JAKARTA - Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta Nova Harivan Paloh mendesak agar kualitas pelayanan TransJakarta dibenahi terlebih dahulu sebelum kebijakan kenaikan tarif diberlakukan. Menurut pandangannya, apabila warga nantinya diharuskan membayar dengan harga lebih tinggi, maka mutu pelayanan pun wajib ditingkatkan sejalan dengan hal tersebut.
Nova memaparkan, terdapat beberapa aspek yang krusial untuk dibenahi, mulai dari faktor keselamatan pengemudi, aspek kenyamanan penumpang, hingga jaminan keamanan di dalam armada bus maupun area halte.
"Konsep-konsep seperti itu, masalah kualitas pelayanan, fit to work, itu yang memang nantinya harus dikedepankan ketika mengalami kenaikan tarif," kata Nova saat dihubungi, Senin (6/7/2026).
Merujuk pada penjelasan Nova, salah satu poin yang wajib memperoleh perhatian serius ialah penerapan sistem fit to work, yakni memastikan para pramudi benar-benar dalam kondisi prima dan siap berkendara.
Ia mengutarakan, problematika tersebut sudah berulang kali dibedah di DPRD menyusul terjadinya insiden kecelakaan yang melibatkan armada bus TransJakarta.
Oleh karena itu, dirinya mendesak pihak TransJakarta untuk mengevaluasi regulasi jam kerja sopir, durasi waktu istirahat, serta sistem pengawasan terpadu agar pramudi tidak dilanda kelelahan ketika menjalankan tugas.
Di samping itu, Nova pun menyoroti manajemen pengaturan headway atau jarak rentang waktu kedatangan antarbus.
Menurutnya, jadwal operasional bus mesti diformulasikan dengan matang agar para penumpang tidak perlu mengantre terlampau lama ataupun memicu penumpukan massa di area halte.
Ditinjau dari faktor keamanan, keberadaan kamera pengawas (CCTV) baik di area halte maupun di dalam bus wajib dioptimalkan fungsinya supaya aksi kriminalitas, semacam pencopetan, dapat selekasnya ditanggulangi.
"Yang paling penting lagi kami juga mau lihat aksesibilitas terkait security system. Misalnya beberapa alokasi yang benar-benar ada pemantauan kembali dari CCTV,” kata dia.
Ia menaruh harapan agar sistem jaringan CCTV tersebut sanggup diintegrasikan secara langsung dengan aparat penegak hukum, dengan begitu andaikata terjadi tindakan kriminal, petugas di lapangan bisa secepatnya melancarkan tindakan penanganan.
"Kalau ada kejadian seperti itu bisa langsung ditindaklanjuti. Itu juga jadi pembahasan karena sekarang keresahan masyarakat, misalnya ada copet dan sebagainya,” lanjut Nova.
Nova menandaskan bahwa publik memiliki hak penuh untuk memperoleh kualitas pelayanan yang jauh lebih prima jikalau ke depannya tarif TransJakarta benar-benar melambung.
Menurutnya, TransJakarta untuk saat ini telah bertindak sebagai moda transportasi andalan bagi masyarakat Jakarta dengan volume pergerakan penumpang menyentuh kisaran 1,4 juta jiwa per hari. Atas dasar itulah, sudah menjadi keharusan jika aspek pelayanan dipacu peningkatannya.
"Iya dong. Kalau bisa saya rasa seperti itulah. Itu yang memberikan kenyamanan bagi pengguna. Penggunanya kan sudah 1,4 juta, bukan hal yang sedikit,” kata dia.
Di sisi lain, Nova memandang wacana penyesuaian tarif TransJakarta menjadi Rp5.000 dasarnya masih masuk dalam taraf logis dan wajar.
Berdasarkan catatannya, tarif tiket TransJakarta belum pernah mengalami eskalasi kenaikan semenjak tahun 2005 silam, sehingga langkah penyesuaian nilai tarif memang patut ditelaah lebih komprehensif.
Menurut analisis Nova, kebijakan mengerek harga tiket tersebut juga sanggup memangkas tanggungan dana subsidi yang selama ini ditopang oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
"Hitung-hitungan kami, kalau misalnya 1,4 juta pelanggan per hari, kurang lebih bisa menghemat sekitar Rp400 sampai Rp500 miliar,” kata Nova.