Tertekan Sentimen Global, Rupiah Bergerak di Kisaran Rp18.000

Kamis, 09 Juli 2026 | 23:08:31 WIB
Nilai Tukar Rupiah Hari Ini: Diproyeksi Bergerak Fluktuatif [FOTO: NET].

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diproyeksikan bergerak fluktuatif dalam rentang Rp17.950 hingga Rp18.050 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Kamis (9/7/2026). Mengacu pada data analisis Doo Financial Futures, rupiah menutup perdagangan Rabu (8/7) dengan pelemahan tipis sebesar 0,19% ke level Rp18.014.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan bahwa tekanan terhadap mata uang Garuda meningkat akibat penurunan signifikan Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) Indonesia sepanjang Juni. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa konsumsi rumah tangga, sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi nasional, berisiko melambat. 

Selain itu, pasar modal bereaksi negatif terhadap kabar bahwa S&P Dow Jones Indices memasukkan Indonesia ke dalam daftar pemantauan (watchlist) untuk potensi penurunan klasifikasi pasar ekuitas dari Emerging Market menjadi Frontier Market.

"Berita mengenai potensi downgrade klasifikasi pasar ekuitas Indonesia ke frontier dari S&P Dow Jones juga menekan rupiah," ujarnya, Rabu (8/7/2026).

Di samping faktor domestik, pelaku pasar saat ini sedang mencermati risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan dirilis malam ini. Dokumen tersebut diharapkan memberikan kejelasan mengenai arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat ke depan. 

Apabila Ketua The Fed, Kevin Warsh, kembali menunjukkan sikap hawkish, dolar AS berpotensi menguat dan memberikan tekanan tambahan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Selanjutnya, perhatian investor tertuju pada rilis data penjualan ritel domestik yang dijadwalkan besok. Data ini krusial untuk mengukur kekuatan konsumsi domestik serta prospek ekonomi pada semester kedua tahun ini. 

Untuk jangka pendek, rupiah diprediksi akan terus bergerak dalam kisaran Rp17.950 hingga Rp18.050 per dolar AS sembari menunggu kejelasan sentimen domestik maupun arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Terkini