Kurma

7 Alasan Makan Kurma Saat Sahur Bikin Nggak Mudah Lemas

7 Alasan Makan Kurma Saat Sahur Bikin Nggak Mudah Lemas
7 Alasan Makan Kurma Saat Sahur Bikin Nggak Mudah Lemas

JAKARTA - Selama bulan Ramadan, sahur menjadi momen penting untuk menyiapkan tubuh menjalani puasa seharian. Salah satu strategi sederhana namun efektif agar tubuh tidak mudah lemas adalah mengonsumsi kurma. 

Buah manis ini tidak hanya melepas rasa lapar, tetapi juga menyediakan energi, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan tubuh agar tetap bertenaga.

Kurma, yang banyak dibudidayakan di Mesir, Arab Saudi, Iran, serta negara bagian California dan Arizona di Amerika Serikat, tersedia dalam bentuk segar maupun kering. 

Buah ini praktis dikonsumsi dan cocok sebagai menu sahur, bahkan menjadi alternatif manis yang sehat karena kandungan seratnya yang tinggi. 

Menurut Michael Crupain, M.D., M.P.H., penulis The Power Five: Essential Foods for Optimum Health, kurma memiliki indeks glikemik rendah, sehingga gula dilepaskan secara bertahap dan tidak memicu lonjakan gula darah.

Berikut beberapa alasan ilmiah mengapa makan kurma saat sahur membantu tubuh tetap kuat dan tidak mudah lemas.

1. Sumber energi instan yang tahan lama

Kurma kaya karbohidrat sederhana berupa glukosa dan fruktosa yang cepat diubah menjadi energi oleh tubuh. Glukosa menjadi bahan bakar utama untuk aktivitas sehari-hari, termasuk saat berpuasa. Dengan demikian, mengonsumsi kurma saat sahur dapat membantu tubuh tetap aktif, fokus, dan produktif tanpa merasa cepat lelah.

2. Menjaga gula darah tetap stabil

Meskipun rasanya manis, kurma memiliki indeks glikemik rendah sehingga gula dilepaskan perlahan ke aliran darah. Hal ini mencegah tubuh mengalami lonjakan atau penurunan gula darah secara drastis, yang sering kali menjadi penyebab rasa lemas atau kantuk di siang hari. Konsumsi kurma saat sahur membantu menjaga energi tetap konsisten sepanjang hari.

3. Kaya serat, bikin kenyang lebih lama

Kurma tinggi serat, yang memperlambat proses pencernaan dan penyerapan gula. Serat juga membantu mencegah sembelit, masalah yang kerap muncul saat puasa. Dengan pencernaan yang lancar dan rasa kenyang lebih lama, tubuh menjadi lebih nyaman dan tidak mudah kehilangan energi selama menjalani ibadah puasa.

4. Dipenuhi vitamin dan mineral penting

Kurma mengandung vitamin B kompleks, kalium, magnesium, dan zat besi yang berperan penting dalam metabolisme dan fungsi tubuh:

Vitamin B kompleks mendukung produksi energi.
Kalium membantu menstabilkan tekanan darah.
Magnesium menjaga fungsi otot dan saraf tetap optimal.
Zat besi mencegah anemia yang bisa memicu kelelahan.

Kandungan nutrisi ini membuat kurma menjadi makanan sahur yang ideal untuk menunjang stamina dan kesehatan tubuh secara keseluruhan.

5. Bantu tingkatkan konsentrasi

Kurma mengandung kolin, nutrisi penting untuk fungsi otak dan daya ingat. Kolin mendukung produksi neurotransmitter yang menjaga fokus dan konsentrasi. Dengan mengonsumsi kurma, seseorang bisa tetap produktif dan fokus, meski sedang menahan lapar dan haus.

6. Menyehatkan sistem pencernaan

Selain serat, kurma mengandung prebiotik alami yang merangsang pertumbuhan bakteri baik di usus. Kehadiran bakteri ini menjaga kesehatan pencernaan sekaligus memperkuat sistem imun. Pencernaan yang sehat memungkinkan tubuh menyerap nutrisi lebih efektif, sehingga energi tetap optimal selama berpuasa.

7. Mencegah anemia penyebab lemas

Zat besi dalam kurma berperan dalam pembentukan sel darah merah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh. Asupan zat besi yang cukup membantu menekan risiko anemia, menjaga tubuh tetap bugar dan terhindar dari rasa lemas saat beraktivitas.

Dengan semua keunggulan tersebut, makan kurma saat sahur menjadi pilihan cerdas. Buah ini tidak hanya memberi energi instan, tetapi juga kaya nutrisi, menjaga gula darah stabil, mendukung pencernaan sehat, dan memperkuat fungsi otot serta saraf. Tradisi sahur dengan kurma pun terbukti ilmiah: tubuh tetap bertenaga, fokus terjaga, dan risiko lemas berkurang.

Mengonsumsi kurma sebagai bagian dari sahur adalah strategi sederhana namun efektif agar puasa berjalan lancar. Praktik ini menunjukkan bahwa makanan tradisional tidak hanya memiliki nilai budaya dan religius, tetapi juga mendukung kesehatan secara ilmiah.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index