JAKARTA - Buta warna mendefinisikan suatu keadaan ketika seseorang menjumpai hambatan dalam mengidentifikasi variasi warna secara presisi. Keadaan ini tidak serta-merta mengindikasikan ketidakmampuan total dalam menangkap warna.
Dalam kasus buta warna parsial, penderita sejatinya masih sanggup mengenali warna dasar seperti merah atau hijau. Akan tetapi, kendala mulai muncul ketika dipaksa mengidentifikasi gradasi maupun tingkat kepekatan warna tertentu.
Kelainan penglihatan ini dapat dibawa sejak lahir maupun muncul di kemudian hari dipicu oleh penyakit tertentu. Dalam konteks buta warna kongenital (bawaan), unsur hereditas atau genetik memegang peranan utama.
Keterkaitan Buta Warna dengan Kromosom X
Dokter spesialis mata konsultan dari Rumah Sakit Mata Cicendo, dr. Rusti Hanindya Sari, Sp.M(K), memaparkan bahwa kelainan persepsi warna bawaan erat kaitannya dengan aspek genetik, terutamanya pada kromosom X.
“Gangguan warna ini terutama kenanya di kromosom X,” ujar dr. Rusti dalam Talkshow Keluarga Sehat Kementerian Kesehatan, dikutip Jumat (18/9/2026).
Pada susunan biologis manusia, laki-laki dibekali kombinasi kromosom seks X dan Y, sedangkan perempuan membawa sepasang kromosom X (XX). Berhubung kelainan warna bawaan terpaut pada kromosom X, prevelensi kejadiannya tercatat jauh lebih mendominasi kaum pria.
Rusti menerangkan, merujuk data riset yang dibagikan dalam ajang tersebut, kasus gangguan penglihatan warna ditemukan pada kisaran satu dari 12 pria. Sebaliknya pada wanita, rasio kejadiannya hanya menyentuh rentang satu dari 200 orang.
Penyebab Laki-laki Lebih Rentan Mengalami Buta Warna
Ketimpangan rasio tersebut bersumber dari perbedaan kuantitas kromosom X antara laki-laki dan perempuan. Pria hanya mempunyai satu kromosom X dan satu kromosom Y. Apabila satu-satunya kromosom X tersebut memuat gen pembawa gangguan warna, maka kondisi buta warna bakal langsung terwujud.
Di sisi lain, wanita memiliki dua kromosom X. Dokter Rusti menerangkan, bilamana cuma satu kromosom X yang membawa sifat kelainan, pihak wanita sekadar menjadi pembawa sifat (carrier) tanpa memperlihatkan gejala buta warna secara nyata.
“Jadi bisa saja dia hanya membawa, yang artinya dia tidak manifest karena tidak duanya yang terkena,” jelas dr. Rusti.
Atas dasar itulah, garis keturunan genetik dari pihak orang tua memegang andil besar atas potensi munculnya gangguan warna bawaan pada anak.
Mekanisme Pewarisan Buta Warna pada Anak
Dokter Rusti membeberkan bahwa peluang pewarisan fenomena ini turut ditentukan oleh pihak orang tua mana yang membawa kelainan warna. Seandainya sang ibu mengidap gangguan warna, anak laki-laki memiliki kans mengalami kondisi serupa. Berdasarkan uraian Rusti, besaran peluang tersebut berada di angka 50 persen.
Sebaliknya, apabila sang ayah yang menderita kelainan warna, anak laki-laki tidak akan mewarisi kromosom X dari ayahnya. Pasalnya, pasokan kromosom X anak laki-laki murni diturunkan dari ibu, sedangkan dari ayah hanya menyumbang kromosom Y. Maka dari itu, kelainan pada ayah tidak otomatis menurun ke anak laki-laki. Namun, faktor genetika ibu tetap menjadi penentu utama.
Diferensiasi Buta Warna Bawaan dan Buta Warna Didapat
Patut dipahami bahwa tidak seluruh fenomena kelaianan warna murni bersumber dari faktor keturunan. Rusti mengelompokkan gangguan warna menjadi dua kategori, yakni kondisi bawaan serta kondisi yang didapat di kemudian hari.
Kategori gangguan warna yang didapat umumnya terhubung dengan infeksi penyakit atau kerusakan pada organ retina maupun saraf mata. Adanya gangguan pada saraf mata, semisal akibat proses peradangan atau komplikasi pembuluh darah, sanggup menurunkan fungsi kepekaan warna. Selain itu, paparan intoksikasi obat atau zat alkohol juga berisiko merusak saraf mata. Ini berarti, kelainan warna yang baru terdeteksi saat menginjak usia dewasa tak selalu terkait dengan garis genetik sejak lahir.
Gambaran Kondisi Anak Penderita Buta Warna
Pengidap buta warna tidak melulu mempersepsikan lingkungan sekitar dalam nuansa hitam putih semata. Menurut Dokter Rusti, keadaan ketika pandangan mata sepenuhnya kehilangan kemampuan menangkap warna dikategorikan sebagai buta warna total.
Adapun pada kasus buta warna parsial, disfungsi umum terjadi pada spektrum warna spesifik, utamanya merah atau hijau. Anak yang mengidap buta warna parsial sejatinya masih menyadari bahwa suatu benda berwarna hijau atau merah. Akan tetapi, nuansa warna yang ditangkap matanya berbeda dari persepsi orang berpenglihatan normal.
Tingkat kesulitan biasanya kian mencolok tatkala anak dihadapkan pada gradasi warna. Sebagai contoh, membedakan merah muda, merah tua, hingga merah marun bakal terasa sangat rumit.
Waktu Ideal Pemeriksaan Warna pada Anak
Deteksi gangguan warna dapat diselenggarakan sewaktu anak dinilai telah sanggup bersikap kooperatif mengikuti alur tes. Dokter Rusti menuturkan, skrinning gangguan warna bawaan dapat memanfaatkan metode uji yang menampilkan tingkatan warna dan bentuk pola tertentu. Khusus bagi anak yang belum lancar membaca angka, tes dilaksanakan dengan mengarahkan anak menyusuri garis alur yang tampak pada lembar bergambar.
Menurut Dokter Rusti, anak yang telah menginjak rentang usia sekitar lima tahun secara umum sudah mampu menjalani skrinning tersebut asalkan dapat diajak bekerja sama.
Salah satu sarana skrinning yang lazim dipakai untuk melacak gangguan warna bawaan adalah tes Ishihara. Uji klinis ini menggunakan beberapa lembaran plate berisikan susunan pola titik-titik berwarna. Pasien selanjutnya diminta menebak simbol angka atau menyusuri alur di dalamnya.
Dokter Rusti menguraikan, tes Ishihara utamanya difungsikan untuk mendeteksi disfungsi warna merah dan hijau. Adapun untuk mendeteksi gangguan warna biru-kuning, diterapkan metode pengujian terpisah bernama tes Farnsworth.
Karakteristik Buta Warna Bawaan yang Permanen
Seandainya kelainan warna terbukti disebabkan oleh pemicu genetik, kondisi tersebut pada dasarnya tidak akan mengalami perubahan ataupun kesembuhan seiring bertambahnya usia. Dokter Rusti menyebutkan, rekapan hasil pengujian pada buta warna bawaan cenderung menunjukkan hasil konsisten tatkala dites ulang di usia remaja maupun dewasa.
Pola ini bertolak belakang dengan kasus gangguan warna yang didapat akibat penyakit. Pada kategori tersebut, daya tangkap warna dapat bertahan tetap atau justru membaik tergantung pada penanganan penyakit utamanya. Maka dari itu, mengidentifikasi kondisi penglihatan warna sejak dini sangat membantu orang tua dalam memahami keterbatasan anak serta menjadi bahan pertimbangan sewaktu anak hendak menentukan bidang studi atau aktivitas yang memerlukan kejelian gradasi warna.
Dokter Rusti menegaskan bahwa buta warna tidak semestinya dipandang sebagai suatu bentuk kecacatan. Anak tetap memiliki ruang luas untuk mengasah potensi dirinya dengan cara menyesuaikan jenis kegiatan berdasarkan kondisi penglihatannya.
“Jangan takut untuk diperiksakan, baik pemeriksaan mata ataupun pemeriksaan buta warna,” pesan dr. Rusti.