Sentimen Domestik dan Global Berpotensi Dorong Penguatan IHSG

Selasa, 07 Juli 2026 | 20:01:31 WIB
IHSG Dibuka Naik ke 5.933, Berpotensi Uji Level 6.000 [FOTO: NET].

JAKARTA - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari Selasa diproyeksikan memiliki peluang untuk bergerak di zona hijau berkat dorongan stimulus dari dalam negeri serta luar negeri.

IHSG mengawali perdagangan dengan kenaikan sebesar 17,50 poin atau setara 0,30 persen menuju area 5.933,57. Pada saat yang sama, jajaran 45 saham paling likuid atau Indeks LQ45 turut terkerek naik 1,60 poin atau 0,27 persen ke area 586,08.

“Secara teknikal, IHSG diperkirakan berpotensi melanjutkan kenaikan dan menguji level 6.000,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.

Bila ditinjau dari sisi domestik, terdapat dua emiten yang secara resmi merealisasikan agenda Initial Public Offering (IPO) dengan lonjakan harga saham yang menyentuh batas Auto Reject Atas (ARA), sehingga diprediksi menjadi motor penggerak penguatan IHSG sepanjang sesi perdagangan hari ini.

Di sisi lain, perputaran volume serta nilai transaksi terpantau cenderung lengang pada sesi perdagangan Senin (06/07/2026) kemarin, dengan akumulasi volume menyentuh kisaran 19,6 miliar saham dan nilai transaksi berada di angka Rp9,4 triliun. 

Angka tersebut berada jauh di bawah rata-rata harian pasar yang masing-masing biasanya menembus lebih dari 41 dipatok miliar saham serta di kisaran Rp24 triliun.

Ratna menganalisis bahwa penurunan intensitas volume dan nilai transaksi ini dipicu oleh dominasi pelaku pasar lokal di lantai bursa, serta kecenderungan investor untuk bersikap menanti perkembangan (wait and see) di tengah minimnya stimulus positif baru serta ramainya pelaksanaan IPO.

"Selain itu musim liburan anak sekolah dan sedang berlangsungnya Piala Dunia 2026 diperkirakan juga berpengaruh terhadap volume perdagangan," ujar Ratna.

Sementara itu, dari ranah kebijakan, Ketua Badan Anggaran DPR memproyeksikan alokasi dana untuk Program MBG bakal menyusut ke angka kisaran Rp174 triliun pada periode 2027, dari rencana awal yang dipatok sebesar Rp268 triliun.

Kalkulasi penyusutan anggaran tersebut diselaraskan dengan kalkulasi kebutuhan total Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) beserta target masyarakat penerima manfaat dari program MBG itu sendiri.

Dari estimasi awal sebanyak 27 ribu unit SPPG, kini diproyeksikan hanya memerlukan sekitar 21 ribu unit dengan target penerima manfaat menyasar 84 ribu pelajar.

"Jika anggaran program tersebut dapat diturunkan. maka dapat mengurangi tekanan terhadap defisit APBN dan diperkirakan akan direspon positif oleh pasar," ujar Ratna.

Beralih ke panggung mancanegara, bursa di wilayah Asia berhasil menorehkan rekor tertinggi baru yang disokong oleh kebangkitan kembali saham-saham sektor semikonduktor (chip) pascamengalami koreksi dalam kurun waktu dua pekan terakhir.

Perkembangan ke arah damai di wilayah Timur Tengah serta penurunan harga minyak mentah secara berkala sukses memangkas beban risiko geopolitik, sehingga para pelaku pasar kini dapat mengalihkan fokus investasi mereka kembali pada tren perdagangan kecerdasan buatan (AI).

"Saham-saham chip, yang telah menjadi pendorong utama booming AI, telah berada di bawah tekanan selama dua minggu terakhir di tengah aksi ambil untung dan kekhawatiran bahwa perdagangan AI telah menguat terlalu tinggi dan terlalu cepat," ujar Ratna.

Pada bagian lain, rilis indeks PMI untuk sektor jasa ISM di Amerika Serikat (AS) merosot ke posisi 54,0 pada periode Juni 2026, setelah sebelumnya bertengger di angka 54,5 pada Mei 2026, hasil yang dinilai selaras dengan proyeksi pelaku pasar.

Nominal tersebut mencerminkan bahwa ekspansi pada sektor bisnis jasa di AS masih tergolong kuat, kendati ritmenya melambat akibat imbas penurunan pertumbuhan aktivitas niaga (55,4 berbanding 57,7 pada Mei) serta penurunan pemesanan baru (55,1 berbanding 57,3).

Pergerakan harga minyak terpantau meluncur turun seiring langkah Arab Saudi memotong harga jual resminya, ditambah kebijakan OPEC+ yang menyepakati penambahan target kapasitas produksi berikutnya mulai Agustus nanti, serta pulihnya jalur distribusi minyak yang melintasi Selat Hormuz.

Sementara itu, tingkat imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun (U.S. 10-year Bond Yield) turun tipis 1 bps ke level 4,469 persen. 

Angka imbal hasil surat utang pemerintah AS ini relatif tidak banyak bergeser lantaran para pelaku pasar sedang menanti publikasi notulen FOMC teranyar pada ujung pekan ini sekaligus mencermati KTT NATO yang tengah berlangsung di Turki.

Pada penutupan perdagangan Senin (7/7) kemarin, bursa di Eropa mencatatkan hasil yang bervariasi, di antaranya Euro Stoxx 50 yang melemah sebesar 0,27 persen, indeks FTSE 100 Inggris terkoreksi 0,26 persen, indeks DAX Jerman melaju naik 0,15 persen, serta indeks CAC 40 Prancis yang merosot 0,33 persen.

Lantai bursa AS di Wall Street terpantau kompak menghijau pada Senin (7/7), dengan rincian Indeks Dow Jones Industrial Average terapresiasi 0,29 persen, indeks S&P 500 melesat naik 0,72 persen, sedangkan indeks Nasdaq Composite mencatatkan penurunan sebesar 1,26 persen.

Untuk situasi pasar saham regional Asia pada perdagangan pagi ini terpantau variatif, di antaranya indeks Nikkei terkoreksi 1,17 persen ke posisi 68.920,00, indeks Shanghai menyusut 0,78 persen ke level 4.009,73, indeks Hang Seng sukses melaju 0,50 persen ke posisi 23.641,00, serta indeks Strait Times yang merangkak naik 0,89 persen menuju level 5.306,71.

Terkini