Haji Isam Siap Caplok 30% Saham Bayan Resources (BYAN)

Haji Isam Siap Caplok 30% Saham Bayan Resources (BYAN)

EKONOMI360.ID — Konglomerat Samsudin Andi Arsyad atau Haji Isam bersiap menguasai sekitar 30% saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) melalui PT Jhonlin Baratama. Low Tuck Kwong dan Elaine Low telah meneken perjanjian jual beli saham bersyarat dengan Jhonlin Baratama pada 16 September 2026 untuk mengalihkan 10.000.000.500 saham biasa BYAN.

Transaksi itu tercatat dalam keterbukaan informasi BEI. Namun, penyelesaian kesepakatan masih menunggu pemenuhan sejumlah persyaratan pendahuluan yang disepakati kedua pihak.

Artinya, pengalihan 30% saham BYAN belum bisa dianggap rampung. Pasar masih menanti apakah seluruh syarat itu bisa dipenuhi Jhonlin Baratama.

Bila tuntas, ini jadi salah satu transaksi tambang terbesar di pasar modal Indonesia. Haji Isam bakal menambah kendali atas produsen batu bara yang selama ini lekat dengan nama Low Tuck Kwong.

Nilai Kekayaan Haji Isam di Bursa

Harta Haji Isam yang tercatat di BEI sudah menembus Rp 101,3 triliun atau lebih dari US$ 6,1 miliar. Angka itu dihitung dari kepemilikan langsung maupun tidak langsung di sejumlah emiten.

Berikut rinciannya:

  • PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR): Rp 30,97 triliun
  • PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN): Rp 67,54 triliun
  • PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE): Rp 2,79 triliun

Sebagian harta lain Haji Isam juga digenggam lewat perusahaan non-publik. Jejaknya di pasar modal memang sudah terbangun sejak beberapa tahun terakhir.

Dari Sopir Pengangkut Kayu ke Crazy Rich Batulicin

Haji Isam bukan orang baru di bisnis tambang Kalimantan. Ia disebut-sebut sebagai Crazy Rich Batulicin karena membangun usaha dari nol di wilayah selatan pulau itu.

Keluarga Haji Isam berasal dari sebuah desa di Bone, Sulawesi Selatan. Ia merantau ke Kalimantan Selatan dan memulai karier sebagai pedagang tembakau, bahkan pernah menjadi sopir pengangkut kayu.

Titik baliknya datang setelah mengenal penambang batu bara lokal bernama Johan Maulana. Sejak 2001, Haji Isam ikut Johan dan belajar mengelola pertambangan.

Bekal itu membawanya menjadi kontraktor pelaksana di PT Arutmin Indonesia, anak usaha Bumi Resources (BUMI) milik keluarga Bakrie, lewat bendera CV Jhonlin Baratama.

Gurita Usaha Jhonlin Group

Dari tambang, bisnis Haji Isam melebar ke banyak sektor. Jhonlin Group kini menaungi unit usaha di pertambangan, jasa pelabuhan, transportasi udara, bongkar-muat di laut lepas, agrobisnis, jasa keamanan, hingga infrastruktur dan manufaktur.

Di penerbangan ada Jhonlin Air Transport dengan dua Fokker dan dua helikopter. Di perkapalan berdiri Jhonlin Marine yang mengoperasikan armada 16 kapal tongkang pengangkut batu bara.

Sektor agrobisnis ditangani Jhonlin Agromandiri. Perusahaan ini mengelola bisnis pengolahan karet remah, pabrik CPO, serta pabrik wood pellet.

Haji Isam juga punya pabrik biodiesel senilai Rp 2 triliun yang dikelola Jhonlin Agro Raya. Langkah itu menandai ekspansi ke energi terbarukan.

Luas Lahan yang Dikuasai

Jhonlin Agromandiri memegang izin HGU perkebunan sawit seluas 30.000 hektare. Perusahaan juga mengantongi izin IUPHHK-HT seluas 17.730 hektare.

Selain itu, JA menjalin kerja sama konsesi lahan dengan total areal 140.995 hektare. Rinciannya, 41.425 hektare lewat IUPHHK-HT dan 99.570 hektare lewat IUPHHK-HA di Kalimantan Selatan.

Areal itu ditanami karet, tanaman kayu pertukangan, dan kayu energi. Semuanya menopang lini agribisnis Jhonlin Group.

Apa Artinya bagi Investor BYAN

Bagi pemegang saham BYAN, masuknya Haji Isam membawa perubahan komposisi pemilik. Pasar akan mencermati apakah arah strategi perseroan ikut bergeser.

Yang jelas, transaksi ini belum final. Investor sebaiknya menunggu kepastian pemenuhan syarat pendahuluan sebelum menyimpulkan dampaknya ke kinerja BYAN.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index