JAKARTA - Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengagendakan pembangunan rumah sakit spesialis jantung dan stroke selaku langkah mendongkrak mutu fasilitas kesehatan bagi masyarakat.
Keberadaan sarana ini diproyeksikan mampu menekan ketergantungan warga untuk melakukan pengobatan ke luar wilayah, terutama ke kota-kota besar layaknya Jakarta.
Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Hidayat Arsani, mengutarakan bahwa proyek pembangunan rumah sakit tersebut memosisikan diri sebagai salah satu program prioritas pemerintah daerah dalam periode dekat.
"Kami akan segera membangun rumah sakit jantung dan stroke ini, agar masyarakat tidak perlu lagi berobat ke luar daerah ini," kata Hidayat di Pangkalpinang, Senin (29/6/2026) dikutip dari Antara.
Mengapa rumah sakit khusus jantung dan stroke diperlukan?
Keperluan atas rumah sakit spesialis jantung dan stroke dipandang kian mendesak seiring melonjaknya temuan penyakit tidak menular yang memerlukan penanganan kilat serta sarana medis yang mumpuni.
Sepanjang ini, banyak penderita dari Kepulauan Bangka Belitung terpaksa dirujuk ke luar wilayah lantaran keterbatasan sarana layanan spesialis. Situasi ini bukan cuma menguras waktu, namun juga memperbesar tingkat risiko bagi penderita dalam situasi darurat.
Bagaimana pembiayaan proyek ini?
Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bakal mengoptimalkan Anggaran Belanja Tambahan (ABT) tahun 2026 demi menopang pembangunan tersebut.
"Meskipun kita hanya mendapatkan ABT Rp 2,1 triliun, namun saya masih sanggup untuk membangun rumah sakit jantung dan stroke ini," ujar Hidayat.
Dana tersebut tidak sekadar dikonsentrasikan pada sektor kesehatan, namun juga bakal dialokasikan guna mendongkrak sarana pendidikan di kawasan tersebut.
Di mana lokasi pembangunan direncanakan?
Pemerintah daerah telah menyiapkan beberapa pilihan lokasi untuk pendirian rumah sakit tersebut. Salah satu area yang dipandang strategis bertempat di sekitar kawasan GOR Sahabudin, yang lokasinya berada tidak jauh dari Bandara Depati Amir.
Jarak yang dekat dengan bandar udara memosisikan diri sebagai tolok ukur penting lantaran rumah sakit ini bakal melayani kasus-kasus darurat yang memerlukan tindakan cepat.
"Rumah sakit ini tidak boleh jauh dari bandara karena bersifat gawat darurat. Artinya penanganan pertama dilakukan di rumah sakit daerah dan apabila membutuhkan penanganan lebih lanjut maka bisa langsung dibawa ke rumah sakit di Jakarta," katanya.
Apa tanggapan DPRD terhadap rencana ini?
Agenda pembangunan rumah sakit spesialis jantung dan stroke ini menuai sokongan dari pihak legislatif.
Ketua DPRD Kepulauan Bangka Belitung, Didit Srigusjaya, memaparkan bahwa pihaknya menyokong penuh tindakan yang diambil oleh gubernur.
"Kami mendukung gubernur yang ingin membangun rumah sakit khusus jantung dan stroke dan ini luar biasa, sehingga masyarakat penderita jantung dan stroke tidak lagi berobat ke luar daerah," ujarnya.