Bitcoin Bertahan di US$76.500 Usai The Fed Naikkan Bunga, Clarity Act Gagal di Senat

Bitcoin Bertahan di US$76.500 Usai The Fed Naikkan Bunga, Clarity Act Gagal di Senat

EKONOMI360.ID — Harga Bitcoin bertahan di kisaran US$76.500 pada Jumat (18/9/2026) pagi waktu Indonesia, tertekan dua sentimen sekaligus: kenaikan bunga acuan The Fed dan kegagalan Senat AS mengesahkan Clarity Act. Sepanjang pekan ini, BTC sempat menyentuh level US$79.000 sebelum akhirnya terkoreksi.

Pasar kripto menerima pukulan ganda dari dua arah berbeda. Bank sentral Amerika Serikat menaikkan bunga acuan, sementara Senat gagal mengesahkan RUU Clarity Act pada Selasa lalu. Kombinasi keduanya menekan hampir seluruh aset digital, termasuk Bitcoin.

Bitcoin nyaris tidak bergerak dalam 24 jam terakhir. Posisinya bertahan di kisaran US$76.500-an, jauh dari level tertinggi pekan ini yang sempat menyentuh US$79.000-an.

Dua Sentimen yang Menekan Harga Bitcoin

Kenaikan bunga acuan The Fed menjadi pemicu utama pelemahan. Kebijakan moneter ketat membuat investor global mengurangi eksposur ke aset berisiko, termasuk kripto.

Sentimen kedua datang dari kegagalan Senat mengesahkan Clarity Act. RUU ini sebelumnya diharapkan menjadi pilar regulasi yang memberi kepastian hukum bagi ekosistem aset digital di Amerika Serikat.

Kegagalan tersebut menghilangkan dukungan yang selama ini ditunggu pelaku pasar. Minat investor ritel yang sudah luntur kini semakin tertekan.

Likuiditas Ketat Perparah Tekanan Jual

Kondisi likuiditas pasar kripto semakin ketat. Order book yang tipis membuat pergerakan harga lebih mudah dipengaruhi tekanan jual meski volumenya tidak besar.

Adam McCarthy, kepala riset di perusahaan perdagangan LO:TECH, memperkirakan harga akan bergerak terbatas dalam waktu dekat.

"Harga bisa jadi akan bergerak dalam kisaran yang cukup sempit," kata McCarthy, dikutip dari Bloomberg News, Jumat.

Posisi Bitcoin di Tengah Ketidakpastian Global

Bitcoin masih mempertahankan posisinya sebagai kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar. Namun tekanan makro membuat aset ini sulit menemukan momentum kenaikan yang berkelanjutan.

Investor kripto kini menanti sinyal berikutnya dari The Fed soal arah suku bunga. Sebagian analis memperkirakan volatilitas akan tetap tinggi selama ketidakpastian regulasi di AS belum terselesaikan.

Bagi pelaku pasar Indonesia, pelemahan Bitcoin turut mempengaruhi sentimen di bursa kripto lokal. Volume perdagangan cenderung menurun ketika harga bergerak sideway seperti saat ini.

Apa yang Perlu Dicermati Investor

Pergerakan Bitcoin dalam kisaran sempit bisa menjadi peluang akumulasi bagi sebagian investor. Namun risiko tetap besar mengingat tekanan makro dan regulasi belum mereda.

Pasar akan mencermati perkembangan lanjutan di Senat AS soal kemungkinan pengajuan ulang Clarity Act. Selain itu, data ekonomi AS ke depan akan menjadi penentu arah kebijakan The Fed selanjutnya.

Selama dua faktor itu belum jelas, Bitcoin diperkirakan bertahan di zona konsolidasi dengan rentang terbatas.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index