BI Prakirakan Kinerja Penjualan Eceran Juni 2026 Tetap Terjaga

Kamis, 09 Juli 2026 | 21:54:31 WIB
Indeks Penjualan Riil Juni 2026 Diproyeksi Tembus 221,6 [FOTO: NET].

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) lewat temuan Survei Penjualan Eceran memproyeksikan performa penjualan eceran di bulan Juni 2026 berada dalam kondisi aman, yang diindikasikan oleh nilai Indeks Penjualan Riil (IPR) yang diperkirakan menyentuh angka 221,6.

Estimasi indeks tersebut terpantau masih memperlihatkan penyusutan, yaitu di angka 4,4 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Direktur Executif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam pernyataan tertulisnya di Jakarta, Kamis, mengutarakan bahwa kondisi ini utamanya disokong oleh pertumbuhan positif pada penjualan tahunan di sektor kelompok suku cadang dan aksesori, beserta perlengkapan rumah tangga lainnya.

Apabila dirinci berdasarkan data survei, kelompok suku cadang dan aksesori menorehkan angka indeks 145,5 atau naik 11 persen (yoy), sedangkan untuk kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya menorehkan indeks 83,8 atau naik sebesar 1,8 persen (yoy).

Akan tetapi, sejumlah sektor diperkirakan akan terperosok ke zona penyusutan, seperti kelompok barang budaya dan rekreasi (indeks 56,4; merosot 8,5 persen yoy) dan juga kelompok bahan bakar kendaraan bermotor (indeks 103,5; merosot 7,8 persen yoy), selepas pada bulan sebelumnya masing-masing sempat naik sebesar 0,2 persen (yoy) dan 0,3 persen (yoy).

Dilihat secara bulanan, penjualan eceran untuk Juni 2026 diproyeksikan melemah sebesar -0,8 persen (month to month/mtm), angka yang dinilai lebih kondusif bila dikomparasikan dengan bulan sebelumnya yang terkoreksi hingga -1,5 persen (mtm).

Pihak BI mencatat, perbaikan tren ini didorong oleh naiknya performa penjualan pada kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya (1,9 persen mtm) serta subkelompok sandang (4,7 persen mtm) yang bertepatan dengan momentum libur sekolah di akhir Juni 2026.

Di lain sisi, untuk kelompok barang budaya dan rekreasi (-2,0 persen mtm); kelompok suku cadang dan aksesori (-3,1 persen mtm); dan kelompok makanan, minuman, dan tembakau (-0,7 persen mtm) mencatatkan tren membaik dari bulan sebelumnya, walau posisinya masih tertahan di area penyusutan.

Sementara untuk catatan riil di Mei 2026, nilai IPR berada di posisi 223,4 atau -3,9 persen (yoy), angka yang terbilang ajek dari bulan sebelumnya yang menyentuh -3,7 persen (yoy).

Mengacu pada data hasil survei, performa IPR Mei 2026 ditopang oleh pertumbuhan berkala pada penjualan tahunan kelompok suku cadang dan aksesori (indeks 150,1; naik 11,2 persen yoy), bahan bakar kendaraan bermotor (indeks 107,0; naik 0,3 persen yoy), serta barang budaya dan rekreasi (indeks 57,5; naik 0,2 persen yoy).

Jika ditinjau secara bulanan, nilai penjualan eceran pada Mei 2026 melemah sebesar -1,5 persen (mtm), capaian yang lebih bagus ketimbang realisasi di bulan sebelumnya yang merosot hingga -11,6 persen (mtm).

BI menjabarkan bahwa tren membaik ini dipicu oleh naiknya performa kelompok peralatan informasi dan komunikasi serta kelompok bahan bakar kendaraan bermotor yang bertumbuh masing-masing 1,0 persen (mtm) dan 1,3 persen (mtm), sehabis pada April 2026 masing-masing bertengger di angka -9,4 persen (mtm) dan 0,2 persen (mtm).

Bukan hanya itu, kelompok lain pun memperlihatkan arah perbaikan yang ditandai dengan angka penyusutan yang lebih minim ketimbang periode lalu, utamanya pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau (-1,3 persen mtm), kelompok barang budaya dan rekreasi (-4,2 persen mtm), dan subkelompok sandang (-11,0 persen mtm).

Kondisi tersebut turut dipengaruhi oleh lonjakan permintaan masyarakat dalam momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Kenaikan Yesus Kristus, Iduladha, serta Waisak.

Beralih pada sektor harga, tekanan inflasi untuk Agustus 2026 diproyeksikan mengalami kenaikan, sementara pada November 2026 diperkirakan berada dalam posisi yang cukup konstan.

Fenomena ini diindikasikan oleh nilai Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Agustus 2026 yang menyentuh 178,0, atau lebih tinggi bila dibandingkan nilai IEH pada Juli 2026 yang sebesar 175,8, akibat dipicu oleh kenaikan pada harga bahan baku.

Sedangkan untuk IEH November 2026 diproyeksikan berada pada angka 167,5, angka yang relatif ajek jika dikomparasikan dengan nilai IEH Oktober 2026 yang sebesar 167,6.

Terkini