JAKARTA - Zodiak Tionghoa atau shio sudah mengakar kuat sebagai bagian dari kebudayaan China selama ribuan tahun silam. Walaupun dewasa ini lebih familier dijadikan fondasi dalam memprediksi nasib baik, sistem shio sejatinya menyimpan kekayaan sejarah, mitologi, serta adat kebiasaan yang tetap diyakini masyarakat hingga hari ini.
Mulai dari dongeng kompetisi antarbinatang hingga dogma mengenai tahun kelahiran yang dipandang membawa kesialan, tiap-tiap shio mempunyai narasi unik yang memikat untuk diulas.
Di bawah ini merupakan delapan fakta unik di balik eksistensi shio, sebagaimana dirangkum dari Lifestyle Asia pada Selasa (30/6/2026).
8 Fakta Menarik di Balik Kemunculan Shio
1. Urutan shio berasal dari legenda perlombaan 12 hewan
Berdasarkan mitologi Tiongkok, hierarki 12 shio ditetapkan lewat sebuah kompetisi menyeberangi sungai yang diinisiasi oleh Kaisar Giok (Jade Emperor).
Dua belas binatang terdahulu yang sanggup menggapai seberang sungai bakal diabadikan secara berurutan dalam penanggalan shio. Tikus sukses mengamankan posisi terdepan lantaran memperdaya kebaikan hati Kerbau.
Seusai menumpang di atas punggung Kerbau, Tikus langsung meloncat sesaat sebelum menyentuh garis finis sehingga berhasil unggul. Dari mitos inilah struktur urutan shio tercipta, dimulai dari Tikus dan diakhiri oleh Babi.
2. Kucing tidak masuk dalam daftar shio karena legenda pengkhianatan
Banyak kalangan berspekulasi mengenai alasan Kucing absen dari daftar 12 shio. Salah satu fabel mengisahkan bahwa Tikus sengaja mendorong Kucing ke dalam sungai ketika kompetisi berlangsung, sehingga Kucing gagal menyentuh garis finis.
Narasi lainnya memaparkan bahwa Tikus lalai membangunkan Kucing pada hari H perlombaan. Imbasnya, Kucing kesiangan dan melewatkan kesempatan emas untuk ikut serta dalam seleksi. Cerita rakyat ini pula yang kerap dituding sebagai dalang mengapa kucing dan tikus selalu digambarkan hidup bermusuhan.
3. Shio pernah digunakan sebagai penanda waktu
Sebelum instrumen penunjuk waktu modern ditemukan, peradaban China kuno mengandalkan sistem shio guna menghitung perputaran waktu. Kurun satu hari dipecah menjadi 12 fase waktu yang masing-masing bergulir selama dua jam.
Tiap binatang memperoleh pembagian waktu yang selaras dengan perangai aslinya. Contohnya, Tikus merepresentasikan rentang pukul 23.00 sampai 01.00 lantaran hewan ini giat berburu pangan di malam buta, sementara Ular menduduki pos pukul 09.00 hingga 11.00 di saat hewan melata tersebut mulai keluar meninggalkan sarangnya.
4. Shio dipercaya membantu melihat kecocokan pasangan
Dalam tatanan kebudayaan China, fungsi shio tidak melulu terbatas pada alat prediksi peruntungan, melainkan diyakini sanggup meneropong tingkat keharmonisan suatu ikatan asmara.
Sampai detik ini, segelintir lingkaran keluarga, ahli nujum, maupun perantara jodoh (mak comblang) masih menimbang kecocokan antarshio sebelum sepasang kekasih melangkah ke pelaminan. Beberapa kombinasi shio dipercaya bakal membentuk rumah tangga yang lebih rukun, sedangkan relasi shio tertentu dipandang bakal lebih sering memicu pertikaian.
5. Tahun shio kelahiran justru dipercaya kurang beruntung
Banyak orang berasumsi bahwa tahun yang bersesuaian dengan shionya sendiri bakal menjadi momen yang paling mendatangkan banyak berkah.
Sebaliknya, dalam dogma tradisional Tiongkok, hal tersebut justru bermakna sebaliknya. Ketika seseorang menginjak tahun kelahiran shionya—yang berputar saban 12 tahun sekali—ia diyakini bakal lebih rentan diterpa berbagai rintangan karena dinilai sedang berhadapan atau bertolak belakang dengan Tai Sui alias Dewa Penjaga Usia.
Oleh sebab itu, sebagian kalangan mengakalinya dengan mengenakan busana bernuansa merah atau perhiasan batu giok sebagai sarana penangkal kesialan.
6. Setiap shio memiliki lima unsur yang berulang setiap 60 tahun
Tak cuma diwakili oleh figur binatang, tiap shio pun dikombinasikan dengan lima elemen alam, yaitu Kayu, Api, Tanah, Logam, serta Air.
Lantaran perpaduan antara perlambang satwa dan unsur ini terus berotasi secara berkala, pasangan elemen yang identik baru akan muncul kembali ke permukaan dalam siklus 60 tahun sekali. Sebagai ilustrasi, Tahun Naga Kayu yang jatuh pada 2024 baru akan dijumpai lagi pada tahun 2084 mendatang.
7. Shio Kambing kerap dianggap paling kurang beruntung
Dalam khazanah cerita rakyat Tionghoa, berkembang sebuah pameo yang menyebutkan bahwa sembilan dari sepuluh individu yang terlahir pada Tahun Kambing bakal menempuh jalan hidup yang penuh aral rintangan. Kepercayaan komunal inilah yang membikin Shio Kambing kerap dicap kurang mujur jika dikomparasikan dengan shio-shio lainnya.
Kontras dengan hal itu, Shio Naga justru dielu-elukan sebagai lambang keberuntungan, determinasi kekuasaan, serta puncak kejayaan. Kendati demikian, sudut pandang tersebut murni bagian dari adat kebiasaan kultural dan bukan merupakan sebuah kebenaran ilmiah.
8. Naga menjadi satu-satunya hewan mitologi dalam shio
Dari total 12 shio yang eksis, hanya Naga yang statusnya bukan merupakan fauna nyata di dunia. Di dalam kebudayaan China, makhluk naga merepresentasikan aura keberanian, kemakmuran harta, kepemimpinan kharismatik, dan tingkat kehormatan yang tinggi.
Walau dibekali daya magis yang luar biasa, legenda mengisahkan bahwa Naga gagal menjuarai kompetisi lantaran ia memilih meluangkan waktu demi menolong pemukiman warga yang tengah diamuk kebakaran, serta membantu Kelinci agar bisa menyeberangi sungai. Watak welas asih dan gemar menolong itulah yang menyebabkan Shio Naga harus puas menempati urutan kelima dalam hierarki shio.