JAKARTA – Harga buyback emas Antam kembali mencatatkan penurunan menjelang akhir pekan kedua Juli 2026. Merujuk pada data resmi Logam Mulia Kamis (9/7/2026), nilai pembelian kembali (buyback) emas Antam terpangkas sebesar Rp10.000 menjadi Rp2.383.000.
Posisi tersebut membuat banderol harganya kian bergerak menjauh dari rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Berdasarkan catatan Bisnis, nilai buyback emas Antam terakhir kali menyentuh titik tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) pada level Rp2.989.000 pada penghujung Januari 2026.
Semenjak momen itu, tren pergerakannya merosot tajam dan sempat berupaya bertahan pada rentang Rp2,5 juta sampai Rp2,6 juta dalam hitungan beberapa bulan ke belakang.
Nilai buyback emas Antam sendiri menjadi tolok ukur dalam skema pembelian kembali oleh PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) untuk ukuran tiap 1 gram. Dinamika naik-turunnya nilai ini bergulir selaras dengan fluktuasi harga logam mulia di pasar internasional.
Buyback emas pada dasarnya merupakan aktivitas menjual kembali komoditas emas yang dimiliki, baik berupa logam mulia, emas batangan, maupun perhiasan. Pada umumnya, nominal harga yang ditetapkan bakal lebih rendah ketimbang harga jual yang berlaku pada momen tersebut.
Walau demikian, transaksi buyback emas tetap dapat menghasilkan keuntungan asalkan terdapat rentang selisih yang lebar antara harga beli awal dan harga buyback saat ini.
Berdasarkan aturan PMK No 34/PMK.10/2017, aktivitas penjualan kembali emas batangan menuju pihak Antam dengan nominal transaksi di atas Rp10 juta akan dipotong PPh 22 senilai 1,5 persen bagi para pemilik NPWP dan dikenakan sebesar 3 persen untuk yang tidak mengantongi NPWP.
Pemotongan PPh 22 dalam transaksi buyback ini bakal diaplikasikan secara langsung dari akumulasi nilai total buyback.
Seperti yang telah diwartakan Bisnis sebelumnya, publikasi Laporan World Gold Council bertajuk Gold Mid-Year Outlook 2026 menguraikan bahwa harga emas sempat mencetak rekor di angka US$5.405 per ons pada penghujung Januari sebelum akhirnya merosot tajam menuju level terendah senilai US$4.002 per ons pada Juni 2026.
Dinamika perubahan ini memicu terjadinya penurunan harga sebesar 7 persen di sepanjang tahun berjalan serta mengeskalasi volatilitas rata-rata menuju angka 30 persen.
Mengacu pada skema Gold Return Attribution Model (GRAM) milik WGC, lonjakan risiko geopolitik yang sebagian besar dipicu oleh konflik antara pihak AS-Iran menjadi faktor kontributor paling dominan terhadap kinerja pada paruh pertama tahun ini, berbarengan dengan aspek momentum dari posisi penanam modal serta aksi ambil untung (profit taking).
Juan Carlos Artigas, selaku CEO Regional untuk Amerika dan Kepala Riset Global di WGC, berpendapat bahwa pergerakan harga emas merefleksikan dinamika makroekonomi serta geopolitik di seluruh penjuru dunia, dan tidak hanya berfokus di regional AS saja, di mana hal ini menjadi bagian dari hal yang membuatnya bertransformasi menjadi kacamata yang bernilai tinggi bagi kalangan investor.
"Suku bunga penting, dan kami memperkirakan suku bunga akan menjadi variabel kunci di paruh kedua tahun ini. Akan tetapi, kinerja emas tidak didorong oleh satu faktor saja," katanya, dikutip Selasa (7/7/2026).