JAKARTA - Tingginya margin bunga perbankan Indonesia kembali menjadi perhatian dalam diskusi ekonomi nasional. Di tengah upaya mendorong pertumbuhan dan efisiensi sektor keuangan, isu Net Interest Margin yang berada pada level tinggi dinilai sebagai persoalan struktural yang telah berlangsung lama.
Dalam forum Economic Outlook di Graha CIMB Niaga, Jakarta, Kamis, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyinggung fenomena tersebut dengan nada serius sekaligus berseloroh.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan Net Interest Margin (NIM) atau pendapatan bunga bersih bank di Indonesia menjadi yang tertinggi di dunia. Saking tingginya, ia berkelakar tertinggi juga di akhirat.
"Ini kan masalah di perbankan kita sudah (lama) mungkin 30 tahun, 40 tahun seperti ini di mana Net Interest Margin kita besar, tertinggi, di dunia, dan akhirat," kelakar Purbaya.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), NIM industri perbankan rata-rata mencapai 4,56% pada Desember 2025. Angka itu sudah turun dari 4,62% pada Desember 2024.
Struktur Perbankan Cenderung Oligopolis
Menurut Purbaya, perbankan Indonesia masih menganut struktur oligopolis sehingga dorongan untuk menurunkan tingkat bunga bank berjalan lambat. Kondisi itu juga yang menyebabkan NIM tergolong tinggi.
"Kalau saya lihat sebagai ekonom ya, struktur perbankan kita cenderung oligopolis. Harusnya bank sentral yang ngatur itu, saya nggak tahu gimana caranya, tetapi harusnya ada cara untuk menurunkan seperti itu," tutur Purbaya.
Ia menilai struktur pasar yang didominasi oleh sejumlah pemain besar membuat kompetisi suku bunga tidak sepenuhnya berjalan optimal. Dalam kondisi seperti ini, transmisi kebijakan moneter ke sektor riil menjadi kurang cepat terasa, terutama dalam bentuk penurunan suku bunga kredit.
Tingginya NIM mencerminkan selisih yang cukup lebar antara bunga kredit dan bunga simpanan. Di satu sisi, kondisi ini menguntungkan perbankan karena memperkuat profitabilitas. Namun di sisi lain, dunia usaha dan masyarakat sebagai debitur menanggung beban bunga yang relatif lebih mahal.
Perbaikan Arah Kebijakan Moneter
Meski demikian, Purbaya melihat kondisi sudah lebih baik setelah Bank Indonesia (BI) menurunkan BI Rate. Ia optimis ke depan arah bunga yang lebih rendah akan terbuka seiring kondisi likuiditas yang cukup.
"Empat bulan itu sudah kelihatan perbaikan arah ekonominya gara-gara bank sentral menurunkan bunga. Sekarang ditambah lagi kita pastikan likuiditas cukup di pasar. Jadi harusnya ruang ke arah bunga yang lebih rendah akan terbuka lagi," imbuh Purbaya.
Penurunan suku bunga acuan oleh bank sentral dinilai mulai memberi sinyal positif terhadap pergerakan ekonomi. Dengan likuiditas yang memadai di pasar, ruang penyesuaian suku bunga kredit diharapkan semakin terbuka.
Kondisi likuiditas yang cukup menjadi salah satu prasyarat penting agar bank memiliki fleksibilitas menurunkan bunga pinjaman tanpa mengganggu stabilitas sistem keuangan. Pemerintah dan otoritas moneter pun terus memantau dinamika tersebut untuk memastikan kebijakan berjalan efektif.
Dampak Terhadap Dunia Usaha Dan Masyarakat
Tingginya NIM selama puluhan tahun menunjukkan bahwa isu ini bukan persoalan jangka pendek. Purbaya sendiri menyebut kondisi tersebut sudah berlangsung sekitar 30 hingga 40 tahun. Artinya, reformasi struktural di sektor perbankan menjadi tantangan tersendiri.
Bagi dunia usaha, suku bunga kredit yang relatif tinggi dapat memengaruhi ekspansi dan investasi. Biaya pinjaman yang besar berpotensi menekan margin usaha serta memperlambat pertumbuhan sektor riil. Oleh karena itu, penurunan bunga kredit kerap menjadi harapan pelaku usaha untuk meningkatkan daya saing.
Sementara bagi masyarakat, terutama pelaku usaha kecil dan menengah, akses pembiayaan dengan bunga terjangkau menjadi faktor krusial. Kebijakan suku bunga yang lebih rendah diharapkan mampu mendorong inklusi keuangan sekaligus memperluas akses kredit produktif.
Di sisi lain, stabilitas perbankan tetap menjadi prioritas utama. Penurunan bunga tidak boleh mengorbankan kesehatan industri perbankan. Karena itu, keseimbangan antara efisiensi, kompetisi, dan stabilitas sistem menjadi kunci dalam merespons tingginya NIM.
Harapan Ke Depan
Pernyataan Purbaya dalam forum tersebut mencerminkan kesadaran pemerintah terhadap pentingnya reformasi sektor keuangan. Struktur pasar yang lebih kompetitif diyakini dapat mempercepat transmisi kebijakan moneter serta menekan margin bunga ke level yang lebih wajar.
Dengan kombinasi penurunan suku bunga acuan dan penguatan likuiditas, peluang penyesuaian bunga kredit dinilai semakin terbuka. Pemerintah berharap tren penurunan NIM yang sudah terlihat dari 4,62% pada Desember 2024 menjadi 4,56% pada Desember 2025 dapat berlanjut secara bertahap.
Ke depan, sinergi antara pemerintah, bank sentral, dan otoritas jasa keuangan menjadi penentu arah kebijakan. Tujuannya tidak hanya menjaga profitabilitas perbankan, tetapi juga memastikan sektor keuangan benar-benar mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.