Pertamax Naik, Pengendara Pilih Batasi Isi Bensin Sesuai Nominal

Pertamax Naik, Pengendara Pilih Batasi Isi Bensin Sesuai Nominal
Tak Lagi Isi Full Tangki, Pengendara Atur Ulang Bujet Usai Pertamax Naik [FOTO: NET].

JAKARTA - Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi varian Pertamax mulai menggeser pola kebiasaan sebagian pengguna kendaraan di wilayah Jakarta. 

Apabila pada masa sebelumnya mereka terbiasa memesan pengisian penuh (full tank) pada tangki kendaraan saat mengantre di SPBU, kini sejumlah kalangan memilih untuk membatasi kuantitas pembelian BBM diselaraskan dengan kondisi finansial.

Satu di antaranya ialah Farhan (29), seorang pengguna mobil yang membeberkan bahwa kini dirinya sekadar memesan pengisian Pertamax senilai nominal Rp 200.000 tiap kali bertandang ke SPBU.

"Sekarang sudah di-bujet beli dengan nyebutin nominalnya Rp 200.000. Kalau dulu bilangnya full ya, sekarang takut lebih dari Rp 200.000, jadi sesuai bujet saja sanggupnya segitu," ujar Farhan saat ditemui di kawasan Cikini Raya Jakarta Pusat, Kamis (25/6/2026).

Nilai jual Pertamax yang melonjak tinggi memaksa Farhan untuk lebih lihai mengatur pos pengeluaran. Dirinya mesti membagi porsi antara anggaran operasional bahan bakar dengan alokasi kebutuhan belanja dapur.

Kendati terpaksa memangkas kuantitas pembelian bahan bakar, Farhan mengaku tetap memilih bertahan memakai Pertamax lantaran armada yang dikemudikannya semenjak awal didesain menggunakan bahan bakar dengan angka oktan atau RON 92.

"Sayang mesin. Karena dari awal beli selalu pakai RON 92, takut malah drop mesinnya," katanya.

Ungkapan senada dilayangkan oleh Ahmad Sofian (36), seorang pemilik unit Toyota CR-V. Dirinya memaparkan kalau alokasi dana untuk membeli komoditas Pertamax membengkak amat kentara dalam beberapa waktu belakangan.

Berdasarkan penjelasan Sofian, sebelumnya dirinya hanya perlu merogoh kocek berkisar Rp 400.000 untuk pengisian tangki penuh yang sanggup mengakomodasi perjalanan selama tiga hari. 

Saat ini, pengeluaran yang wajib digelontorkan melambung hingga kisaran Rp 700.000 peruntukan kurun waktu operasional yang sama.

"Kalau full cukup sampai tiga hari dan ini yang bikin kaget. Biasanya Rp 400.000 dan sekarang Rp 700.000," ujar Sofian.

Meski pendanaan yang dikeluarkan kian menguras dompet, Sofian menyatakan belum memiliki opsi untuk bermigrasi ke varian BBM yang lain. Dirinya khawatir pemanfaatan bahan bakar dengan spesifikasi mutu yang berlainan dapat mengusik performa dapur pacu kendaraannya.

"Saya enggak berani kalau pindah. Takut mesin kotor, rusak, malah biayanya lebih gede," katanya.

Di lain pihak, pengendara lainnya bernama Rifky Ghivari (32), mengutarakan bahwa melesatnya harga Pertamax memicu kalkulasi anggaran bulanan miliknya bergeser.

Menurut pandangannya, pendanaan untuk menyuplai bensin saat ini menjelma selaku salah satu pos pengeluaran paling dominan.

"Hitung-hitungannya sudah mulai berubah, kalau dulu lebih banyak pengeluarannya buat belanja bulanan tapi sekarang ke bensin. Bensin hampir habis Rp 500.000 buat semingguan," kata Rifky.

Walau begitu, Rifky tetap memantapkan pilihan untuk memanfaatkan Pertamax lantaran menganggap standar mutu bahan bakar tersebut selaras dengan spesifikasi kebutuhan mesinnya.

"Tapi kendaraan saya memang dari awal sudah pakai Pertamax, jadi buat pindah agak riskan juga," ujarnya.

Dampak dari kenaikan harga Pertamax memaksa beberapa kalangan pengendara untuk memutar otak dalam strategi keuangan, dimulai dari membatasi nilai nominal pembelian. 

Kendati demikian, sebagian besar dari mereka tetap memilih bertahan memakai bahan bakar RON 92 tersebut demi memelihara ketahanan mesin kendaraan mereka.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index