JAKARTA - Pemerintah tengah mempercepat langkah peningkatan kapasitas layanan KRL Green Line untuk rute Tanah Abang-Rangkasbitung melalui pengerjaan proyek elektrifikasi, penambahan jumlah rangkaian menjadi 12 gerbong, serta penyediaan armada kereta berkapasitas lebih besar.
Kebijakan ini menjadi prioritas utama guna menekan kepadatan penumpang sekaligus memperpendek waktu tunggu antar-kereta (headway) di jalur KRL yang terus mengalami lonjakan pengguna tersebut.
Menteri Perhubungan Dudy Purwaghandi menjelaskan bahwa jalur Green Line mendapatkan prioritas akibat tingginya tingkat permintaan layanan sementara jarak keberangkatan antar-kereta dinilai masih cukup lama.
"Yang paling cepat prosesnya adalah Green Line, elektrifikasinya. Harapannya yang ke Rangkasbitung itu bisa segera diselesaikan, karena headway-nya masih terlalu jauh dan jumlah penumpangnya semakin banyak. PT KAI memprioritaskan Green Line untuk segera dilakukan peningkatan elektrifikasi," ujar Dudy di Jakarta, Jumat (26/6/2026).
Menurut Dudy, setelah proses peningkatan elektrifikasi rampung, pemerintah bakal memperbesar volume angkut melalui perpanjangan rangkaian kereta dari sebelumnya 10 gerbong menjadi 12 gerbong, serta memperbarui armada dengan kereta berukuran lebih besar.
"Nanti kami bisa menambah kapasitas angkut menjadi 12 gerbong dan mengganti kereta yang lebih besar lagi. Dari yang sebelumnya 10 gerbong menjadi 12 gerbong, kemudian dari yang kecil menjadi yang lebih besar, sehingga kapasitas angkut akan meningkat," katanya.
Dudy berharap agar proyek ini dapat diselesaikan dalam waktu dekat dengan target operasi pada tahun 2027 atau selambat-lambatnya tahun 2028.
Dudy meminta kepada masyarakat untuk tetap bersabar selama proses pengerjaan infrastruktur ini berjalan.
"Saya berharap bisa cepat dan selesai di tahun 2027. Paling lambat 2028. Mohon masyarakat bersabar, dengan segala dinamikanya kami akan berusaha sesegera mungkin merealisasikan pembangunan elektrifikasi ke seluruh jalur karena kami memahami kebutuhan masyarakat," ujarnya.
Selain untuk mendongkrak kapasitas tampung kereta, proyek elektrifikasi ini nantinya juga memungkinkan pemangkasan waktu tunggu (headway) sehingga intensitas perjalanan KRL bisa ditambah.
"Dengan peningkatan elektrifikasi ini kami harapkan headway akan semakin berkurang, sehingga kami bisa menambah frekuensi perjalanan dan tentunya juga menambah jumlah sinyal," kata Dudy.
Dudy menambahkan bahwa Kementerian Perhubungan telah menginstruksikan PT KAI untuk mempercepat proses pengadaan rangkaian kereta (trainset) baru begitu proyek elektrifikasi serta sistem persinyalan selesai dikerjakan.
"Trainset-nya sudah kami minta pengadaannya ke KAI. Setelah peningkatan elektrifikasi dan sinyal selesai, maka pengadaan trainset yang lebih banyak dan lebih besar bisa dilakukan. Karena layanan KRL di Jakarta juga didukung skema public service obligation dari pemerintah," ujarnya.
Di sisi lain, Direktur Jenderal Perkeretaapian Allan Tandiono memaparkan bahwa tingkat keterisian penumpang (okupansi) KRL Green Line pada jam-jam sibuk sudah menembus angka 161 persen, sehingga program peningkatan kapasitas ini menjadi sebuah kebutuhan yang sangat mendesak.
"Okupansi pada jam sibuk saat ini mencapai 161 persen. Ini memang menjadi isu yang perlu segera kami cari resolusinya,” ujar Allan.
“Dalam waktu dekat KAI akan melakukan peningkatan arus listrik, dan harapannya paling lambat tahun 2027 sudah selesai. KAI juga akan mempercepat pengadaan trainset baru yang lebih panjang dan gerbongnya lebih luas," tegas Allan.