JAKARTA - Mengisi waktu dengan merawat tanaman rupanya tidak sekadar menjadikan pekarangan rumah kian asri serta meredakan stres, melainkan juga berpeluang mendongkrak mutu tidur.
Sebuah riset yang dimuat dalam Journal of Affective Disorders mendapati bahwa individu yang ajek berkebun di area terbuka mempunyai risiko yang lebih minim terserang beraneka problem tidur, dari insomnia hingga waktu tidur yang terlampau pendek. Hasil ini didapatkan dari nyaris 60.000 partisipan dalam Behavioral Risk Factor Surveillance System (BRFSS) tahun 2017.
Berdasarkan penuturan para peneliti, kegiatan berkebun menjadi salah satu rutinitas simpel yang berkorelasi dengan istirahat malam yang kian bermutu.
Berkebun dikaitkan dengan lebih sedikit gangguan tidur
Riset memperlihatkan bahwa individu yang ajek berkebun mempunyai peluang kian kecil mengidap beraneka keluhan tidur, semacam insomnia, waktu tidur yang singkat, hingga rasa kantuk yang teramat sangat pada siang hari.
Dokter spesialis tidur sekaligus juru bicara American Academy of Sleep Medicine (AASM), Dr. Fariha Abbasi-Feinberg menuturkan, istirahat yang berkecukupan ialah salah satu tonggak utama pola hidup sehat, di samping menu makanan serta aktivitas jasmani.
"Tidur yang cukup adalah salah satu dari tiga pilar gaya hidup sehat, bersama nutrisi dan olahraga. Kurang tidur meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis," ujar Abbasi-Feinberg
Dirinya memaparkan, defisit tidur juga dapat memicu peningkatan risiko depresi, rasa cemas, problem memori, serta menjadikan imunitas tubuh kian lemah dari penyakit. Oleh sebab itu, segala kegiatan yang menolong peningkatan mutu tidur sangat layak dilirik sebagai bagian dari rutinitas sehat saban hari.
Paparan sinar matahari dan aktivitas fisik menjadi kunci
Menurut Abbasi-Feinberg, khasiat berkebun kemungkinan besar bukan cuma bersumber dari vegetasi itu sendiri, melainkan juga perpaduan aktivitas fisik serta paparan sinar natural tatkala dilangsungkan pada siang hari.
"Kami memahami bahwa paparan cahaya dan melakukan aktivitas fisik pada siang hari dapat mendukung tidur yang sehat. Karena itu, berkebun berpotensi memberikan manfaat bagi kualitas tidur," katanya.
Dirinya mengimbuhkan, beberapa riset terdahulu pun menjumpai relasi antara keberadaan area hijau dengan waktu tidur yang kian ideal. Di samping itu, berkebun diidentifikasi memberi dampak positif untuk kesehatan psikis serta menolong memperbaiki gejala demensia pada sebagian individu. Walau demikian, Abbasi-Feinberg menimbang, masih dibutuhkan riset lanjutan demi memastikan apakah manfaat tersebut lebih didominasi oleh faktor aktivitas fisiknya, kedekatan dengan alam, atau sentuhan langsung dengan tanah dan tanaman.
Tidak harus berkebun, berada di alam juga bermanfaat
Bagi warga yang belum mempunyai pekarangan, khasiat yang setara tetap dapat diperoleh dengan lebih kerap menghabiskan waktu di area alam terbuka. Berjalan santai di taman, mengurus tanaman dalam vas, atau sekadar meresapi atmosfer hijau dapat menjadi trik simpel demi memacu aktivitas jasmani sekaligus meredakan stres.
Abbasi-Feinberg memaparkan, riset ini memperlihatkan bahwa giat berpindah di alam terbuka tampak andil terhadap kesehatan tidur secara makro.
"Penelitian ini tampaknya menunjukkan bahwa aktif secara fisik dan berada di alam dapat membantu meningkatkan kesehatan tidur secara keseluruhan," ujarnya.
Bukan cuma menolong tubuh kian relaks, berada di ruang terbuka hijau pun menstimulasi seseorang untuk kian aktif bergerak, mempertajam konsentrasi, memangkas stres, serta memberi peluang bagi otak dan raga untuk beristirahat kian maksimal kala malam menjelang. Bagi publik yang kerap menjumpai kendala tidur skala ringan, mengadopsi berkebun sebagai agenda harian dapat menjadi tindakan simpel yang patut dicoba.