memborong sekitar 1.000 ton emas per tahun, menempatkannya sebagai salah satu hulu permintaan paling masif di pasar global.

Pada triwulan I 2026 memang sempat terdata rentetan bank sentral yang melangsungkan aksi lepas atau pertukaran (swap) emas secara taktis.

Walau demikian, kalkulasi awal World Gold Council memproyeksikan perbankan sentral secara agregat masih bakal memosisikan diri sebagai pembeli bersih (net buyer) di sepanjang tahun berjalan ini. Hasil jajak pendapat teranyar dari World Gold Council juga menangkap tren kian banyaknya pengelola cadangan devisa yang mengestimasikan volume kepemilikan emas negaranya bakal merangkak naik dalam jangka waktu 12 bulan ke depan.

Namun, riset tersebut memberikan rambu-rambu bahwa bertambahnya kuantitas bank sentral yang memborong emas tidak melulu berkorelasi lurus dengan lonjakan volume pembelian yang signifikan.

Secara kuantitatif, kalkulasi World Gold Council menunjukkan bahwa ekstra pembelian di kisaran 20 sampai 30 ton di atas rata-rata jangka panjang (sekitar 600 ton per tahun) berpotensi mendongkrak harga emas sekitar 1 persen. 

Efek stimulasi tersebut tidak sekadar lahir dari tambahan permintaan langsung di pasar, melainkan juga bersumber dari sinyal positif yang ditangkap oleh investor ketika menyaksikan bank sentral konsisten mempertebal cadangan emas mereka. Kebalikannya, andai terjadi perlambatan ritme pembelian emas oleh bank sentral, hal itu bisa menjelma sebagai salah satu pemicu yang menekan harga logam mulia.

India juga berpotensi memengaruhi harga emas

Di luar institusi bank sentral, World Gold Council menaruh atensi pada India selaku salah satu pilar krusial yang sanggup mengguncang pasar emas dunia.

India memegang predikat sebagai pasar emas terbesar kedua di skala global dengan catatan permintaan bersih berkisar 800 ton per tahun. Kontras dengan China yang dibekali sektor produksi emas domestik, India terpaksa harus mendatangkan via impor untuk hampir seluruh pasokan kebutuhan emasnya. 

Imbas dari terganggunya jalur pasokan energi serta lonjakan harga minyak bumi di sepanjang konflik AS-Iran, otoritas pemerintah India mengeksekusi pelbagai regulasi demi memproteksi ketahanan cadangan devisanya.

Semenjak awal April 2026, pihak pemerintah mengerek tarif bea masuk impor emas dari yang semula 6 persen melesat ke angka 15 persen, diiringi rupa-rupa kebijakan untuk mengerem tingkat konsumsi emas di tengah masyarakat.

Telaah ekonometrika dari World Gold Council memperlihatkan penguatan tarif impor tersebut diproyeksikan bakal memangkas volume permintaan emas pada segmen perhiasan, emas batangan, serta koin di kisaran 50 sampai 60 ton, atau setara dengan penyusutan sekitar 10 persen secara tahunan.

Menurut analisis World Gold Council, konsekuensi dari penguatan tarif tersebut diestimasikan telah teradopsi dalam kurva harga emas saat ini. Namun seandainya perlambatan ekonomi India menukik kian dalam, volume permintaan emas berpeluang kembali layu akibat konsumen maupun investor mempunyai ruang finansial yang lebih sempit untuk memborong emas sekalipun harga tengah terkoreksi.

 Pada sisi lain, tren merangkak naiknya kasus gagal bayar pada instrumen pinjaman dengan agunan emas juga menyimpan potensi menambah guyuran pasokan emas ke bursa pasar sehingga menghadirkan beban penekanan tambahan pada harga.

Secara menyeluruh, World Gold Council mengestimasikan harga emas dunia pada fase semester II 2026 mayoritas masih bakal bergerak dalam koridor yang terbatas seandainya iklim ekonomi global bergulir selaras dengan konsensus pasar, yaitu di kisaran minus 5 persen sampai plus 5 persen dari level berjalan saat ini.

Namun, riset tersebut juga memperlihatkan celah fluktuasi harga tetap menganga lebar seandainya meletus pergeseran fundamental pada situasi ekonomi, arah kebijakan moneter, laju inflasi, aktivitas borong emas oleh bank sentral, maupun memuncaknya risiko geopolitik. Dalam proyeksi skenario optimistis, harga emas mengantongi peluang melesat naik 5 hingga 20 persen, sebaliknya dalam skenario konsolidasi, harga menyimpan risiko meluncur turun berkisar 5 hingga 15 persen dari level saat ini.

Terkini