Kanker Payudara Intai Usia Muda, Deteksi Dini Jadi Kunci Utama

Kanker Payudara Intai Usia Muda, Deteksi Dini Jadi Kunci Utama
Kanker Payudara [FOTO: NET].

JAKARTA - Selama ini, ancaman penyakit kanker payudara selalu diidentikkan dengan kaum perempuan yang telah berusia lanjut atau setidaknya sudah melewati masa menopause. 

Akan tetapi, seiring perkembangan zaman, tren kesehatan global maupun nasional memperlihatkan adanya pergeseran rentang usia penderita ke arah demografi yang jauh lebih muda.

Potensi bahaya kesehatan ini secara nyata mulai mengincar kelompok usia dewasa muda, bahkan mereka yang baru saja memasuki fase usia awal dua puluhan. Temuan kasus tersebut didapatkan secara langsung oleh Lovepink Indonesia, yang baru-baru ini menerima kedatangan penyintas dari kelompok Generasi Z.

"Dua bulan yang lalu, kami menerima anggota Lovepink berusia 22 tahun," ungkap Wakil Ketua Yayasan Daya Dara Indonesia, Anita Sulistyowati, dalam konferensi pers penandatanganan kerja sama antara Mayapada Hospital Jakarta Selatan dan Lovepink Indonesia di Mayapada Hospital Jakarta Selatan, Jumat (18/9/2026).

"Dia belum menikah, kemudian dia masih bekerja, tapi karena dia harus melakukan treatment yang padat, dia untuk sementara tidak bekerja dulu," imbuhnya.

Langkah Deteksi Mandiri untuk Segala Usia dan Gender

Mencermati fenomena usia penderita yang semakin muda, kepedulian terhadap kondisi fisik wajib dipupuk sedini mungkin supaya penanganan dari tim medis tidak terlambat. 

Upaya pencegahan paling awal dan praktis yang dapat langsung diterapkan di rumah ialah membiasakan prosedur Periksa Payudara Sendiri (SADARI).

Kendati tergolong sederhana, prosedur pemeriksaan mandiri ini memiliki panduan kurun waktu khusus yang mesti ditaati demi memperoleh hasil akurat, utamanya bagi perempuan yang masih berada dalam siklus reproduksi aktif.

"SADARI untuk para wanita itu lakukan sebulan sekali. Di hari ketujuh sampai hari kesepuluh dari menstruasi hari pertama," kata Anita.

"Jadi, seandainya kami menstruasi hari pertamanya tanggal 1, itu di antara tanggal 7 dan tanggal 10 kami bisa melakukan SADARI," tambah dia.

Metode pemeriksaan ini tidak sekadar ditujukan untuk kaum perempuan yang masih rutin mengalami haid, namun berlaku pula bagi mereka yang sudah menopause. Bagi kelompok tersebut, pemeriksaan tetap wajib dirutinkan menggunakan teknik pengingat yang disesuaikan dengan aktivitas harian.

"Untuk wanita yang sudah menopause, kami tetap lakukan satu bulan sekali. Karena tidak menstruasi, pilih satu tanggal yang selalu kami ingat, seperti misalnya tanggal ulang tahun atau tanggal gajian," ucap Anita.

Di samping menjangkau berbagai tingkatan usia perempuan, langkah perabaan ini juga disarankan untuk kaum pria. Pasalnya, terdapat kasus nyata seorang pria di Surabaya yang diketahui oleh Anita. 

Pria itu mesti menjalani prosedur pembedahan pengangkatan payudara secara menyeluruh beserta kemoterapi lantaran mengacuhkan gejala yang tidak wajar pada tubuhnya hingga berlanjut ke tahap stadium lanjut.

Genetik, Pola Hidup, dan Penanganan Medis Presisi

Mengenai munculnya cikal bakal penyakit berbahaya ini pada usia muda, para ahli kesehatan menyoroti adanya keterkaitan pemicu antara faktor keturunan dan kebiasaan hidup sehari-hari. 

Walaupun seseorang memiliki gen bawaan risiko kanker dari keluarga, paparan lingkungan serta gaya hidup memegang peranan krusial dalam mengaktifkan sel tersebut.

"Kami harus tahu bedakan dua faktor. Pertama faktor genetik yang tidak bisa diubah. Yang lainnya faktor lingkungan atau faktor yang dia perbuat, misalnya pola hidup, merokok atau enggak merokok," papar Direktur Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Fiktorius Kuludong, MM.

Bilamana benjolan berhasil terdeteksi sejak stadium sangat awal, dunia medis saat ini telah menyediakan bermacam opsi tindakan penyelamatan yang jauh lebih nyaman bagi penderita.

Pilihan pengobatannya tak lagi sekadar metode konvensional layaknya masa lalu yang selalu berujung pada pembedahan fisik payudara secara drastis. 

Penanganan tumor ganas kini mengalami kemajuan pesat, sehingga pemeliharaan bentuk fisik pasien menjadi prioritas utama ketimbang langsung menempuh prosedur bedah radikal.

"Dengan perkembangan ilmu terbaru dan teknik bedah terbaru, kami lebih sering melakukan terapi sistemik dahulu sebelum pembedahan," jelas Spesialis penyakit dalam konsultan hematologi-onkologi medik Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Martha Iskandar, Sp.PD, KHOM, FINASIM.

"Sehingga, sebagian besar pasien dapat mempertahankan payudaranya, juga menghindari pembedahan kelenjar di ketiak secara luas," imbuh dr. Martha.

Selain pengobatan sistemik, remaja maupun penderita usia produktif yang terdiagnosis kanker bakal langsung ditangani secara terpadu melalui ruang diskusi multidisiplin. 

Evaluasi menyeluruh ini ditujukan untuk merancang tahapan penyembuhan paling efektif tanpa mengorbankan masa depan dan produktivitas penderita.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index