Hyundai Genjot Bus Hidrogen di Korea, Xcient Tembus 21,8 Juta Km

Hyundai Genjot Bus Hidrogen di Korea, Xcient Tembus 21,8 Juta Km

EKONOMI360.ID — Hyundai Motor meneken kerja sama dengan Sunjin Group, Hynet, dan Asosiasi Lingkungan Otomotif Korea untuk memperluas armada bus hidrogen sekaligus membangun infrastruktur pengisian bahan bakar. Langkah ini menegaskan Korea Selatan masih menaruh taruhan besar pada sel bahan bakar hidrogen untuk angkutan berat, bukan sekadar mobil listrik baterai. Sunjin sendiri menargetkan 480 bus hidrogen beroperasi pada 2032, naik dari sekitar 1.700 bus yang kini mereka kelola.

Sunjin saat ini mengoperasikan sekitar 1.700 bus. Dari jumlah itu, mereka berencana menambah 480 unit bus hidrogen hingga 2032.

Yang menarik, Sunjin juga akan mengubah depo CNG miliknya di Gimpo dan Paju menjadi stasiun hidrogen. Artinya infrastruktur lama tidak dibuang, melainkan dialihfungsikan.

Mengapa Hidrogen Kembali Dilirik untuk Angkutan Berat

Kendaraan komersial bertenaga sel bahan bakar hidrogen kembali menarik minat di Korea Selatan dan sejumlah negara lain. Segmen yang disasar jelas: transportasi jarak jauh dan angkutan berat.

Di segmen ini, hidrogen punya keunggulan praktis dibanding baterai. Pengisian lebih cepat dan bobot kendaraan tidak membengkak akibat paket baterai raksasa.

Hyundai Motor, Toyota, dan Daimler Trucks tercatat gencar mengembangkan bus serta truk hidrogen. Persaingan di segmen niaga ini justru lebih hidup daripada di mobil penumpang.

Xcient Sudah Buktikan Diri di Eropa

Bukti lapangan datang dari armada truk hidrogen Xcient milik Hyundai. Pada Juli 2025, sebanyak 175 truk Xcient yang beroperasi di lima negara Eropa menempuh jarak total 21,8 juta kilometer.

Angka itu menunjukkan sel bahan bakar hidrogen bukan lagi teknologi laboratorium. Armada niaga sudah memakainya untuk operasi harian lintas negara.

Hyundai juga menggandeng operator transportasi besar untuk memperluas armada bus hidrogennya. Pola yang sama diulang di Korea seperti yang sudah jalan di Eropa.

Peta Jalan Sunjin hingga 2032

  • Saat ini: sekitar 1.700 bus beroperasi
  • Target 2032: 480 bus hidrogen masuk armada
  • Depo CNG Gimpo dan Paju dialihkan jadi stasiun hidrogen
  • Mitra: Hyundai Motor, Hynet, Asosiasi Lingkungan Otomotif Korea

Konversi depo CNG jadi stasiun hidrogen jadi kunci. Tanpa titik pengisian yang tersebar, bus hidrogen hanya jadi unit demo yang mangkrak di garasi.

Yang Perlu Diperhatikan

Hidrogen masih menghadapi pertanyaan soal biaya produksi dan distribusi. Membangun stasiun pengisian jauh lebih mahal dibanding memasang charger listrik.

Sebagian besar hidrogen di Korea juga masih diproduksi dari bahan bakar fosil, bukan elektrolisis hijau. Klaim emisi nol di knalpot belum tentu berlaku di seluruh rantai pasok.

Untuk pasar Indonesia, skenario ini masih jauh. Infrastruktur hidrogen komersial belum ada, sementara bus listrik baterai sudah mulai jalan di beberapa kota.

Kenapa Ini Penting buat Pasar Global

Korea Selatan memilih jalur berbeda dari banyak negara yang all-in ke baterai. Untuk angkutan berat dan jarak jauh, mereka menilai hidrogen lebih masuk akal secara operasional.

Kalau model Sunjin dan Hyundai ini berhasil, operator bus di negara lain punya alasan menimbang ulang. Bukan soal mana teknologi yang lebih canggih, tapi mana yang cocok untuk rute dan jarak tertentu.

Eropa sudah jadi uji coba lewat armada Xcient. Korea kini menyiapkan skala yang lebih besar di dalam negeri sendiri.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index