Gas Alam

Harga Gas Alam Turun Tajam Batubara Bertahan Awal Tahun

Harga Gas Alam Turun Tajam Batubara Bertahan Awal Tahun
Harga Gas Alam Turun Tajam Batubara Bertahan Awal Tahun

JAKARTA - Pergerakan harga komoditas energi global pada awal 2026 memperlihatkan dinamika yang tidak seragam. 

Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan transisi energi yang terus berlangsung, gas alam dan batubara justru menunjukkan arah pergerakan yang berbeda. 

Kondisi ini menegaskan bahwa faktor fundamental masing-masing komoditas masih memegang peran dominan dalam menentukan arah harga di pasar.

Berdasarkan data Trading Economics yang dipantau pada pukul 17.20 WIB, harga gas alam tercatat berada di level US$ 3,1 per MMBtu. Angka tersebut mencerminkan penurunan sebesar 7 persen secara harian dan terkoreksi 13,8 persen secara year to date. 

Padahal, pada 27 Januari 2026 lalu, harga gas alam sempat menyentuh level US$ 7 per MMBtu, sebelum akhirnya mengalami koreksi tajam dalam waktu relatif singkat.

Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, menjelaskan bahwa anjloknya harga gas alam tidak terjadi tanpa sebab. Menurutnya, terdapat kombinasi faktor fundamental yang secara bersamaan menekan harga komoditas energi tersebut.

Tekanan Cuaca Dan Kondisi Pasokan

Salah satu faktor utama yang memicu penurunan harga gas alam adalah anomali cuaca di belahan bumi utara. Wahyu menjelaskan bahwa musim dingin berlangsung lebih ringan dari perkiraan pasar, sehingga kebutuhan pemanas ruangan jauh lebih rendah dibandingkan proyeksi awal.

Kondisi ini berdampak langsung pada tingkat konsumsi gas alam yang biasanya melonjak selama musim dingin. 

“Dampaknya, level inventaris gas alam tetap tinggi. Pasokan yang melimpah ini secara otomatis menekan harga,” ujar Wahyu.

Selain faktor cuaca, tekanan harga gas alam juga berasal dari pemulihan produksi di Amerika Serikat. Aktivitas produksi yang kembali normal, ditambah dengan peningkatan aliran pipa yang sebelumnya sempat terganggu, membuat pasokan gas semakin melimpah di pasar global. Situasi ini memperkuat sentimen bearish dan mendorong harga bergerak turun dalam waktu singkat.

Batubara Bertahan Sebagai Energi Baseload

Berbeda dengan gas alam, harga batubara menunjukkan ketahanan yang relatif lebih baik. Wahyu menilai, peran batubara sebagai komoditas baseload untuk pembangkit listrik, khususnya di kawasan Asia, masih sangat kuat sehingga menopang pergerakan harganya.

Meskipun sempat mengalami koreksi, permintaan batubara dari sektor industri tetap terjaga. Selain itu, keterbatasan substitusi energi dalam jangka pendek di sejumlah negara berkembang membuat batubara masih menjadi pilihan utama untuk menjaga stabilitas pasokan listrik.

Kondisi tersebut menyebabkan harga batubara tidak mengalami penurunan sedalam gas alam. Berdasarkan data terbaru, harga batubara berada di level US$ 115,6 per ton. Secara harian, harga tercatat turun 0,3 persen, namun secara year to date justru masih mencatatkan kenaikan sebesar 7,53 persen.

Peluang Rebound Dan Konsolidasi Harga

Dari sisi prospek, Wahyu memandang bahwa tren koreksi harga gas alam berpeluang mencapai titik jenuh atau bottoming menjelang akhir kuartal pertama 2026. 

Pada periode tersebut, pasar diperkirakan mulai mengalihkan perhatian pada kebutuhan pengisian kembali cadangan gas untuk menghadapi musim panas.

Peluang rebound harga gas alam dinilai masih terbuka, terutama apabila muncul gangguan pasokan akibat faktor geopolitik. Selain itu, harga gas yang relatif murah juga berpotensi mendorong peralihan konsumsi dari batubara ke gas, atau yang dikenal dengan gas-to-coal switching, karena pertimbangan nilai ekonomis.

Sementara itu, prospek harga batubara cenderung bergerak konsolidatif. Meski tekanan dari tren transisi energi global mulai terasa dalam jangka panjang, ketergantungan terhadap batubara sepanjang 2026 dinilai masih cukup tinggi. Oleh karena itu, harga batubara diperkirakan tidak akan jatuh jauh di bawah level psikologisnya dalam waktu dekat.

Strategi Investor Menghadapi Volatilitas Energi

Terkait kelayakan investasi, Wahyu menilai komoditas energi tetap menarik untuk dicermati sepanjang 2026. Namun, ia menekankan bahwa instrumen ini lebih sesuai bagi investor dengan profil risiko tinggi atau trader aktif yang siap menghadapi volatilitas harga.

Menurutnya, volatilitas tinggi pada gas alam justru membuka peluang keuntungan melalui mekanisme mean reversion, yakni kecenderungan harga untuk kembali ke rata-rata setelah mengalami kejatuhan ekstrem. Strategi ini dapat dimanfaatkan oleh pelaku pasar yang memiliki manajemen risiko dan timing yang tepat.

Di sisi lain, batubara dinilai lebih cocok sebagai instrumen lindung nilai atau sarana diversifikasi portofolio. Pergerakan harganya yang relatif lebih stabil dibandingkan gas alam memberikan karakter defensif di tengah gejolak pasar energi global.

Untuk semester pertama 2026, secara teknikal harga gas alam diperkirakan berpeluang bergerak dengan area resistance di US$ 4,20 per MMBtu dan support di kisaran US$ 2,85 per MMBtu. 

Sementara itu, harga batubara diproyeksikan bergerak sideways dengan resistance di level US$ 125 per ton dan support berada di sekitar US$ 110 per ton.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index