Penyebab Sering Menguap Terus-menerus Menurut Pakar Tidur

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:53:31 WIB
Sering Menguap Saat Beraktivitas? Kenali Ragam Penyebabnya [FOTO: NET].

JAKARTA - Menguap merupakan bentuk reaksi alamiah dari metabolisme tubuh yang hampir pernah dilewati oleh setiap individu. Aktivitas fisik ini pada umumnya mencuat di kala baru terjaga dari tidur, menjelang momen beristirahat malam, ataupun tatkala kondisi fisik sedang dilanda keletihan. 

Namun, apabila intensitas menguap tersebut berlangsung secara terus-menerus sampai mengganggu kelancaran rutinitas harian, keadaan itu bisa jadi merepresentasikan indikasi bahwasanya tubuh tengah mengalami gangguan tertentu.

Dokter spesialis kedokteran tidur, Dr. Teofilo Lee-Chiong, memaparkan bahwa gejala menguap terus-menerus dapat diinduksi oleh beraneka ragam faktor pemicu, mulai dari buruknya mutu kualitas tidur hingga adanya gangguan medis spesifik.

Penyebab menguap terus saat beraktivitas

Kurang tidur atau kualitas tidur yang buruk Faktor pemicu yang paling jamak dijumpai pada seseorang yang kerap menguap ialah kurangnya waktu tidur. Kendati demikian, aspek yang patut dicermati bukan sekadar menyoal durasi waktu tidur semata, melainkan juga tingkat kualitasnya.

"Menguap juga dapat terjadi jika seseorang mengalami kelelahan pada siang hari akibat kurang tidur atau gangguan tidur yang belum ditangani, seperti sleep apnea,” ungkap Dr. Lee-Chiong, Senin (6/6/2026).

Disiplin dalam merawat keteraturan jadwal tidur, memenuhi kuota tidur selama tujuh hingga delapan jam pada tiap malam, serta menanggulangi faktor pemicu distorsi tidur menjadi langkah penanganan yang krusial. Seorang dokter sekaligus Chief Physician Editor WebMD, Dr. Neha Pathak, turut memberikan penegasan bahwasanya durasi tidur yang menyentuh angka delapan jam belum tentu dikategorikan berkualitas. 

Tindakan meminum alkohol sesaat sebelum beristirahat, misalnya, sanggup mendegradasi mutu kualitas tidur sehingga kondisi fisik tetap merasa lelah di keesokan harinya dan menjadi lebih gampang menguap.

Rasa bosan membuat otak berusaha tetap waspada Tidak semua individu yang meregangkan rahang untuk menguap berada dalam kondisi mengantuk. Di kala tengah mengeksekusi jenis aktivitas yang sifatnya monoton ataupun menjemukan, organ otak rupanya juga dapat memantik reaksi menguap.

Merujuk pandangan Dr. Pathak, seseorang mempunyai kecenderungan untuk lebih intensif menguap sewaktu melewati rutinitas yang berulang serta minim tantangan. Aktivitas menguap disinyalir ikut membantu menaikkan level kewaspadaan internal agar sistem saraf otak tetap terjaga meski sedang berada di dalam situasi yang membosankan.

 Oleh karena itu, refleks menguap di kala mengikuti agenda rapat yang panjang, mendengarkan paparan kuliah, atau menuntaskan pekerjaan yang monoton tergolong sebagai fenomena yang lumrah terjadi.

Menguap bisa menular karena respons sosial Pernahkah Anda spontan ikut menguap sesaat sehabis menyaksikan orang lain melakukannya? Fenomena psikologis ini rupanya menyimpan landasan penjelasan ilmiah. Dr. Pathak memaparkan, sejumlah teori mengemukakan bahwa aktivitas menguap mempunyai fungsi sosial di dalam tatanan kelompok. Hal inilah yang melatarbelakangi mengapa sifat menguap kerap kali mudah menular.

"Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang lebih mudah tertular menguap cenderung memiliki tingkat empati yang lebih tinggi,” ucap dia.

Reaksi psikologis tersebut diduga berkaitan erat dengan kapasitas kemampuan emosional seseorang untuk saling terhubung sekaligus merasakan situasi yang sedang dialami oleh individu lain di lingkungan sekitarnya.

Bisa menjadi tanda kondisi medis tertentu Walaupun pada umumnya diklasifikasikan sebagai hal yang normal, intensitas menguap yang mencuat terlampau sering hingga berulang kali dalam kurun waktu satu menit atau sampai mengganggu produktivitas harian tidak boleh dipandang sebelah mata. Dr. Pathak menilai, beberapa jenis penyakit kronis layaknya multiple sclerosis maupun penyakit Parkinson telah diidentifikasi dapat memicu seseorang menjadi lebih sering menguap.

Keadaan tersebut disinyalir memiliki sangkut paut dengan adanya gangguan fungsi pada area batang otak yang memegang peranan dalam mengendalikan refleks menguap. Oleh sebab itu, bilamana gejala menguap ini berlangsung secara berkesinambungan tanpa disertai alasan pemicu yang jelas, dibarengi rasa kantuk yang teramat berat, atau mulai mengusik kualitas hidup, ada baiknya Anda segera mengonsultasikannya kepada dokter. 

Tindakan pemeriksaan medis sangat diperlukan guna memastikan apakah keluhan tersebut murni berkaitan dengan manajemen pola tidur atau justru menjadi sinyal adanya gangguan kesehatan yang memerlukan penanganan lebih lanjut.

Terkini