Stunting

Hari Kacang Kacangan Sedunia, Kacang Hijau Cegah Stunting

Hari Kacang Kacangan Sedunia, Kacang Hijau Cegah Stunting
Hari Kacang Kacangan Sedunia, Kacang Hijau Cegah Stunting

JAKARTA - Peringatan Hari Kacang-kacangan Sedunia setiap 10 Februari menjadi pengingat bahwa solusi masalah gizi tidak selalu harus mahal atau bergantung pada pangan impor. 

Di tengah upaya menekan angka stunting di Indonesia, kacang hijau muncul sebagai salah satu pangan lokal yang potensinya kerap terabaikan. 

Padahal, bahan pangan ini mudah dibudidayakan, terjangkau, dan menyimpan kandungan gizi penting yang dibutuhkan dalam masa pertumbuhan anak.

Kacang hijau telah lama dikenal sebagai sumber protein nabati yang akrab di dapur masyarakat Indonesia. Namun, pemanfaatannya sebagai bagian dari intervensi gizi terstruktur, khususnya untuk anak-anak dengan masalah gizi, masih perlu terus diperkuat. 

Momentum Hari Kacang-kacangan Sedunia menjadi kesempatan untuk menyoroti kembali peran strategis pangan lokal ini dalam mendukung kesehatan masyarakat.

Potensi Kacang Hijau Untuk Cegah Stunting

Pakar Gizi IPB University, Prof Ali Khomsan, menyatakan bahwa pemanfaatan kacang hijau sebagai makanan tambahan di Posyandu dapat berkontribusi pada peningkatan asupan protein anak. Terutama bagi anak yang mengalami stunting, kurang gizi, bahkan gizi buruk. Menurutnya, pendekatan pangan berbasis bahan lokal perlu dioptimalkan agar intervensi gizi dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.

“Kalau di Posyandu pemberiannya hanya 1 bulan sekali, itu pasti tidak cukup. Anak-anak yang mengalami stunting atau masalah gizi harus diutamakan pendekatan pangan, diberikan makan setiap hari, ada yang selama 3 bulan atau 6 bulan,” jelasnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa penanganan stunting tidak bisa bersifat sesaat. Konsistensi pemberian pangan bergizi menjadi kunci agar anak mendapatkan asupan nutrisi yang memadai untuk menunjang tumbuh kembangnya.

Kandungan Protein Tinggi Dan Mudah Dibudidayakan

Kacang hijau memiliki keunggulan sebagai tanaman pangan yang mudah dibudidayakan di lahan kering. Kondisi ini menjadikannya cocok dikembangkan di berbagai wilayah Indonesia, termasuk daerah dengan keterbatasan sumber air. Selain itu, kandungan proteinnya yang tinggi membuat kacang hijau relevan sebagai sumber gizi alternatif bagi masyarakat.

“Kalau kita bicara tentang kacang hijau sebagai leguminosa, ini adalah tanaman yang memang kaya protein. Kandungan proteinnya bisa sekitar 20 sampai 35 persen, sehingga relatif tinggi,” ujar Prof Ali.

Protein merupakan zat gizi penting yang berperan dalam pembentukan jaringan tubuh, pertumbuhan sel, serta menjaga daya tahan tubuh. Kandungan protein kacang hijau yang cukup signifikan menjadikannya pilihan tepat untuk mendukung kebutuhan gizi anak-anak dan ibu hamil, terutama di wilayah dengan akses terbatas terhadap protein hewani.

Protein Nabati Perlu Dikombinasikan Protein Hewani

Meski kaya protein, Prof Ali mengingatkan bahwa protein nabati memiliki daya cerna yang lebih rendah dibandingkan protein hewani. Oleh karena itu, pemanfaatan kacang hijau sebaiknya tidak berdiri sendiri, melainkan dikombinasikan dengan sumber protein hewani agar manfaat gizinya lebih optimal.

“Protein nabati daya cernanya tidak setinggi pangan hewani, sehingga harus dikombinasikan dengan pangan hewani seperti susu atau telur. Tetapi, pangan lokal kacang hijau ini harus tetap dioptimalkan,” tuturnya.

Dalam praktiknya, olahan kacang hijau dalam bentuk bubur atau camilan relatif mudah diterima oleh anak-anak. Teksturnya yang lembut dan rasanya yang netral memungkinkan kacang hijau diolah menjadi berbagai menu yang ramah bagi balita. Dengan tambahan protein hewani, nilai gizi makanan tersebut dapat meningkat secara signifikan.

Solusi Pangan Murah Dan Ramah Lingkungan

Ketergantungan pada protein hewani kerap menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat, terutama ketika harga pangan mengalami fluktuasi. Prof Ali menyoroti bahwa dalam kondisi tersebut, kacang-kacangan dapat menjadi solusi pangan fungsional yang lebih terjangkau namun tetap kaya manfaat gizi.

Selain aspek ekonomi, kacang hijau juga memiliki keunggulan dari sisi lingkungan. Tanaman ini mampu mengikat nitrogen di dalam tanah, sehingga dapat meningkatkan kesuburan lahan pertanian. Dengan demikian, budidaya kacang hijau tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi, tetapi juga mendukung keberlanjutan sektor pertanian.

Upaya pencegahan stunting melalui intervensi gizi berbasis pangan lokal diharapkan dapat menurunkan angka stunting secara signifikan di Indonesia. Pemanfaatan kacang hijau sebagai bahan pangan sehari-hari menjadi langkah strategis yang dapat diterapkan secara luas.

Beragam olahan dapat dibuat dari kacang hijau, mulai dari bubur, susu kacang, hingga tepung yang diolah menjadi biskuit. Produk-produk tersebut relatif mudah dibuat oleh ibu rumah tangga dan dapat menjadi alternatif camilan sehat bagi anak. Dengan kreativitas pengolahan dan dukungan edukasi gizi, kacang hijau berpotensi menjadi pilar penting dalam pemenuhan gizi keluarga.

Momentum Hari Kacang-kacangan Sedunia pun menjadi ajakan untuk kembali melirik kekayaan pangan lokal. Kacang hijau bukan sekadar bahan pangan tradisional, melainkan sumber gizi bernilai tinggi yang mampu mendukung kesehatan generasi masa depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index