JAKARTA - Rasa perih saat buang air kecil sering kali dianggap keluhan sepele yang akan hilang dengan sendirinya. Padahal, sensasi terbakar, anyang-anyangan, hingga rasa tidak tuntas saat berkemih bisa menjadi tanda adanya infeksi saluran kemih.
Jika dibiarkan, kondisi ini tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas dan memicu komplikasi yang lebih serius.
Infeksi Saluran Kemih atau ISK merupakan salah satu gangguan kesehatan yang cukup sering dialami masyarakat. Meski umum terjadi, pemahaman tentang penyebab, faktor risiko, hingga cara pencegahannya masih tergolong minim. Akibatnya, banyak orang baru memeriksakan diri ketika keluhan sudah semakin parah.
Spesialis Urologi Eka Hospital, dr. Febriyani, Sp.U menjelaskan bahwa Infeksi Saluran Kemih terjadi saat mikroorganisme masuk dan berkembang biak di saluran kemih. Kondisi ini bisa menyerang berbagai bagian saluran kemih dan memerlukan penanganan yang tepat agar tidak berulang.
Apa Itu Infeksi Saluran Kemih
Infeksi Saluran Kemih merupakan kondisi klinis dan patologis yang terjadi ketika bakteri, jamur, atau virus menginfeksi saluran kemih. Saluran kemih sendiri mencakup ginjal, ureter, kandung kemih, hingga uretra. Infeksi dapat terjadi di salah satu atau beberapa bagian tersebut.
"Jadi Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan suatu kondisi secara klinis dan patologis yang terjadi di saluran kemih. Saluran kemih bisa terjadi pada kedua ginjal, kandung kemih atau ureter," kata dr. Febriyani.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa penyebab utama ISK adalah bakteri Escherichia coli atau E. coli. Selain bakteri, virus tertentu juga dapat menjadi penyebab infeksi. Mikroorganisme ini umumnya berasal dari saluran pencernaan dan berada di sekitar area kemaluan.
Bakteri yang berada di sekitar anus atau kelamin dapat masuk ke dalam urine melalui uretra. Setelah itu, bakteri dapat naik menuju kandung kemih dan berkembang biak, sehingga memicu infeksi. Jika tidak ditangani, infeksi bahkan bisa menyebar hingga ke ginjal.
Faktor Risiko Infeksi Saluran Kemih
Infeksi Saluran Kemih bisa dialami oleh siapa saja, namun ada sejumlah faktor yang meningkatkan risikonya. Faktor usia dan jenis kelamin menjadi salah satu penentu utama. Pada pria, risiko ISK dapat meningkat akibat gangguan prostat. Sementara pada wanita, kondisi seperti kehamilan, menopause, dan prolaps organ panggul membuat risiko infeksi lebih tinggi.
Selain itu, kondisi medis tertentu juga berperan besar. Sistem imun yang lemah membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi. Penyakit seperti diabetes, gangguan saraf, serta adanya batu ginjal dapat memicu terjadinya ISK.
Aktivitas seksual juga termasuk faktor risiko. Hubungan seksual yang aktif atau sering dapat memudahkan bakteri masuk ke saluran kemih. Oleh karena itu, kebersihan area intim dan kebiasaan setelah berhubungan intim menjadi hal penting dalam pencegahan ISK.
Gejala Infeksi Saluran Kemih
Gejala Infeksi Saluran Kemih dapat bervariasi, tergantung pada lokasi dan tingkat keparahan infeksi. Berikut beberapa tanda dan keluhan yang umum dirasakan penderita ISK.
1. Sensasi terbakar atau nyeri saat buang air kecil yang sering disertai rasa tidak nyaman.
2. Frekuensi buang air kecil meningkat, namun volume urine yang keluar sedikit.
3. Urine tampak keruh, berbau menyengat, atau terkadang bercampur darah.
4. Nyeri pada panggul atau perut bagian bawah.
5. Demam dan menggigil, terutama jika infeksi mulai menyebar.
6. Mual dan muntah sebagai respons tubuh terhadap infeksi.
7. Tekanan darah menurun hingga menyebabkan penurunan kesadaran pada kasus berat.
Jika gejala-gejala tersebut muncul, pemeriksaan medis sangat disarankan agar infeksi dapat ditangani sejak dini.
Cara Mengatasi dan Mencegah Infeksi Saluran Kemih
Penanganan dan pencegahan Infeksi Saluran Kemih sangat bergantung pada kebiasaan sehari-hari. Beberapa langkah berikut dapat membantu mengurangi risiko ISK sekaligus mendukung proses pemulihan.
1. Minum air putih secara cukup, minimal delapan gelas per hari, agar buang air kecil lebih teratur dan bakteri dapat keluar bersama urine.
2. Khusus perempuan, biasakan membersihkan area kemaluan dari arah depan ke belakang setelah buang air besar untuk mencegah perpindahan bakteri dari anus ke uretra dan vagina.
3. Rutin mengganti pembalut atau tampon saat menstruasi guna menjaga kebersihan area intim.
4. Usahakan buang air kecil dan membersihkan area kemaluan setelah berhubungan intim.
5. Hindari penggunaan produk pembersih kewanitaan yang berpotensi menimbulkan iritasi.
6. Tidak menggunakan alat kontrasepsi jenis diafragma atau yang mengandung spermisida karena dapat meningkatkan risiko ISK.
Perlu diwaspadai, apabila Infeksi Saluran Kemih terjadi berulang atau bersifat rekuren, pemeriksaan lebih lanjut oleh spesialis urologi sangat diperlukan. Kondisi ini bisa menjadi tanda adanya kelainan struktur saluran kemih atau batu ginjal yang mendasarinya.
Dengan memahami penyebab, faktor risiko, serta langkah pencegahannya, Infeksi Saluran Kemih dapat ditangani lebih cepat dan risiko komplikasi pun dapat diminimalkan. Kesadaran untuk menjaga kebersihan dan pola hidup sehat menjadi kunci utama dalam mencegah gangguan ini.