Dokter Beberkan 3 Kunci Sederhana Panjang Umur dan Sehat

Dokter Beberkan 3 Kunci Sederhana Panjang Umur dan Sehat
Kunci Hidup Sehat dan Panjang Umur Lewat Kebiasaan Simpel [FOTO ; NET].

JAKARTA  - Cukup banyak orang yang menghubungkan usia panjang dengan konsumsi suplemen, pengecekan medis mutakhir, atau beraneka terapi antipenuaan yang biayanya tidak murah. 

Padahal, menurut praktisi anti-aging, dr. Yusri Binut, landasan untuk hidup lebih lama dan senantiasa sehat sebetulnya berawal dari kebiasaan yang tampak simpel serta dapat diterapkan oleh hampir tiap orang.

Dr. Yusri mengutarakan bahwa arah tren kesehatan saat ini pun sudah beralih. Bila dahulu masyarakat sekadar mendambakan usia panjang, sekarang kian banyak yang memburu umur panjang dengan keadaan tubuh yang senantiasa bugar dan mandiri. 

Konsep longevity pada umumnya mencakup memperpanjang umur hidup atau lifespan, namun bagi dr. Yusri poin terpenting dari longevity ialah memperpanjang masa hidup sehat atau healthy lifespan, sehingga seseorang tetap dapat beraktivitas dengan baik walaupun usia terus bertambah.

Kunci Panjang Umur Cukup Fokus pada 3 Kebiasaan Ini

1. Gerak, makan, dan tidur jadi fondasi utama

Di tengah maraknya tren wellness dan anti-aging, dr. Yusri menyatakan terdapat tiga perkara mendasar yang malah sering dilupakan.

"Sebenarnya intinya itu ada tiga: gerak, makan, tidur. Tiga ini yang selalu jadi hal yang paling basic yang kami semua bisa lakuin," jelas dr. Yusri saat ditemui Kompas.com di Ageless Festival, PIM 3 City Hall pada Sabtu (13/06).

Dari segi pola makan, dr. Yusri menganjurkan untuk memperbanyak konsumsi makanan utuh atau real food serta membatasi makanan ultra-proses yang saat ini makin mudah dijumpai dalam aktivitas sehari-hari. 

Sementara untuk aktivitas fisik, ia menggarisbawahi pentingnya tubuh agar konsisten aktif bergerak tiap hari. Wujudnya tidak mesti berupa olahraga berat, melainkan dapat diawali dengan berjalan kaki secara rutin.

"Nah, sehari bisa 10 ribu step ya. Terus kami latihan otot. Karena kuncinya juga otot. Otot itu kalau makin kecil, bikin metabolisme jadi enggak bagus, tulang juga enggak oke, jadi nanti akan berpengaruh ke masa senjanya," ujar dr. Yusri.

Volume otot yang kian menyusut seiring bertambahnya usia, menurut dr. Yusri, bisa memengaruhi sistem metabolisme, kesehatan tulang, hingga mutu kehidupan ketika menginjak usia lanjut.

2. Tidak menganggap tidur sebagai aktivitas sepele

Dari ketiga landasan tersebut, waktu tidur menjadi unsur yang paling sering dikesampingkan. dr. Yusri menjelaskan bahwa banyak orang telah mulai memperhatikan asupan makanan dan olahraga, namun masih menilai waktu tidur dapat ditangguhkan demi pekerjaan atau rutinitas lainnya.

"Seringnya pasien gampang untuk benerin (pola) makan dan gerak. Tapi tidur tuh suka dilupain. Kadang misalnya, entar dulu deh masih ada kerjaan, masih ada meeting, tidurnya nanti yang secara enggak sadar bikin aging jadi lebih cepat," ungkap dr. Yusri.

Padahal, tidur merupakan salah satu proses pemulihan paling krusial bagi tubuh orang dewasa. Saat kualitas maupun durasi tidur terganggu, proses pemulihan tidak akan berjalan secara maksimal.

"Tidur adalah salah satu kunci recovery di orang dewasa. Kalau tidurnya nggak dijaga kualitas dan juga kuantitasnya, maka tubuh recovery-nya jadi nggak maksimal," jelasnya.

Ia memaparkan situasi tersebut dapat berimbas pada keseimbangan hormon, metabolisme, hingga efektivitas tubuh dalam membakar lemak. Oleh sebab itu, salah satu rutinitas ringkas yang ia anjurkan ialah beristirahat lebih awal dan mengurangi kebiasaan begadang yang tidak mendesak.

"Tidurnya di bawah jam 10. Itu hal yang paling sepele yang kami bisa lakuin untuk jaga kualitas tidur dan jaga kualitas recovery kami," pungkas dr. Yusri.

3. Suplemen bukan prioritas pertama

dr. Yusri pun mengingatkan agar masyarakat tidak serta-merta mencari opsi instan lewat suplemen sebelum membenahi kebiasaan mendasar. 

Suplemen memang tergolong ke dalam salah satu pilar antipenuaan, namun kedudukannya berada di bawah setelah kebutuhan primer tubuh terpenuhi.

"Jangan dibalik pilarnya. Kami lakukan dulu yang fundamental tadi, baru suplemen," seru dr. Yusri.

Ia berpandangan banyak orang justru terjebak dalam pola pikir bahwa vitamin dan suplemen bisa menggantikan gaya hidup sehat. Padahal tanpa landasan yang kokoh, hasilnya tidak akan optimal.

Dr. Yusri pun menegaskan bahwa hidup lebih lama tidak melulu berarti hidup lebih sehat. Akan tetapi, hidup sehat sejak usia dini akan memperbesar peluang seseorang menikmati umur yang lebih panjang dengan kualitas hidup yang tetap terjaga dengan baik.

"Kalau hidup lebih sehat, sudah pasti kemungkinan besar bisa hidup lebih lama. Tapi kalau hidup lebih lama, belum tentu lebih sehat," tutup dr. Yusri.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index