JAKARTA – Kementerian Perdagangan (Kemendag) melakukan perubahan pada fokus strategi ekspor nasional. Saat ini, pemerintah mengutamakan produk dengan nilai tambah tinggi demi memacu pertumbuhan ekonomi sekaligus mendongkrak daya saing Indonesia pada pasar global.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini Puntodewi menyampaikan, langkah strategis ini menjadi penanda transisi dari kebergantungan terhadap komoditas primer beralih ke ekspor produk manufaktur serta jasa.
"Prioritas pemerintah dalam beberapa tahun ke depan adalah mendorong ekspor produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi agar mampu meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global dan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Puntodewi, Rabu (9/7/2026).
Beberapa sektor yang dijadikan pusat pengembangan mencakup produk pertanian, perkebunan, perikanan, makanan olahan, barang elektronik, otomotif, alas kaki, tekstil, besi dan baja, hingga furnitur.
Kemendag pun melebarkan fokusnya menuju ranah jasa. Sejumlah sektor tersebut meliputi gim, animasi, perdagangan elektronik atau e-commerce, MICE, hingga hotel, restoran, serta katering yang dipandang mempunyai prospek cerah beriringan dengan laju ekonomi digital.
Bidik Pasar Utama dan Negara Potensial
Kemendag tetap menaruh prioritas pada pasar ekspor utama, yakni China, Amerika Serikat, India, Jepang, Malaysia, Filipina, Vietnam, Korea Selatan, Singapura, serta Taiwan.
Pemerintah pun menargetkan pasar nontradisional, contohnya Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Belanda, Rusia, Kanada, Kazakhstan, Peru, Pakistan, hingga Kenya.
Langkah tersebut disokong oleh optimalisasi beragam kesepakatan perdagangan internasional yang saat ini sudah dimiliki oleh Indonesia.
Demi melebarkan jangkauan akses pasar, Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional bakal melaksanakan 178 agenda promosi dagang mancanegara selama tahun 2026.
Rangkaian agenda ini melingkupi promosi lewat 48 Perwakilan Perdagangan RI di negara lain, pameran berskala internasional, penjajakan bisnis, misi dagang, sampai ajang Trade Expo Indonesia.
Menurut Puntodewi, strategi tersebut dicanangkan guna melebarkan porsi pangsa pasar sekaligus mendongkrak nilai tambah produk asal Indonesia.
Ekspor Jasa Ikut Diperkuat
Kemendag pun memantapkan kemajuan ekspor lewat pertambahan kuantitas eksportir baru, perluasan pangsa pasar, sekaligus memacu produk Indonesia agar masuk ke dalam rantai pasok global.
Ranah industri suku cadang, elektronik, alas kaki, hingga pakaian jadi masuk sebagai segelintir sektor yang diutamakan.
Ekspor di bidang jasa serta ekonomi kreatif pun tak luput dari atensi. Sektor yang dipacu di antaranya mencakup animasi, gim, arsitektur dan desain, muatan digital, fesyen, hingga layanan konsultasi.
"Fokus pemerintah bukan hanya mengejar peningkatan nilai ekspor, tetapi juga memastikan pertumbuhan ekspor yang berkualitas, berkelanjutan, dan memiliki nilai tambah yang lebih tinggi," kata Puntodewi.
Berdasarkan pandangannya, lonjakan ekspor tak sekadar menambah pundi-pundi devisa, melainkan turut memacu proses produksi industri, menggenjot utilisasi kapasitas, membuka lapangan pekerjaan, hingga memperkuat iklim investasi yang pada akhirnya memberikan efek berganda untuk perekonomian bangsa.