Rupiah

Penguatan Rupiah Dipicu Komitmen Trump Lanjutkan Kebijakan Tarif

Penguatan Rupiah Dipicu Komitmen Trump Lanjutkan Kebijakan Tarif
Penguatan Rupiah Dipicu Komitmen Trump Lanjutkan Kebijakan Tarif

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan penguatan pada awal perdagangan di Jakarta. Lonjakan ini sejalan dengan penegasan Presiden AS Donald Trump untuk melanjutkan kebijakan tarif, yang turut memengaruhi pergerakan dolar dan aset global.

Pada pembukaan perdagangan Kamis, rupiah menguat 56 poin atau 0,33 persen menjadi Rp16.744 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp16.800 per dolar AS. Penguatan ini menandai respons pasar terhadap sinyal stabilitas kebijakan perdagangan AS.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai bahwa penguatan rupiah erat kaitannya dengan komitmen Trump untuk mempertahankan tarif, yang menimbulkan ketidakpastian pasar dan meredam permintaan terhadap dolar AS.

“Penguatan ini terkait erat dengan penegasan kembali komitmen Trump untuk mempertahankan kebijakan tarif, yang meningkatkan ketidakpastian mengenai arah kebijakan perdagangan AS di masa depan dan meredam permintaan terhadap dolar AS,” ucap Josua Pardede kepada ANTARA.

Trump menegaskan tidak ada sinyal pelonggaran terhadap tarif, sambil menekankan bahwa mitra dagang asing perlu mematuhi perjanjian yang telah ada. Bahkan, tarif disebut dapat berfungsi sebagai pengganti pajak penghasilan, menunjukkan konsistensi kebijakan perdagangan AS di tengah berbagai dinamika global.

Selain faktor kebijakan AS, pergerakan rupiah juga dipengaruhi oleh arus modal asing ke Indonesia. Bank Indonesia melaporkan masuknya modal asing sebesar 1,6 miliar dolar AS, yang turut menopang stabilitas nilai tukar rupiah. Investor global nampaknya melakukan diversifikasi aset, mengalihkan sebagian investasi dari dolar AS ke mata uang emerging market seperti rupiah.

Proyeksi pergerakan rupiah ke depan menunjukkan kisaran Rp16.700-Rp16.800 per dolar AS, menunggu perkembangan selanjutnya terkait kebijakan tarif global dan data ekonomi makro domestik yang akan dirilis.

Pengaruh kebijakan tarif Trump terhadap rupiah

Kebijakan tarif AS telah menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi nilai tukar rupiah. Dengan penguatan rupiah saat ini, terlihat bahwa pasar mulai menyesuaikan diri terhadap kepastian kebijakan perdagangan AS.

Investor menilai bahwa kepastian tarif membantu mengurangi volatilitas pasar global. Hal ini mendorong aliran modal masuk ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, yang pada gilirannya meningkatkan permintaan terhadap rupiah.

Trump menegaskan bahwa tarif global sementara sebesar 10 persen akan tetap diterapkan, dan upaya peningkatan menjadi 15 persen sedang dipertimbangkan, menyusul keputusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan langkah-langkah tarif resiprokal sebelumnya. Pernyataan ini memberi sinyal kuat kepada investor mengenai arah kebijakan jangka menengah.

Respons pasar dan investor terhadap pernyataan Trump

Pernyataan Trump di hadapan Kongres AS memberikan dampak nyata pada perilaku investor global. Hampir semua negara dan perusahaan disebut ingin mempertahankan kesepakatan tarif yang telah dibuat sebelum keputusan Mahkamah Agung.

Investor merespons dengan mengalihkan sebagian aset dari dolar AS ke mata uang lain, termasuk rupiah. Pergeseran ini memicu permintaan terhadap rupiah meningkat dan membantu memperkuat posisi nilai tukar di pasar domestik.

Kepala Ekonom Permata Bank menekankan bahwa respons ini bukan hanya terkait penguatan rupiah, tetapi juga menandai bagaimana kebijakan AS memengaruhi sentimen pasar global dan aliran modal internasional. Investor memanfaatkan momentum untuk melakukan diversifikasi aset, menyeimbangkan portofolio di tengah ketidakpastian global.

Kondisi fundamental rupiah dan prospek jangka pendek

Secara fundamental, rupiah tetap berada pada level sehat dengan dukungan arus modal asing dan kestabilan ekonomi domestik. Meskipun penguatan ini terjadi, pasar tetap mewaspadai volatilitas akibat ketidakpastian perdagangan internasional.

Proyeksi nilai tukar rupiah untuk beberapa hari ke depan diperkirakan berada di kisaran Rp16.700-Rp16.800 per dolar AS. Stabilitas ini juga didukung oleh arus modal masuk sebesar 1,6 miliar dolar AS yang tercatat oleh Bank Indonesia, serta sentimen positif dari kepastian kebijakan tarif AS.

Pemerintah dan pelaku pasar tetap memantau perkembangan global, termasuk kemungkinan revisi tarif dan dampak keputusan kebijakan ekonomi AS, yang dapat memicu fluktuasi baru di pasar valuta asing.

Dampak bagi perdagangan dan perekonomian domestik

Penguatan rupiah memiliki efek positif bagi impor dan stabilitas harga barang di dalam negeri. Kenaikan nilai tukar membantu menekan biaya impor, terutama bahan baku dan energi, sehingga berpotensi menahan laju inflasi domestik.

Di sisi lain, eksportir perlu menyesuaikan strategi agar tetap kompetitif di pasar global. Meskipun rupiah menguat, stabilitas nilai tukar akan memberikan kepastian bagi perencanaan bisnis dan perdagangan internasional.

Pemerintah diharapkan terus memantau dinamika global dan memastikan koordinasi dengan otoritas keuangan domestik agar penguatan rupiah dapat mendukung pertumbuhan ekonomi tanpa menimbulkan tekanan baru di sektor perdagangan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index